Suami ke dua

Suami ke dua
Kembali ke Devan


__ADS_3

Dokter sudah membolehkan aku untuk pulang. Betapa bahagianya aku bisa mencium aroma rumahku. Bukankah tempat yang paling indah adalah rumah.


"Ahhh.


Aku sedang menggendong anak kecilku. Dinda berlarian menghampiriku dia tidak sabar menemui adik lelakinya.


Sudah lama Dinda menginginkan seorang adik. Jarak mereka terpaut jauh sekitar sepuluh tahun.


"Biarkan aku menggendongnya." Rengek Dinda.


"Jangan sekarang adik masih terlalu kecil. Nanti kalo agak gedean dikit ya." Aku sengaja melarang Dinda. Aku Takut adik nya ntar kenapa kenapa.


Aku menidurkan si adik di tempat tidur. Dinda terlalu bahagia hingga dia tidak ingin jauh darinya.


Dinda ketiduran di samping adiknya. Mereka berdua sangat lucu. Aku Hanya bisa tersenyum melihat kelakuan mereka.


Aku memeriksa handphoneku di sana tidak ada pesan dari mas Adam.


Sudah empat hari tidak ada kabar dari mas Adam. Sejak saat itu... saat mas Adam mengantarkan ku ke rumah sakit.


Entah ada dengannya hingga saat ini dia tidak menyelipkan satu pesanpun. Apakah dia baik baik saja. Mungkinkah penyakitnya parah.


"Ahhh." Pikiranku kemana mana.


Apakah mas Adam sekarang lagi mengidap penyakit yang lagi viral hingga harus di karangtina. Jika memang iya .... Terus bagaimana keadaannya.


Menjengukpun tidak mungkin. Kali ini mas Adam tidak bisa berkomunikasi dengan siapa pun.


Tidak kah dia ingin memeluk anaknya. Apakah dia akan melupakan aku begitu saja.

__ADS_1


"Entahlah."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Ayah ada tamu tolong buka kan pintu."


Mas Gilang bergegas membukakan pintu.


"Oh ibu." Mas Gilang mencium punggung tangan ibunya.


Aku juga melakukan hal yang sama seperti mas Gilang.


"Akhirnya cucuku pulang juga. sudah lama aku menunggu akhirnya aku punya cucu lagi." Maksudnya mertuaku ingin menyapaku.


Aku hanya tersenyum saja tanpa membalas sambutannya.


Apa maksudnya ibu mas Gilang berkata seperti itu. Seandainya dia tahu kalo bukan benih mas Adam juga dia ngak bakal punya cucu lagi.


Buktinya jarak Dinda dan Devan aja terpaut jauh. Sekarang sudah aku buktikan siapa yang bermasalah saat ini aku atau mas Gilang.


"Dasar ." Batinku.


Mas Gilang mengalihkan pembicaraan ibunya dengan menunjukkan Devan. Dia tidak ingin ada kobaran api yang mulai membara di hati kami.


"Lihat ini anakku sedang tertidur pulas dengan kakaknya.


Tidak mudah bagiku melupakan perbuatan keluarganya mas Gilang terhadapku. Meski kata katanya santun tapi sangat menyakitiku.

__ADS_1


Karena karakter mereka tidak sepertiku. Aku Sangat bar bar dan tidak bisa mengecilkan volume suara. Dari pada aku yang turun tangan bisa bisa timbul bencana.


Ibu mas Gilang Bermain main dengan anak anakku. Sementara aku sibuk membereskan baju baju di lemari.


"Nenek...." Sambut Dinda.


Mertuaku kelihatannya bahagia dia begitu menyayangi cucu cucunya. Hanya saja di sini aku seperti orang asing di rumahku sendiri.


Yaa karena aku hanya penghalang di antara mereka. Orang yang tulus menyayangiku hanya mas Gilang dan Dinda. Kalo saja mas Gilang tidak berubah sebaik ini mungkin sudah lama aku pergi di sini.


Hanya mas Gilang dan Dinda yang membuat aku bertahan hingga saat ini.


"Nenek nginep sini yaa." Ajak Dinda.


"Rumah nenek kan dekat. Besok nenek kesini lagi."


"Ahhh nenek ngak seru."


Aku Memang tidak banyak bicara dan bicara seperlunya saja.


"Kita makan bu." Ajak mas Gilang. Kebetulan mas Gilang yang masak hari.


Aku masih perlu banyak istirahat. jadi mas Gilang yang melakukan tugas rumah.


Banyak orang yang iri melihatku. Karena suamiku bisa melakukan semua tugas yang biasa di lakukan ibu rumah tangga.


Harusnya memang seperti itu jika istrinya lagi sakit suaminya harus membantuπŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—πŸ˜—.


..........

__ADS_1


.........


__ADS_2