Suami ke dua

Suami ke dua
Kaca spion


__ADS_3

Selesai makan mas Adam dan istrinya bersiap siap meninggalkan kedai ku.


"Mas bayar dulu." Perintah Ayu.


"Iya."


Mas Adam melihat isi dalam dompetnya.


"Aku tunggu di mobil ya." Bodohnya Ayu meninggalkan suaminya begitu saja. Seorang laki laki akan jadi beringas jika di tinggal sedetik saja.


"Iya."


Mas Adam menghampiriku, dia mengeluarkan semua isi dalam dompet nya. Entah berapa banyak lembaran uang yang di selipkan ke tanganku.


Hanya untuk dua porsi Soto mas Adam harus mengeluarkan uang sebanyak itu.


Ayu masih menunggu di mobil. Kemudian mas Adam mencomot mulutku dengan cekatan. Budhe sul melihat kejadian itu. Mungkin dalam hati nya aku adalah wanita yang murahan.


Tapi kejadian itu berlangsung secara tiba tiba dan aku tidak bisa menolaknya. Aku hanya meremas tangan mas Adam. Karena mulut mas Adam begitu kuat menyedotku.


Tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut mas Adam. Ingin sekali aku bilang "Berhentilah sejenak." Tapi tiba tiba aku menjadi wanita yang lemah.


Entahlah banyak hal yang ingin aku tanyakan. Tapi aku tidak berdaya.


Seakan ciuman tadi sudah menjawab semua pertanyaanku.

__ADS_1


Bayangkan perasaanku hari ini ..... setelah tidak ada kabar selama setahun tiba tiba dia menghadiahkan satu ciuman.


Hatiku tiba tiba layu seperti bunga tanpa tangkai. Aku yang biasanya sekuat karang menjadi lunglai.


Mas Adam pergi meninggalkan aku tanpa pesan. Ingin aku raih tangan itu tapi tangan itu berjalan menjauhi ku.


Padahal aroma tubuh mas Adam masih membekas. Mas Adam sudah hilang dari pandanganku.


Budhe sul tidak berani menanyaiku. Dia bekerja tanpa perintah, karena dia sudah biasa melakukan pekerjaannya


Aku hanya duduk di tepi kursi mengais sisa sisa jejak mas Adam.


Ingin aku bilang "aku tidak butuh uang ini. Aku hanya ingin dirimu."


........


........


"Ayo kita balik ke kota." Ajak mas Adam.


"Tapi mas. Bentar lagi." Bujuk Ayu.


Mas Adam hanya diam, dia membereskan pakaian. Sementara Ayu mulai takut dengan suaminya. Karena mas Adam adalah orang yang banyak bicara tapi tidak untuk kali ini. Semenjak dari kedai itu dia tiba tiba jadi pendiam.


Ayu ingin mengutarakan perasaannya tapi dia takut suaminya akan marah. Ayupun ikut membereskan barang barang ke dalam tas.

__ADS_1


Ayu hanya bingung. Ada apa dengan suaminya.


"Mungkin ada masalah pekerjaan yang membuat mas Adam jadi murung." Batin Ayu.


Memang mas Adam tidak pernah menceritakan sesuatu jika terjadi masalah. Dia hanya memilih untuk diam seakan tidak terjadi apa apa.


Tapi Ayu sudah tidak nyaman melihat suaminya gusar.


Tanpa bicara mas Adam menunggu Istrinya di mobil. Ayu kalang kabut membawa barang barangnya.


Ayu takut jika suaminya menunggu di mobil. Padahal mas Adam tidak pernah membentak siapa pun. Dia selalu berkata lembut. Mungkin untuk mengingatkan seseorang hanya dengan memberi sindiran.


Tapi kali ini mas Adam benar benar berbeda tidak pandai melucu seperti biasanya.


Mas Adam mengemudi sangat pelan hingga melewati kedai soto. Dia tidak bisa melepaskan pandangannya ke kedai itu.


Aku pun menangkap tatapan itu. Kebetulan kedai ku berada di pinggir jalan. Aku Sangat jelas melihat wajah itu. Wajah yang tidak ingin meninggalkan aku.


Mobil mas Adam sudah melaju jauh dari kedai ku. Tapi dia masih mengawasiku lewat kaca spion.


.....


.....


.....

__ADS_1


__ADS_2