Suami ke dua

Suami ke dua
Adegan Kucing dan Tikus


__ADS_3

Hari ini kantor terasa sepi. Tidak orang yang saling menyapa.


Dinda langsung menuju ruangan tempatnya bekerja. Dia melewati beberapa rekannya bekerja tapi tidak satupun yang menyambut. Seakan Dinda tidak pernah ada di tempat itu.


"Pak Dimas ...." Dinda memanggil Dimas, lantas Dimas pergi begitu saja.


Dinda kesal melihat Dimas, biasanya Dimas tidak pernah bersikap dingin seperti ini.


"Pak Dimas kenapa sih. Dinda punya salah ya..."


Dinda berusaha mencari apa yang salah pada dirinya. Tetap saja Dinda merasa sempurna hingga tidak menemukan kesalahannya. Padahal jelas jelas Dinda banyak melakukan kesalahan.


"Pak Dimas...." Dinda memanggil beberapa kali tapi tidak ada balasan dari Dimas.


"Aku sibuk ada meeting." Jawab Dimas ketus.


"Tapi pak..."


Dimas keburu pergi. Entah dia benar benar sibuk atau hanya sedang mengelabuiku saja.


Tidak biasanya Dimas menghindar dari Dinda biasanya dia mencari cela untuk menggoda Dinda.


"Dinda nanti kamu pergi dengan Dimas ya...." Perintah Adam.


"Ke mana pak."


"Proyek yang kemarin sudah aku serahkan ke Dimas. Jadi kalian harus selesai kan dengan baik."


"Terus pak Adam mau pergi kemana ." Selidik Dinda.


"Aku ada proyek lain."


"Harusnya aku yang pergi dengan pak Adam." Batin Dinda.

__ADS_1


.. ...


.......


Sepanjang perjalanan Dimas masih diam. Dinda berusaha menarik perhatian Dimas. Tapi usahanya tidak berhasil mengalihkan perhatian Dimas.


Dimas masih mengemudi. Bola matanya masih mengarah ke depan.


"Pak Dimas sampai kapan ngak mau ngomong dengan Dinda.."Ucap Dinda.


Dimas masih juga tidak membuka mulutnya sedikitpun.


Hingga Dinda pasrah dengan sikap Dimas saat ini.


Ciiiiiiiiiiiiiit ..... Dimas mengerem dengan mendadak. Ada seekor kucing melintas dengan tiba tiba.


Kepala Dinda membentur pelan. jeduk.......


"Aduh.." Teriak Dinda. sambil mengusap usap rambutnya.


"Saya baik baik aja pak."


Sementara Dimas memeriksa keadaan Dinda.


"Apa harus saya terluka dulu, baru pak Dimas mau ngomong sama Dinda." Celetuk Dinda.


"Aku hanya marah dengan kelakuanmu. Kamu itu susah di kasih tau."


Dinda hanya diam.


"Setelah itu kamu mengulangi kesalahan yang sama." Sambung Dimas.


"Maksud pak Dimas. Mengenai perasaan pak Dimas terhadap Dinda."

__ADS_1


Giliran Dimas yang saat ini diam.


"Tapi perasaan tidak dapat di paksakan." Jawab Dinda.


"Bukan berarti kamu dengan om Adam. Kamu itu hanya kagum itu aja tidak lebih. Ingat Din berbeda umur kalian itu sangat jauh." Jelas Dimas.


"Dinda ngak tau pak dengan perasaan Dinda sendiri. Terus pak sampai kapan kita bahas ini. Kapan nih kita mulai berkerjanya."


Dinda pandai sekali mengalihkan pembicaraan.


"Proyek kita yang ini hampir selesai, tinggal finishing aja. Nanti kita lihat proyek baru om Adam."


"Koq saya ngak tau pak. Kalo pak Adam punya proyek baru."


"Gimana kamu bisa tau Din. Wong kerjaan kamu melamun terus. Sembilan puluh persen otak kamu itu isi nya cuma mengawasi om Adam."


Dinda cuma bisa nyengir.


"Ini di selesaikan dulu pak baru kita pindah lokasi lagi."


"Yang nyuruh kamu pergi sekarang itu siapa."


"hiii hiii." Dinda tersenyum kecil.


Dinda ahkirnya merasa senang, karena Dimas sudah mau ngobrol dengan Dinda lagi. Meski seluruh orang tidak ingin bicara dengan Dinda. Dinda tidak peduli, Tapi kalo Dimas yang sudah berhenti bicara. Dinda akan sangat gusar.


Memang selama ini hubungan Dinda dan Dimas tidak pernah baik, malah setiap hari bertengkar. Mungkin itu yang membuat Dinda merasa kehilangan.


Apalagi ejek ejekan Dimas yang setiap hari di luncurkan. Terkadang mereka seperti adegan kucing dan tikus. Kalo bertemu di ajak bertengkar tapi kalo tidak ada mereka saling mencari.


"Ahhhhh


.....

__ADS_1


.....


.....


__ADS_2