
Hari sudah siang Dinda dan Dimas memutuskan untuk kembali ke kota. Dinda mencium tangan kanan ayah ibunya. Dimaspun mengikuti Dinda.
Dimas melaju dengan cepat.
"Din ..... tempat tadi milik kamu ya."
"Yang mana pak."
"Yang tadi ...
"Bukan pak."
"Tapi kata orang tadi milik tante rosa."
"Iya pak..... milik ibuk tapi bukan milik saya."
"Bisa aja kamu Din. Menurutku usaha ibu kamu bagus lho. Tapi aku heran kenapa kamu jauh jauh ke kota cari perkerjaan."
"Kan saya sudah bilang itu milik ibuk."
"Terserah kamu Din." Dimas tidak ingin melajutkan perkataannya. Karena jawaban Dinda akan berakhir seperti itu.
.....
.....
Pagi di kantor
"Dinda kamu sudah makan." Tanya Adam.
"Belum pak." Mulut ini tidak bisa berbohong. Harusnya aku bilang sudah makan.
"Kamu makan dulu di kantin."
__ADS_1
"Emang saya kelihatan kalo belum makan ya pak."
Pak Adam tidak menyahuti.
"Eh itu ada bingkisan untuk kamu." Adam menunjuk ke arah meja Dinda.
Dinda dan Adam berkerja di ruangan yang sama. Karena Dinda suka lambat bekerja jika berada di ruangan yang berbeda dengan bos nya. Atau bosnya itu ingin semuanya cepat selesai dalam sekejap.
"Apaan ini pak."
Pak Adam selalu diam jika Dinda bertanya balik. Seakan pertanyaan Dinda tidak berguna.
"Ini untuk Dinda pak." Dinda melihat isi bingkisan itu. Beberapa setel baju dan sepatu. Harganyapun lumayan mahal untuk Dinda.
"Dinda tidak mau menerimanya."
"Kenapa.!! Kamu mau menolak permintaanku." Jawab Adam.
"Kalo kamu diam juga ngak ada yang tahu."
"Maksud bapak."
"Kamu pikir aku menyukaimu. Bercanda kamu Din. Aku Ini pantas jadi bapak kamu. Aku cuma ngak suka dengan gaya pakaian kamu."
"Tapi pak..... ini Dinda sendiri yang desain. Ini namanya fashion." Balas Dinda.
"Kamu pikir ini perusahaan milik bapak kamu. Berpakaian seenaknya. Ini bukan catwalk..."
Dinda tidak berani melawan bosnya.
"Udah kamu pergi makan dulu." Perintah bosnya.
Dinda tidak habis pikir dengan kelakuan bosnya. Terkadang baik terkadang menyulitkan Dinda. Seperti saat ini, Dinda di tawarin makan setelah itu memaksakan Dinda untuk memakai pakaian untuk para perempuan yang berparas lembut. Ini seperti pelangaran hak asasi manusia. Dinda menggerutu sendirian.
__ADS_1
Dinda berjalan menuju kantin. Disaat seperti ini kantin benar benar sepi.
"Wuihhh enak bener kamu ya. Di saat semua karyawan sedang sibuk bekerja sementara kamu enak enakan makan di sini."
"Pak Dimas sendiri ngapain di sini."
"Ini gara gara kamu."
"Koq bisa saya yang di salahkan." Dinda tidak ingin kalah.
"Iya gara gara nganterin kamu. Aku ngak bisa tidur puas, apalagi kamu ngelindur."
"Itu alasan pak Dimas aja. Saya di bawa bawa."
Dimas menyeruput kopi hitam dan menatap Dinda saat menghabiskan makanan.
Kalo Dimas seenaknya bekerja memang sudah wajar. Karena dia keponakan Adam. Tapi kalo Dinda siapa dia???
"Dinda jangan jangan om Adam menyukaimu." Dimas mengajukan pertanyaan yang menurut Dinda tidak pantas.
"Pak Dimas ingin di pecat pak Adam. Sembarang kalo bicara."
"Ehh di bilangin ngak percaya. Buktinya dia perhatian sama kamu."
"Masa' sih." Dinda ikut terhasut oleh ucapan Dimas. Dinda juga tidak bisa menolak, apalagi hadiah yang di berikan tadi pagi.
"Tuh kan kamu juga mikir."
"Pak Dimas itu kebanyakan nonton film. Jadi pemikirannya dramatis. Bukannya Pak Adam baik kepada semua orang."
.....
.....m
__ADS_1