Suami ke dua

Suami ke dua
Baju Baru


__ADS_3

Pagi


Hari ini Dinda benar benar berbeda. Dia tidak seperti biasanya. Wajah yang biasa biasa itu sekarang lebih menonjol.


Dinda sekarang sudah pantas jika berjejer dengan para petinggi petinggi perusahaan. Padahal dia hanya seorang asisten pak Adam.


Asisten itu kini tampak begitu dewasa dan berwibawa. Yaa itu lah, mengapa orang jika berpakaian menarik akan terlihat menarik pula.


Tidak luput pula dengan Dimas yang makin kesini sering mengawasi Dinda. Entah perasaan kagum atau hanya ingin memusatkan pikirannya terhadap Dinda.


Dimas kali ini tidak suka jika Dinda di puji puji oleh laki laki lain. Apakah ada yang salah dengan Dinda atau Dimas sekarang berlebihan.


Dinda sekarang menjadi mahluk yang elok dan patut di beri pujian.


"Dinda kenapa kamu diam saja saat mereka melihat seperti itu."


"Maksud pak Dimas melihat seperti itu apa???"


"Yaa pokoknya seperti itu."


"Slow pak... Mereka hanya melihat. Bukan pegang. Kalo di desa saya kalo berani pegang.'wani piro.'" Dinda bersikap santai.

__ADS_1


"Kamu itu di kasih tau koq ngeyel." Dimas merasa keberatan.


"Di antara mereka yang lebih saya khawatirkan adalah sikap pak Dimas. Makin kesini makin ngak jelas."


Dimas makin kesal dengan ucapan Dinda. Padahal Dimas sudah berusaha untuk menyuruh jantungnya untuk tidak berdetak kencang. Tapi jantung itu tidak menuruti komandonya. Entah ada apa dengan Dimas.


"Terserah kamu din, di kasih tau malah seperti itu."


"Terima kasih pak atas perhatiannya." Dinda lantas pergi meninggalkan Dimas.


Dinda hanya heran dengan kelakuan Dimas. Padahal Pak Adam saja selalu mendukung kemajuan Dinda. Pak Adam membelikan baju baju mahal agar Dinda tidak di pandang sebelah mata oleh orang orang. Tapi pak Dimas apa yang dia lakukan. Dia hanya ingin menjatuhkan mental Dinda saja.


"Ahhh kenapa Dinda terus memuji pak Adam ya." Batin Dinda, memang pak Adam patut untuk di puji. Dia itu kalo masih muda pasti tampan. Nggak beda jauh lah sama artis rezki aditya. Apalagi dia baik dengan bawahan, selalu bersikap sopan dengan semua orang.


Dinda semakin mengagumi sosok bosnya itu. Bagi Dinda dia adalah orang yang patut di idolakan. Dibandingkan artis korea pak Adam jauh lebih baik. Karena sudah terpampang nyata.


"Dinda bagaimana bajunya." Tanya Adam.


"Bagus pak, cantik ngak Dinda sekarang."


"Yaa cantik... Tapi lebih cantik ibu kamu."

__ADS_1


"Apa!!


"Maksudku kalo kamu cantik pasti ibunya cantik juga." Adam takut Dinda curiga.


"Oo gitu.. Tapi emang ibuk Dinda cantik pak. Kapan kapan Dinda kenalin sama Ibuknya Dinda. Tapi Awas aja kalo sampai pak Adam suka sama ibunya Dinda. Dinda beri pelajaran." Canda Dinda.


"Kamu itu kerja yang benar, jangan banyak bicara. Kalo kerjamu ngak bagus, nanti baju bajumu aku suruh kembalikan."


"Ehh si bapak jangan marah dong. Barang yang sudah di berikan haram hukumnya untuk di ambil lagi."


"Omong apa kamu itu, Kamu anak kecil tau apa!!!"


"Jangan gitu dong pak. Tadi itu semua orang orang pada lihatin Dinda, mereka terpesona dengan kecantikan Dinda."


"Masih ngomong lagi." Adam melotot ke arah Dinda.


"Iya iya .... Pak ." Dinda lantas melanjutkan pekerjaannya.


Dinda selalu tidak bisa melawan kalo pak Adam yang menyuruh baginya kata kata Adam adalah sebuah titah yang harus di kerjakan.


.....

__ADS_1


.....


....


__ADS_2