
Pembicaraan antara dirinya dengan Ibu Riska beberapa hari lalu nyatanya masih teringat jelas dalam memorinya. Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan dan diharapkan oleh Ibu Riska dari dirinya. Semua demi kebaikan Sandra, tapi statusnya saat ini masih menjadi istri dari Mahen. Dan apa iya dirinya sudah melupakan Mahen dan siap membuka lembaran baru dengan pria lain lagi?. Kegagalan rumah tangga yang sudah dilewatinya nyatanya tidak lantas membuat Sarah menutup dirinya begitu saja. Terus apa yang harus dilakukannya sekarang?.
Di ruang tengah, Ibu Riska dan Rudy sedang bermain dengan Sandra. Yang setiap hari selalu tambah pintar dan menggemaskan, ada saja kelakuan lucu nya yang mampu memancing gelak tawa orang satu rumah.
" Sarah dimana Kak?." Dari tadi Rudy tidak melihat Sarah.
" Paling di kamarnya. Tadi lagi siap-siap untuk ke tempat kursusnya. Katanya hari ini ada pengumuman lowongan pekerjaan yang bisa Sarah dapatkan kalau beruntung. Sebab harus bersaing dengan teman-teman kursusnya." Jawab Ibu Riska.
" Memang Sarah enggak mau Kak kerja bareng aku di rumah sakit?. Kan aku udah bilang ikut aku aja, di situ memang sedang ada lowongan." Rudy sedikit kecewa karena rasanya tidak ingin membiarkan Sarah jauh dari dirinya.
" Kalau untuk urusan pekerjaan biarkan Sarah memilihnya sendiri. Kita jangan terlalu ikut campur. Mungkin sudah banyak hal yang dipikirkan Sarah, jadi kita percayakan semuanya pada Sarah." Ibu Riska berusaha mengerti posisi Sarah sekarang. Apalagi Ibu Riska tahu jika Sarah tidak ingin terus menerus merepotkan dirinya dan Rudy.
Bukan dirinya tidak ingin membantu mendekatkan Rudy dengan Sarah, tapi dirinya cukup tahu diri tidak ingin memaksa Sarah untuk menerima adik nya. Perjuangan Sarah yang tidak pernah mudah untuk mendapatkan kebahagiaan mungkin menjadi pertimbangan tersendiri bagi Sarah untuk sementara menjauh dari para pria.
Pandangan mata Sarah Rudy saling bersirobok saat Sarah keluar dari kamar dan berjalan menghampiri keduanya. Senyum selalu terukir pada wajah cantik Sarah hingga mampu membuat Rudy tidak bisa berpaling.
" Ibu Riska, nitip Sandra ya. Mungkin hari ini aku pulangnya telat." Sarah selalu menitipkan Sandra setiap kali ia ada keperluan untuk kursusnya.
" Iya kamu tenang saja Sarah. Kamu fokus saja di sana, mudah-mudahan kamu dapat tempat kerja di rumah sakit yang bagus." Ibu Riska selalu menjadi orang terdepan untuk apa pun kebutuhan Sarah.
" Terima kasih Ibu Riska sudah selalu memberi ku dukungan." Sarah memeluk Ibu Riska dengan erat dan mendapatkan senyum yang tulus dari orang yang dipeluknya.
Bukan hanya Sarah saja yang bersiap untuk pergi keluar melainkan Rudy juga sudah siap dengan kunci mobil ditangannya.
" Ayo aku akan mengantar mu!." Rudy berjalan mendahului Sarah. Sarah menetap Ibu Riska yang sudah menggendong Sandra dan mereka mendekati dirinya.
" Pergilah!. Nanti kamu telat, mungkin ada yang ingin dibicarakan Rudy." Ibu Riska menepuk pelan pundak Sarah. Dan si kecil Sandra menarik rambut Sarah dengan tangan mungilnya.
__ADS_1
" Sayang Mama kursus dulu ya, Sandra sama Ibu Riska. Nanti ada Kak Ratih dan Kak Doni." Ucap Sarah sebelum masuk ke dalam mobil dan memberikan ciuman pada kedua pipi Sandra.
.
.
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di kantor lama namun wajah baru bagi Mahen. Bukan ia tidak melanjutkan pencarian nya kembali. Hanya saja saat ini lebih baik ia kembali fokus untuk pekerjaannya.
Hubungan pertemanan nya dengan Dokter Rudy pun berjalan baik walau hanya melalui ponsel saja saat ini. Namun mereka cukup intens walau hanya sekedar bertegur sapa.
Seperti saat ini, baru saja Mahen mematikan ponsel nya saat Rendy masuk ke dalam ruang kerja dan menyerahkan beberapa berkas yang harus ditandatangi oleh Mahen.
" Pak nanti siang ada pertemuan dengan Pak Arifin. Tapi Pak Arifin minta bertemu di rumah sakit karena Pak Arifin tidak bisa meninggalkan orang tua nya sendiri." Jelas Rendy. Kaki tangan Mahen saat ini bertambah satu yaitu Rendy. Karena untuk menghandle selama Erik menikah nanti.
Pak Arifin merupakan orang pertama yang kembali menanam modal nya pada perusahaan otomotif Mahen yang di bangun susah payah oleh Erik dan Rendy. Pak Arifin juga sangat loyal dan setia sejauh ini pada perusahaan Mahen.
Pada dasar nya Rendy memang orang baik dan bisa dipercaya, hanya saja rasa cinta dan sayang nya pada Sari yang berlebihan jadi mau tidak mau menuruti apa yang menjadi keinginan Sari walau menyesatkan saat itu. Tapi sekarang semuanya sudah berubah kembali. Hingga Mahen cukup tenang saat Rendy membantu Erik untuk memulihkan perusahannya.
" Kau tahu kan?. Nanti saat Erik menikah kau yang akan menghandle semua pekerjaan di sini." Mahen mengingatkannya lagi. Sebab kurang dari dua Minggu Erik akan segera melangsungkan pernikahan nya bersama Evi. Pastinya Erik akan cuti untuk beberapa lama, sehingga dari sekarang Erik sudah mempersiapkan Rendy yang akan membantu Mahen.
" Iya Pak Mahen saya tahu, Erik sedang menyusun semua pekerjaan sebelum ia cuti panjang." Jawab Rendy. Sungguh ia sangat menyesal dulu sudah mau ikut terseret untuk menyakiti Sarah. Untung saja dirinya dan Sari cepat menyadari kesalahannya sampai mereka rela mengabdi pada perusahaan Mahen sebagai penebus rasa bersalah. Namun sampai sekarang Sari belum berani menampakkan wajah nya di depan Mahen.
Rendy keluar dengan membawa tumpukkan berkas yang sudah selesai ditandatangi oleh Mahen. Kembali melanjutkan pekerjaan sebelum makan siang dan mengingatkan kembali Mahen akan pertemuannya nanti.
Usai menyiapkan apa yang akan dibawa dalam pertemuannya perdana mereka, sekilas membaca laporan yang sudah di susun oleh Erik dan Rendy. Rencana kerja perusahan dalam jangka pendek dan panjang.
" Maaf Abang belum bisa menemukan mu sampai saat ini. Maaf Abang yang lebih mementingkan pekerjaan dibandingkan kalian berdua. Andai saja dulu Abang mengikuti kata hati Abang untuk tidak pergi meninggalkan kalian, kejadian ini tidak akan pernah terjadi." Sesal terbesar Mahen.
__ADS_1
Dimana sekarang seharusnya mereka bisa hidup bahagia dan berkumpul bersama-sama, tapi rupanya bayangan-bayangan perpisahan masih saja mengikutinya dan belum mau untuk pergi dari hidupnya. Sampai kapan pun Mahen tidak akan pernah menerima jika Sarah dan calon anak mereka sudah meninggal. Mahen akan berjuang dan menanti untuk keyakinan dan insting yang dimiliki untuk keduanya. Sekarang ia hanya perlu fokus pada perusahaan saja sebagai bentuk rasa terima kasih terhadap kerja keras, pengorbanan waktu dan segala yang telah tercurah dari Erik dan Rendy terhadap perusahaan nya.
.
.
Sampai di rumah sakit, Mahen langsung saja mengetuk pintu ruangan yang diyakini di huni oleh Pak Arifin, kliennya. Dengan satu buah parcel yang berisi buah-buahan segar yang memiliki kualitas super. Dan benar saja Pak Arifin yang membuka langsung pintu nya.
" Selamat siang Pak Mahen " Sapa Pak Arifin ramah dan mengulurkan tangan.
" Selamat siang Pak Arifin " Balas Mahen dengan menjabat tangan Pak Arifin. Memberikan buah tangan yang sempat dibelinya sebelum menuju ke sini.
" Terima kasih banyak Pak Mahen."
Kini mereka sudah duduk di sofa yang ada di dalam ruangan tersebut dan mulai membicarakan points penting pertemuan mereka hingga sore hari.
" Maaf kalau saya mengajak bertemu Pak Mahen di rumah sakit. Mungkin Asisten Pak Mahen sudah menjelaskan alasannya."
" Iya Pak Arifin tidak masalah. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk menerima kunjungan saya."
" Ifin " Terdengar pelan suara wanita paruh baya dari atas brankar.
" Iya Mi " Pak Arifin langsung menghampiri wanita paruh baya itu dengan meraih tangan dan berulang kali dikecupnya.
" Umi mau apa?, apa yang sakit sekarang?, apa ada yang mau Umi makan?." Pak Arifin masih setia dengan tangan tua yang selalu digenggamnya.
Melihat interaksi itu hati Mahen begitu terenyuh sambil memegang dadanya, "Mama, Papa."
__ADS_1