Suami ke dua

Suami ke dua
Meeting


__ADS_3

Hari ini Adam memimpin sebuah meeting. Dinda Dan Dimaspun ikut serta.


Sebelumnya Dinda belum pernah mengikuti meeting seperti ini. Dia hanya ikut karena perintah Adam.


"Ahhh." Dinda merasa bosan, Karena dia tidak paham dengan pembicaraan yang sedang berlangsung.


Adam akan membuat sebuah Perumahan di pinggir kota. Karena dia ingin orang yang membelinya kelak merasa nyaman. Disamping itu sedikit jauh dari kebisingan kota. Letaknya strategis.


Adam memberi kesempatan kepada bawahannya untuk mulai meeting.


"Pak Dinda nunggu di depan aja ya." Pinta Dinda.


"Kamu di sini aja, cukup lihat dan perhatikan." Jawab Adam.


Adam hanya ingin, memberikan Dinda yang terbaik. Apalagi dia sudah berjanji dengan kekasihnya untuk menjaga Dinda.


Adam akan mendidik Dinda agar kelak menjadi pembisnis yang hebat. Caranya dengan terjun langsung bekerja. Karena teori tanpa praktek hasilnya adalah nol.


"Tapi pak." Dinda berusaha menolak tapi pak Adam tidak menghiraukannya.


Dinda sungguh tidak nyaman dengan situasi seperti ini. Karena dia memang benar benar tidak bisa menyerap bahasa bahasa yang mereka gunakan.


Dinda hanya lulusan sekolah menengah, Sedangkan jejeran orang orang yang ikut meeting semua lulusan sarjana.


Selama kerja di tempat ini dia hanya mengikuti perintah bosnya. Bukan seperti saat ini, Dinda harus bergabung langsung dengan orang yang menurut Dinda orang yang lebih pandai jauh dari nya.

__ADS_1


Apalagi soal pengalaman, Dinda tidak ada apa apanya. Biasanya Dinda hanya mengurusi UMKM di desanya. Bukan perusahaan besar seperti ini.


"Dimas bagaimana menurutmu tentang proyek kita ini." Adam melontarkan pertanyaan.


"Menurut saya kita buat tipe rumah yang mewah. Dan beda dengan perumahan perumahan yang lainnya. Konsepnya seperti di luar negeri, elegan dan nyaman."


"Yang lainnya."


"Saya setuju dengan pak Dimas. Jadi kita memakai arsitek yang desainnya unik dan beda dengan lainnya." Seru Rega, Dia sedang duduk di samping Dimas.


"Dinda bagaimana menurut kamu." Tanya Adam.


Deg....


"Katanya tadi hanya mendengarkan tapi kenapa sekarang malah ikut ikutan. Pak Adam sedang menjebak Dinda." Batin Dinda bergejolak.


"Dinda bagaimana menurut mu." Pak Adam mengulang pertanyaannya.


"Kalo menurut saya sih. Kita buat rumah SS."


"Apa itu." Semua pada melongo.


"Rumah SS itu rumah sangat Sederhana. Jadi semua orang bisa membelinya karena uang yang di keluarkan sedikit. Apalagi untuk pasangan yang baru menikah pasti banyak yang tertarik. Dari mereka bolak balik ngontrak lebih baik uangnya untuk kredit rumah.


Kalo kita buat perumahan yang mewah yang beli hanya orang orang kaya saja. Padahal orang orang yang kaya jumlahnya hanya beberapa saja jika di bandingkan dengan yang tidak punya. Sasaran kita adalah kalangan masyarakat menengah ke bawah." Urai Dinda.

__ADS_1


Dimas hanya berpikir Dinda hanya orang desa yang tidak tau apa apa. Menurutnya pendapat Dinda hanya merusak citra perusahaan ini.


"Bagaimana menurut kalian." Tanya Adam.


Mereka tidak ada yang memberi komentar. Karena menurut mereka ide Dinda hanya kampungan.


Apalagi Dimas menatap Dinda sinis.


"Tidak ada masukan lagi."


Mereka hanya saling berbisik seperti anak Sekolah Dasar.


"Oke karena tidak ada yang memberi masukan lagi. Kita memakai Tipe yang di terapkan oleh Dinda." Adam langsung keluar dari ruangan meeting.


"Haaa ." Dinda hanya terkejut bisa bisanya pak Adam mengambil ide nya. Padahal Dinda hanya


asal ngomong aja.


Dimas hanya kesal dengan om nya. Untuk apa mengadakan meeting, yang ujung ujungnya hanya mengambil keputusan sepihak saja.


Dunia pergunjingan mulai diluncurkan. Semua orang membicarakan Dinda.


.....


....

__ADS_1


....


__ADS_2