
Hari ini Dinda berumur dua puluh tahun. Gadis kecilku sekarang tumbuh dewasa. Dinda gadis yang ceria. Wajahnya cantik mempesona.
Tingginya melebihi ibunya meski kulitnya tidak begitu putih. Tapi dia sangat cerdas menurutku.
Dinda sudah lama mengurus usaha usahaku. Pokoknya bidang berdagang dia sudah menguasainya.
Fashion Dinda tidak tomboy namun tidak juga kemayu. Dia sering mendesain baju atau asesoris yang dia pakai.
"Dinda ini maunya apa sih. Disuruh kuliah ngak mau. Atau jangan jangan ingin nikah." Ledekku.
"Mubazir buk uangnya buat kuliah. Mending di buat usaha."
"Koq mubazir sih. Kuliah itu bikin kamu pinter. Bukan buat kaya."
"Makanya itu buk. Mending aku buat usaha."
"Kamu itu di bilangin koq jawab terus."
"Itu atas didikan ibuk. Menjadikan aku anak yang cerdas."
Dinda selalu membantahku dengan argumen yang logis. Dinda ini seperti aku selalu menggunakan nalarnya sendiri dari pada pendapat orang lain.
"Buk Dinda ingin kerja ."
"Selama ini kan udah kerja. Bantu ibuk."
"Tapi Dinda ingin punya pengalaman."
__ADS_1
"Emang cari pekerjaan gampang. Dirumah aja bantu bantu ibuk." Sahut mas Gilang.
"Iya buk !! boleh ya." Pinta Dinda dengan rendah hati.
"Tanya ayah. "
"Yah boleh ya." Rengek Dinda. Meski Dinda sudah dewasa tapi dia seperti anak kecil.
Sejak Devan hilang kami hanya hidup bertiga. Aku, Dinda dan Mas Gilang.
Mereka sangat kehilangan Devan . Apalagi mas Gilang sangat menginginkan anak laki laki.
Tapi aku bisa berbuat apa. Jika mas Adam menginginkan Devan bersamanya. Dari pada mertua mas Adam menyakiti keluargaku. Aku harus memilih antara Devan atau Dinda yang di sampingku.
Jika Devan bersama mas Adam, Devan akan aman. Karena mertua mas Adam tidak bisa menyakitinya.
Tuh kan mas Adam sangat kejam. Bagaimana tidak!! dia selalu membuatku terpesona dengan rayuannya.
Selama menikah dengan mas Gilang, dia tidak pernah mengucapkan cinta padaku. Aku tahu dia sangat mencintaiku. Tidak perlu kata kata manis. Mas Gilang cukup manis bagiku....
Karena aku adalah wanita satu satunya yang dicintai. Aku tidak pernah resah dan gelisah dengan suamiku.
Tidak seperti mas Adam yang tidak cukup dengan satu cinta saja. Dia tidak bisa memilih antara aku dan Istrinya.
Itu sebabnya meski aku sangat mencintai mas Adam. Aku tidak memilih untuk hidup dengannya. Karena di dua kan itu rasanya sakit.
Padahal aku sendiri telah mendua kan suamiku.
__ADS_1
Mas Gilang meski orang yang temperamen tapi dia tidak akan pernah membiarkan orang untuk menyakiti aku. Jika ada orang yang menghina aku, dia selalu berada di garda terdepan melindungi aku. Kadang kadang membuat keributan di muka umum hanya untuk membela ku.
Bukannya pembelaan yang aku dapat tapi rasa malu karena di lihat banyak orang.
Ahhh
"Yah boleh ya Dinda kerja." Dinda memeluk ayahnya dari belakang.
Mas Gilang selalu tidak bisa menolak keinginan putrinya.
"Mau kerja di mana sih. Kamu cuma lulusan SMA, paling paling juga jadi buruh pabrik."
"Ini bukan di pabrik yah. Tapi di kantor. Dinda yakin koq bisa lolos."
"Disini mana ada kantor." Jelas mas Gilang.
"Ada di kota."
Haaa
Aku dan mas Gilang melongo karena kaget. Anakku yang tidak pernah jauh dariku. Sekarang ingin pergi ke kota sendirian.
Meski jarak dari kota ke tempatku hanya dua jam. Menurutku itu sangat jauh.
....
.....
__ADS_1
.....