Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 105


__ADS_3

Hafis begitu syok melihat Sarah dan Sandra yang berada di dekat Mahen. Ada banyak kerinduan dan cinta yang terpancar dari Hafis untuk istri nya. Namun saat ini, itu tidak terlalu penting sebelum masalah dengan kedua orang tuanya selesai. Semua diluar rencana Mahen, padahal sebelumnya Mahen sudah meminta Hafis untuk bergantian menjaga Papa Darwin. Ini malah Hafis masih berada disini bersama mereka saat ini.


Hafis begitu tidak percaya dengan apa yang sudah dikatakan oleh Mahen dan Papa Darwin tentang apa saja yang sudah dilakukan Mama Kemala. Karena ada beberapa kejadian yang dirinya pun ikut andil didalamnya. Tapi tidak sejauh itu dengan sampai harus menghilangkan nyawa orang lain apa lagi itu orang tua dari wanita yang sampai saat ini masih sangat dicintainya.


"Bawa Sarah kesini Mahen!. Papa ingin segera meminta maaf padanya." Papa Darwin tidak mempedulikan lagi Hafis yang masih berkutat dengan rasa tidak percayanya. Ia sudah membetulkan posisi duduk nya untuk menyambut kedatangan cucu menantu.


Tidak ingin membuang banyak waktu lagi, Mahen segera membawa Sarah dan Sandra kehadapan Papa Darwin.


"Pa..."


"Sarah..."


"Sandra..."


Sarah menyalami tangan Papa Darwin dengan takzim. Sandra melihat pria tua yang dikenalkan Mahen sebagai kakeknya.


"Pa-pi"


Papa Darwin hanya mengulum senyum melihat hal lucu dari cucu keduanya anak pertama Mahen dari istri keduanya.


Papa Darwin begitu erat dan kuat memeluk Sarah walau dengan sisa-sisa tenaganya.


"Maafkan Papa, Sarah. Maafkan kami, Papa dan Mama." Hanya kalimat itu saja yang sedari tadi diucapkan oleh Papa Darwin.


"Sudah Pa, sudah aku maafkan. Maaf juga aku sudah banyak salah dan begitu menyebabkan semua peristiwa yang tidak diinginkan dalam hidup Papa." Balas Sarah. Mungkin dulu kalau Hafis tidak menikahi dirinya semua ini tidak akan pernah terjadi dan kedua orang tuanya masih hidup. Dan tidak akan menjadikan Mama Kemala memiliki sikap, sifat dan memilih menempuh jalan yang kurang baik.


Sandra tidak rewel sedikit pun saat duduk di atas pangkuan sang Kakek, yang mengelus rambut kepalanya dengan sayang.


"Kakak Syifa pasti senang memiliki adik selucu dan secantik Sandra. Kakak Syifa akan sangat sangat sama Sandra." Papa Darwin mengecup pucuk kepala Sandra dengan sayang.


Pagi ini Mahen tidak masuk kantor, karena mengurus kepulangan Papa Darwin. Ia juga sudah meminta Rendy dan Erik untuk menerima Pak Robby namun menolak untuk membantu mereka dan terbang ke Batam. Karena ia ingin fokus menyelesaikan maslah yang ada di rumah nya.


Sekitar jam satu siang, Papa Darwin sudah bisa pulang. Hafis tetap membantu kepulangan sang Papa dengan mengenyampingkan rasa yang begitu menyesakkan dadanya. Melihat wanita yang masih dicintainya berinteraksi dengan anak dan suami yang tidak bukan adalah Abangnya sendiri.

__ADS_1


"Papa ikut sama kamu aja, Hafis!." Papa Darwin tidak ingin membiarkan putra bungsunya merasa sendiri.


"Iya Pa." Balas Hafis yang kemudian langsung membuka pintu mobil untuk sang Papa.


.


.


Para pembantu begitu sibuk untuk menyambut kepulangan Papa Darwin dari rumah sakit. Ada yang merapikan kamar Papa Darwin,.ada yang membuat makanan kesukaan Papa Darwin dan lain sebagainya.


"Ngomong-ngomong dari kemarin malam aku tidak melihat Nyonya Kemala. Kemana ya?, tadi aku bereskan kamarnya tidak ada." Ucap Salah satu pembantu yang biasa bersih-bersih rumah.


"Iya aku juga tidak melihatnya." Sahut yang lain menimpali.


"Pergi mungkin sama Mbak Widi sama Neng Syifa?. Kan Nyonya suka ikut-ikut aja tanpa kita tahu. Nanti tahu-tahu pulang bawa makanan untuk kita." Jawab yang lain memberikan pendapatnya.


"Iya juga ya, nanti bawa makanan yang banyak. Datangnya pas kita sudah makan banyak jadi enggak ke makan tuh makanannya. Jadi rezeki tetangga mulu." Jawab yang lain menyayangkan.


Benar saja hanya berjarak lima menit dari para pembantu membubarkan diri, Papa Darwin bersama rombongan sudah sampai. Papa Darwin di bantu oleh Hafis. Sedangkan Sarah masih memangku Sandra yang tidur siang di dalam mobil.


"Ayo turun sekarang!. Syifa tidak lagi ada di rumah, diajak pergi sama Mbak Widi. Hanya ada Mama dan para pembantu." Ucap Mahen menatap Sarah yang sedang merapikan rambut.


"Ayo. Abang bawa barang-barang Sandra aja, biar Sandra aku yang gendong." Untuk menutupi rasa groginya, Sarah memilih menggendong Sandra yang sudah lumayan berat. Tapi lebih berat lagi kalau ia tidak membawa apa pun saat bertemu dengan Mama Kemala.


Papa Darwin sudah duduk di ruang keluarga bersama Hafis. Mereka hanya bertanya dalam hati masing-masing kenapa mereka tidak melihat Mama Kemala?. Yang mereka tahu biasanya Mama Kemala itu orang yang paling senang untuk melakukan penyambutan terhadap apa pun. Tapi kenapa dengan hari ini?, kemana Mama Kemala?.


Tidak lama Mahen dan Sarah pun datang. Papa Darwin meminta Sarah untuk menidurkan Sandra di kamar Syifa atau kamar tamu tidak maslah karena rumah mereka juga.


Mahen membantu Sarah untuk membuka pintu kamar, mereka lebih memilih kamar Syifa yang dijadikan tempat tidur siang Sandra.


"Mama kemana?." Tanya Mahen pada Papa Darwin dan Hafis saat dirinya ikut duduk bergabung di sana dengan Sarah yang duduk disampingnya.


"Iya aku dan Papa juga belum melihat Mama dari pas kita datang." Jawab Hafis menatap Papa Darwin dan Mahen bergantian.

__ADS_1


Mereka mulai merasa ada yang aneh, sepi tidak ada yang biasanya ramai dan heboh di dalam rumah.


"Lalu pergi kemana Mama?." Mahen bangkit dan pergi ke kamar Mama Kemala. Begitu juga Hafis ikut masuk ke dalam kamar. Tatapan keduanya saling beradu.


"Enggak ada" Ucap keduanya.


"Kita panggil para pembantu siapa tahu salah satu dari mereka ada yang tahu?." Mahen kembali keluar dan memanggil semua para pegawai. Dan mulai menanyai mereka satu persatu. Tapi tidak ada jawaban yang begitu pasti mengenai kemana perginya sang Mama?.


"Pulang dari rumah sakit setelah menjenguk Tuan. Saya sempat mendengar Nyonya Kemala meminta Mbak Widi untuk mengajak Neng Syifa menginap atau dibawa jalan-jalan gitu. Nah saya kira Nyonya ikut sama Mbak Widi dan Neng Syifa." Ucap pembantu yang tukang bersih-bersih rumah.


Mahen membubarkan mereka semua karena sudah tidak ada yang bisa dimintai informasinya. Dan meminta mereka untuk mencari Mama Kemala di setiap sudut tempat ruang rumah ini.


Sarah sudah mulai panas dingin, keringat mulai bercucuran, entah apa lagi yang dirasakannya saat ini. Kenapa selalu seperti ini?. Apa semua ini juga karena kehadiran dirinya.


Mahen menoleh pada Sarah yang sedang mengusap keringat padahal di rumah sudah menyalakan AC. Mahen menggenggam tangan Sarah yang sudah dibanjiri keringat juga.


"Semuanya pasti akan baik-baik aja." Ucap Mahen menenangkan Sarah.


"Kamu mau di kamar saja sama Sandra?." Sarah dengan cepat menggeleng lemah dan memegang lengan Mahen.


"Aku disini aja sama Bang Mahen!." Ia juga kalau bisa ingin membantu untuk menemukan Mama Kemala.


Hanya itu pegangan yang mereka miliki informasi tentang Mama Kemala. Hafis segera menelpon Widi untuk menanyakan keberadaan sang Mama, namun cukup mengejutkan kalau Mama Kemala tidak bersama mereka.


Hafis mulai ketakutan, hal-hal buruk mulai bersarang di dalam otak nya.


Papa Darwin teringat kembali percakapan terakhir dengan sang istri, kalau istri nya itu akan mempertanggungjawabkan apa yang sudah diperbuatnya. Apa maksudnya menyerahkan diri ke kantor polisi?.


Papa Darwin meminjam ponsel Hafis untuk menghubungi orang yang dikenalnya.


"CCTV Hafis?." Mahen menunjuk arah kamera.


Hafis menggeleng lemah, "Sudah rusak tidak berfungsi lagi."

__ADS_1


__ADS_2