
Sepulangnya Lydia, Mama Kemala dan Hafis. Dokter Rudy kembali mengunjungi ruangan Mahen. Hanya ingin berpamitan saja sebab dua hari ke depan dirinya libur, tidak bertugas. Tapi nanti akan ada Dokter pengganti yang akan tetap mengawasi dan memonitor apa yang dilakukan Mahen nantinya.
" Saya akan merasa senang sekali jika Anda mau berbicara dengan Saya. Mengeluarkan semua yang Anda pendam dan simpan selama ini." Dokter Rudy menanggalkan profesi dan jabatannya. Yang ada sekarang hanya seorang manusia yang sedang berusaha membantu manusia lainnya dari tekanan hidup dan keterpurukan.
" Saya sudah mendengar kenapa Anda bisa berada di sini sekarang?. Dan apa penyebab yang melatarbelakangi Anda sampai begini?. Bukan tanpa sebab mereka mengupayakan semua untuk kesembuhan Anda. Karena mereka sangat menyayangi Anda, mempercayai Anda akan kasih sayang yang Anda miliki untuk mereka semua. Mereka sangat berharap sekali Anda bisa pulih dalam waktu dekat." Dokter Rudy melihat Mahen mendengar dan menyimak apa yang sedang diucapkan sekarang.
" Bukan kah sebagai umat beragama kita memiliki Tuhan yang kita percayai?. Kita percaya segala sesuatu yang terjadi pada hidup kita , itu semua sudah menjadi kehendak-Nya. Yang namanya jodoh, mati, hidup semua sudah ada yang mengatur. Kita hanya tinggal menerima ketetapan dari-Nya saja. Saya yakin Anda orang yang cerdas, insting yang kuat dan hati yang baik. Sehingga Anda masih dikelilingi oleh orang yang sangat menyayangi Anda. Terlebih kedua orang tua dan Istri Anda." Respon yang baik pun diperlihatkan oleh Mahen, ia meneteskan air mata yang kini sudah membasahi wajah kusam tak terurus. Namun masih belum bersuara saja.
" Jika Anda mau, kita bisa kapan aja datang berziarah pada mereka yang sangat Anda sayangi. Berusaha melepaskan sesuatu yang memang kita sayangi sangat memang tidak terasa mudah. Tapi Anda percayalah itu jauh lebih baik untuk membahagiakan hidup Anda dan mereka di sana." Pungkas Dokter Rudy.
Entah kenapa sore ini Dokter Rudy menjadi lebih dewasa dan bijak untuk seorang pasien yang ingin disembuhkannya. Kepercayaan dari sang Kakak yang menjadi motivasi dirinya untuk membantu menyembuhkan pasiennya. Yang menurutnya pasiennya saat ini hanya perlu bicara dan di dengar. Bukan diobati dengan obat-obatan seperti seorang pesakitan.
" Baiklah, hanya itu saja yang ingin saya sampaikan pada Anda. Saya harap setelah saya libur dua hari, Anda mau berbicara dengan saya dan mulai melepaskan beban dalam hati dan pikiran Anda." Doktor Rudy bangkit dan diam berdiri selama beberapa menit. Ia melihat Mahen berusaha menghapus air matanya yang tidak mau berhenti.
Dokter Rudy sudah berjalan beberapa langkah mendekat ke arah pintu. Hendak keluar dari ruangan Mahen.
" Insting seorang suami dan seorang Ayah mengatakan jika istri dan anak ku masih hidup. Mereka lebih memilih hidup jauh dari ku dari pada mereka harus hidup menderita lagi." Ucap Mahen mengangkat kepala, memperlihatkan wajah sendu dengan sisa-sisa jejak air mata.
__ADS_1
Dokter Rudy masih membelakangi Mahen dengan senyum tipis yang mengembang pada kedua sudut bibirnya.
Kini Dokter Rudy berbalik badan dan sekarang berhadapan dengan Mahen.
" Sehat kan lah tubuh dan pikiran Anda untuk sebuah insting yang memang Anda yakini!. Cari mereka sampai ke ujung dunia sekali pun, untuk menghabiskan rasa penasaran Anda. Jika memang mereka sudah di garis kan dalam takdir Anda, maka Anda akan bertemu lagi dengan mereka walau bagaimana pun keadaanya nanti." Nasihat yang begitu terdengar berharga bagi Mahen. Sudah lama ia tidak bicara dari hati ke hati dengan orang lain. Sebab ia begitu rapat menutup hati dan pikirannya dari nasihat-nasihat yang sebenarnya sangat ia butuhkan.
" Baiklah aku akan sembuh untuk mereka dan melanjutkan pencarian ku. Aku butuh waktu kurang dari dua bulan untuk bangkit, menata hati dan pikiran ku. Dan tolong jangan pernah biarkan keluarga ku datang dan bicara dengan ku sementara waktu." Ucap Mahen penuh semangat baru.
" Baik saya akan mengusahakannya untuk Anda. Saya berterima kasih sekali karena Anda mau untuk sembuh dan kembali bersemangat untuk mencari mereka yang masih Anda percayai keberadaannya." Dokter Rudy mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Namun Mahen menolaknya dengan alasan tangan nya kotor. Yang sebenarnya tidak masalah bagi Dokter Rudy, tapi Dokter Rudy tidak mempermasalahkan itu. Dan pun keluar dari ruangan Mahen dengan harapan yang besar akan kemudahan yang sudah didapatnya hari ini.
Betapa banyak kalimat penyemangat yang sudah didengarnya hari ini dari orang yang usianya masih di bawah nya. Tapi sudah memiliki wawasan dan pandangan hidup yang luar biasa baik dan bagus. Walau masih muda Dokter Rudy sangat bisa mengelola dan mempermainkan emosi seseorang.
.
.
" Kak Sarah tidak jadi ambil kursus tambahan. Kakak lagi kangen aja sama Ibu dan Bapak." Sarah menatap Ratih dari cermin yang berada tepat didepannya.
__ADS_1
Ratih menempelkan dagu pada pundak Sarah sembari mengelus pundak sang Kakak.
" Kakak belum mau ke makam Ibu dan Bapak?. Ini sudah lama Kak, kita belum pernah sekali pun berziarah ke makam mereka."
" Sebenarnya Kakak sangat ingin, tapi Kakak belum ingin dan siap untuk bertemu dengan mereka lagi?. Terlalu sangat menyesakkan dada kalau Kakak mengingat hal itu." Jawab Sarah sambil mengelus rambut kepala Ratih.
Setelah kejadian naas itu Sarah belum pernah sekali pun menginjakkan kaki di makan kedua orang tuanya yang lebih dulu meninggalkan mereka. Ibu dan Bapak tidak bisa ia selamatkan dari kecelakaan itu, andai saja dirinya pun ikut meninggal dalam kecelakaan itu mungkin saat ini mereka masih bersama.
Tapi siapa yang akan menjaga Doni dan Ratih jika ia ikut meninggal?, bagaimana dengan Syifa? dan bagaimana dengan anak nya kala itu tetap baik-baik saja walau dalam keadaan genting seperti itu?.
Sekarang mau tidak mau ia harus melanjutkan perjuangannya untuk mereka semua.
" Abang Mahen? " Satu pria yang begitu sangat mencintainya. Tapi sangat memberikan luka terdalam untuk hidup nya.
Sandra merupakan bukti nyata Mahen masih ada dalam hidup nya Sarah. Walau berdasarkan surat kontrak yang mereka sepakati, pernikahan mereka berakhir hampir satu tahun yang lalu.
" Dokter Rudy bagaimana?, seperti nya Dokter Rudy sangat suka sama Kak Sarah?." Goda Ratih mencubit gemas pipi sang Kakak.
__ADS_1
" Kenapa Kak Sarah tidak mencoba membuka hati dan melanjutkan hidup Kak Sarah?. Sandra juga seperti sudah sangat dekat dengan Dokter Rudy?." Lanjut Ratih.