
"Pak Dimas, Dinda pulang sendiri aja."
"Gila kamu! Bisa bisa aku di pecat om Adam, jika tidak menuruti perintahnya." Sahut Dimas.
"Tapi pak. Rumah saya jauh."
"Udah diam aja. Kamu cukup duduk manis."
Sebenarnya Dimas juga tidak ingin mengantar Dinda. Badan sudah capek karena seharian bekerja. Apalagi di tambah dengan acara ulang tahun Devan.
"Ya udah kalo pak Dimas maksa."
Sepanjang perjalanan Dinda tidak banyak bicara. Dinda lebih memilih untuk diam. Bukan tidak berani dengan senior itu. Mungkin Dinda sudah kelelahan.
Dimas mengendarai mobil perak milik Adam. Dimas melaju dengan cepat.
"He kamu tidur ya." Dimas membentak Dinda yang dari tadi diam .
Dinda langsung membuka matanya.
"Kamu pikir... Aku ini supirmu. Bangun bangun."
Dinda hanya heran kerjaan Dimas hanya marah marah. Padahal Pak Adam saja tidak segalak dia.
Dinda masih mengumpulkan sisa sisa energinya yang barusan semburat oleh teriakan Dimas.
"Lha saya harus ngapain pak."
"Ngapain terserah kamu. Asal jangan tidur. Kalo aku nyasar gimana. Aku baru pertama kali ke kampungmu."
"Pak Dimas ini. Lebih galak dari ibuknya Dinda."
"Pantesan aja. Anaknya aja modelnya kaya' gini apalagi ibuknya." Balas Dimas.
__ADS_1
Dinda dengan spontan memukul Dimas dengan tasnya.
"He .. he.. Aku lagi nyetir. Bahaya."
"Pak Dimas kalo ngomong ngak pikir dulu."
"Emang kamu kalo ngomong mikir dulu."
Dinda hanya diam tidak menyahuti perkataan Dimas. Karena Dinda sadar, dia juga sering asal ngomong tanpa berpikir dulu.
"Rumah kamu masih jauh ngak." Tanya Dimas.
"Bentar lagi nyampe. Kira kira setengah jam lagi."
"Apaaaaaa dari tadi ngak nyampe nyampe. Aku sudah capek nyetir."
"Dinda kan udah bilang dari tadi. Nggak usah nganterin ujung ujungnya Pak Dimas mengeluh terus."
"Harusnya bilang dari tadi kalo rumahmu jauh."
"Pak Dimas depan gang itu belok."
........
Sesampainya Dinda di depan rumah. Dia langsung turun dari mobil. Tanpa memperhatikan Dimas, Dinda berlarian menuju rumah.
"Assalamualaikum."
Ayah dan ibu Dinda keluar membuka pintu.
"Ibuk ........." Dinda langsung memeluk ibunya. " Ayah....."
"Kamu di antar siapa." Tanya Rosa. Ibunya Dinda.
__ADS_1
"Itu buk. Bos Dinda nyuruh pak Dimas nganterin. Karena tadi ada acara ulang tahun sampe malem."
"Suruh masuk."
"Ngak usah buk. Dia capek mau pulang."
"Pak masuk dulu." Ajak ibunya Dinda.
"Iya tante terima kasih."
"Ngopi dulu biar seger."
"Iya tante." Tanpa pikir panjang Dimas langsung nyelonong masuk ke dalam rumah. Apalagi dia sudah ingin asupan nutrisi.
"Jangan panggil tante. Ini di desa."
"Emang harus panggil apaan. Om." Sahut Dimas.
Dinda dan Dimas masih saling serang. Entah ada apa mereka keduanya tidak ingin tersaingi. Padahal Dinda masih baru di tempat kerjanya.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Tapi Dinda belum juga mengantuk. Dinda Masih ingin melepaskan kerinduannya terhadap ayah ibunya.
Dimas di temani Gilang ayah Dinda. mereka berdua sedang menceritakan hobi masing masing. Hingga tidak terasa hari semakin larut.
Gilang mengambil sesuatu di dalam rumah. Sementara Dimas di tinggal sebentar saja sudah ketiduran di sofa warna coklat itu.
Mereka tidak berani membangunkan Dimas dan membiarkan Dimas tidur di ruang tamu.
Sementara Rosa menutup gerbang dan pintu. Ibunya Dinda memandangi mobil perak itu. Mobil itu sepertinya tidak asing bagi Rosa.
......
.......
__ADS_1
......