
Setelah berunding dengan Ibu Riska serta mendapatkan dukungan nya, hari ini Sarah kembali ke Ibu Kota menempati salah satu rumah yang disiapkan oleh si pemakai jasa. Hanya diri nya dan Sandra, sementara untuk Doni dan Ratih masih tinggal bersama Ibu Riska dan Dokter Rudy.
Tidak banyak yang dibawanya, hanya beberapa potong pakaian dan kebutuhan dirinya bersama Sandra.
Mobil Ibu Riska memasuki pekarangan rumah yang cukup bersih dan terawat. Si kecil Sandra tertidur pulas hingga Sarah harus menggendongnya masuk ke dalam rumah dan menidurkannya di atas kursi panjang di ruang depan.
" Tidak bisa dipungkiri untuk menghindari supaya tidak bisa bertemu dengan mereka ya bekerja seperti ini di dalam rumah. Kamu bisa membawa Sandra, hunian yang bisa menampung mu dan gaji yang sangat besar untuk masa depan kalian." Ibu Riska melihat isi rumah yang memang kecil namun cukup nyaman jika tinggali Sarah dan Sandra.
" Iya makan nya aku sudah sangat memikirkan hal ini matang-matang. Dan maaf kalau aku harus mengecewakan Dokter Rudy." Bagaimana pun Sarah belum ada komunikasi lagi dengan Dokter Rudy setelah penolakkannya. Sampai Sarah tidak diberikan kesempatan untuk berpamitan.
" Iya Sarah. Ini hanya masalah waktu saja. Aku yakin nanti juga Rudy baik dengan sendirinya. Sekarang kamu fokus saja bekerja, nanti kalau ada apa-apa kamu hubungi aku aja." Perhatian yang diberikan Ibu Riska sangat menyentuh hatinya. Sarah seperti memiliki seorang Kakak yang bisa dijadikannya sebagai pengganti kedua orang tuanya.
" Sore aku harus sudah balik, sekarang apa yang harus kita beli?." Ibu Riska mengecek isi kulkas dan ternyata sudah lengkap. Perabotan dapur sudah tersusun rapi di tempat nya, jadi Ibu Riska dan Sarah tidak perlu keluar lagi untuk berbelanja.
Ibu Riska memindahkan Sandra ke dalam kamar yang nantinya akan menjadi kamar Sandra dan Sarah. Mereka berbaring berselebahan sambil menunggu Sarah yang sedang memasak untuk makan mereka.
.
.
Sementara di dalam rumah yang berukuran lebih besar dari rumah belakang yang di tempati Sarah. Seorang wanita paruh baya sudah duduk di atas kursi roda atas bantuan sang putra tercinta. Membawanya untuk sekedar berkeliling di taman depan, melihat bunga-bunga yang mulai bermekaran. Dan kini mereka berhenti pada sebuah Gazebo dekat kolam renang.
" Perawat untuk membantu Umi sudah datang belum, Ifin?." Umi menatap kosong ke depan. Ada banyak hal yang selalu dipikirkan, salah satu nya putra nya itu yang rela untuk tidak berumah tangga hanya supaya bisa mengurusi dirinya yang menjadi pesakitan.
" Sudah Mi, mungkin sekarang sedang beres-beres di rumah belakang."
" Kenapa perawat itu tidak menemui kita dulu?." Umi menatap sang putra yang duduk disampingnya.
" Aku yang memintanya Mi, besok saja saat kita sarapan memintanya untuk menemui kita." Jawab Ifin meraih tangan Umi dan menciumnya takzim.
.
__ADS_1
.
Sudah beberapa hari ini Mahen tinggal di rumah Pradivya. Menempati kamar tamu dimana kenangan dirinya bersama Sarah. Konflik yang Hafis ciptakan untuk dirinya masih ia tahan dan mencoba berdamai dengan apa yang ada di dalam rumah ini. Namun tetap ia menyebarkan beberapa orang intel yang dulu dipakainya untuk kasus yang sama, yaitu menemukan Sarah.
" Kamu mau ke kantor?." Mama Kemala membantu menyiapkan sarapan untuk Papa Darwin.
" Iya Ma. aku ada meeting hari ini, mungkin aku pulang malam." Sahut Mahen sambil melihat ponsel yang mendapatkan notifikasi email masuk.
" Aku harus berangkat sekarang Ma. Aku sarapan di kantor aja." Mahen mencium tangan kedua orang tuanya dengan takzim sebelum keluar dari rumah.
.
.
Sampai di kantor Mahen langsung menemui beberapa klien di ruang meeting. Di sana sudah ada Erik dan Rendy.
" Kami mendapatkan informasi dan rekomndasi dari Pak Arifin tentang perusahaan Pak Mahen ini. Dan kami cukup tertarik untuk bergabung dan menanamkan modal pada perusahaan yang Pak Mahen pimpin." Ucap dari salah satu ke lima orang Investor baru bagi Mahen.
Mahen sulit mempercayai keberuntungannya hari ini. Dirinya tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan baik yang datang saat ini. Ia harus kembali bekerja keras untuk membangun kembali semua kerajaan bisnisnya dari Nol.
Sebuah kesepakatan telah berhasil dibuat kedua belah pihak dengan keuntungan yang sama-sama besar dan secara transparan.
Usai meeting dan para investor meninggalkan kantor Mahen. Kini Erik menghubungi langsung Pak Arifin untuk mengucapkan terima kasih.
" Nanti Pak Arifin telepon balik Bos, Pak Arifin lagi menemani Umi nya berkeliling taman." Terang Erik pada Mahen yang baru keluar dari kamar mandi dan mengambil posisi duduk di kursi nya.
" Iya Rik terima kasih."
" Kau besok sudah mulai cuti ya?. Apa yang bisa aku bantu untuk kau dan Evi?. Katakan saja jangan sungkan."
" Tidak ada lagi Pak Bos. Semuanya sudah selesai, terima kasih banyak sudah sangat membantu kami." Ucap Erik tulus.
__ADS_1
" Sama-sama. Kau boleh pulang sekarang!. Besok aku akan datang langsung ke rumah Evi." Tegas Mahen.
" Terima kasih banyak Pak Bos." Erik sudah tidak bisa menahan harunya sampai ia langsung memeluk Mahen tanpa bilang terlebih dulu. Namun Mahen menerimanya dengan baik, membalas pelukan Mahen.
.
.
Keesokannya paginya, Sarah dan Sandra sudah siap untuk datang ke rumah utama yang meruapakan rumah yang mempekerjakannya. Perut sudah teisi, pakaian sudah rapi dan wangi. Wajah yang di poles tipis make up ala kadar nya.
" Selamat pagi " Sapa Sarah pada sekelompok orang yang memakai seragam lengkap.
" Selamat pagi " Balas mereka serempak.
" Umi dan Pak Ifin sudah menunggu kedatangan Mbak Sarah di dalam. Langusng saja ke meja makan, mereka lagi sarapan." Ucap salah satu dari mereka yang mengetahui profil Sarah yang akan bekerja di rumah ini seperti mereka.
" Saya tunggu di sini saja kalau mereka lagi sarapan. Tidak enak menggangguk Tuan rumah lagi makan." Tolak Sarah sungkan.
" Tidak Mbak Sarah silakan masuk!. Umi dan Pak Ifin yang memintanya." Karena menjalankan tugas mau tidak mau ia agak sedikit memaksa Sarah untuk masuk dan menemui kedua orang yang sangat baik dan mulia hatinya bagi mereka yang sudah lama ikut bekerja dengan mereka.
Sarah menuntun Sandra yang memang anaknya anteng dan tidak rewel kalau di tempat baru, sangat bisa menyesuikan. Dan sangat membuat Sarah nyaman dan bisa berada dimana pun.
" Assalamualikum, Ibu... Pak...,maaf saya sudah lancang mengganggu waktu sarapan Ibu dan Bapak." Sarah menyapa kedua orang yang satu pria menghadapnya dan yang satu wanita yang duduk di kursi roda membelakanginya.
" Waalaikumsalam " Jawab Umi dan Pak Ifin bersamaan.
Umi menoleh pada asal suara, yang ternyata mata dan hatinya langsung jatuh hati dengan penampilan ragawi Sarah dan juga buah hatinya.
" Kemarilah Mbak perawat!." Umi menunjuk kursi dan meminta Sarah untuk duduk di samping nya.
Namun itu tidak dilakukan Sarah sebab ia merasa akan tidak sopan bila seperti itu. Akhirnya Sandra lah yang duduk di atas kursi sedangkan dirinya berdiri tepat di belakang Sandra.
__ADS_1
" Pertama jangan panggil saya Ibu, panggil Umi saja supaya sama dengan yang lain. Kedua, Itu putra Umi namanya Arifin Kusuma Brata. Oh iya dan Umi, Umi Fitri."
" Salam kenal Umi Fitri dan Pak Arifin. Saya Sarah dan ini putri saya Sandra."