
Sarah duduk termenung di kursi taman sambil menunggu Dokter Rudy yang akan menjemputnya. Dan benar apa yang dikatakan oleh Ibu Riska kalau Dokter Rudy ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
Memikirkan hasil keputusan dari para pemilik kursus tadi, jika dirinya tiga hari lagi akan bekerja pada seorang pria yang memiliki Ibu yang saat ini di rawat di salah satu rumah besar Ibu Kota. Dengan menawarkan gaji besar yang sanggup untuk membiayai mereka sekeluarga dan sanggup mememuhi apa yang menjadi kebutuhan mereka.
Membayangkan kembali Ibu Kota, ada banyak kenangan indah, pahit dan buruk sekaligus yang ditorehkan oleh orang-orang yang tinggal di Ibu Kota.
Bagaimana ia harus kembali ke kota itu setelah berusaha menata hati dan pikirannya?. Kehidupan yang saat ini dijalani cukup memberinya ketenangan walau terkadang sesekali ada batu kerikil yang membuat kaki nya tersandung dan mengeluarkan darah.
" Maaf sudah membuat mu menunggu " Suara Dokter Rudy dari arah samping dan langsung duduk di sebelah Sarah tanpa bertanya terlebih dahulu.
" Iya Dokter Rudy enggak apa-apa. Aku juga belum lama sampai di sini." Ucap Sarah sembari menoleh pada Dokter Rudy yang memberikannya senyum bahagia.
" Maaf ya Sarah aku bukan pria romantis yang ngajak kamu ngobrol di Cafe atau restauran mahal. Aku malah milih taman seperti ini." Dokter Rudy merendah, padahal sebenarnya justru Sarah lah yang meminta di taman ini supaya lebih dekat dengan tempat kursusnya.
" Iya Dokter itu kan saya yang memintanya." Balas Sarah sedikit tidak enak hati karena sudah menolak tempat yang lebih bagus dari pada ini.
Hening untuk beberapa waktu, hanya melihat lampu-lampu taman yang mulai dinyalakan. Jalanan yang mulai dipenuhi dengan banyaknya pengguna jalan. Pedagang makanan yang sudah memenuhi area taman dengan beraneka menu pilihan yang bisa disantap sambil menikmati pemandangan taman.
" Oh ya Dokter, ada hal apa yang ingin disampaikan?." Tanya Sarah menoleh ke arah Dokter Ryan yang sejak tadi menatap Sarah secara intens.
" Beberapa tahun terakhir ini kita tinggal satu atap yang sama. Berbagi dalam segala hal, walau aku tahu pasti ada beberapa hal yang tidak mau kamu bagi pada kami dan salah satunya itu tentang suami mu. Aku juga bahkan tidak pernah mendengar kamu menyebutnya di depan Sandra sekali pun. Atau mungkin hanya sekedar curhat dengan Kak Riska. Apa itu artinya kalau kamu sudah melupakannya dan bersiap untuk perpisahan kalian? atau kamu memang tidak ingin membicarakannya saja sampai kamu menemukan momen yang pas?."
" Maaf sebelumnya Dokter Ryan, kalau pertanyaan bagian ini aku tidak perlu menjawabnya. Biarlah itu menjadi urusan ku saat ini. Dan sekarang apa yang ingin disampikan Dokter Ryan tentang Dokter Ryan sendiri?."
__ADS_1
Raut wajah Sarah dibuat sesantai mungkin, padahal ada sesuatu yang dirasakannya tidak baik-baik saja di dalam hati nya.
" Baik aku sangat menghargai kalau kamu tidak ingin menjawabnya. Hanya saja jawaban dari mu ini akan menentukan langkah ku selanjutnya." Sangat disayangkan jika Sarah saat ini tidak ingin membicarakan status pernikahannya. Seban Dokter Ryan mempunyai keinginan yang besar untuk menjadikan Sarah sebagai istri, ibu dari anak-anaknya dan teman hidup selamanya.
Baik Dokter Ryan dan Sarah belum lagi ada yang membuka obrolan. Sampai Sarah mengajak pulang jika memang sudah tidak ada yang ingin dibicarakan lagi.
Sarah sudah berdiri dan mulai berjalan terlebih dulu, tapi Dokter Ryan mencekal tangan Sarah dan menahannya. Kini Dokter Ryan menatap lekat wajah Sarah sebelum ia menyampaikan apa yang diinginkan oleh hati dan dirinya.
" Aku menyukai mu, lebih dari sekedar suka. Aku begitu memiliki banyak mimpi yang ingin aku wujudkan bersama diri mu dan anak-anak kita nanti. Tolong berikan aku tempat di sisi mu kalau belum bisa di hati mu."
Akhirnya hal yang paling tidak ingin di dengar Sarah kita mengalun indah dari bibir sang Dokter yang sudah banyak menolong, membantu dan menemani hari-hari mereka.
" Maaf Dokter Rudy aku tidak bisa menjadi bagian dari hidup Dokter Rudy. Maaf kalau aku tidak akan pernah bisa untuk mewujudkan mimpi-mimpi Dokter Rudy. Maaf aku tidak bisa menerima perasaan Dokter Rudy." Tegas, padat dan singkat tapi begitu menyakitkan bagi Dokter Rudy. Perasaan cinta nya tidak bersambut, impiannya harus ia segera kubur bersamaan dengan penolakan Sarah.
Setelah melewati hampir satu jam perjalanan dengan suasana sepi di dalam mobil kini mereka sudah sampai di rumah. Sarah keluar terlebih dahulu setelah mengucapkan terima kasih yang disambut oleh Ibu Riska di meja makan.
" Maaf karena aku sudah menolaknya." Ucap Sarah menyesal sudah harus menyakiti hati Ibu Riska juga dengan penolakkannya.
" Tidak apa-apa Sarah, itu tidak akan menjadikan ku merubah sikap pada mu, Sandra dan kedua adik mu. Aku sangat paham masalah hati tidak bisa dipaksakan dan kamu yang lebih tahu atas apa yang terbaik untuk mu dan Sandra." Walau ya sebenarnya tidak bisa dipungkiri kalau ada rasa kecewa, tapi ia harus tetap bisa berpikir posistif dan bersikap netral pada keduanya.
" Terima kasih " Balas Sarah.
Dokter Rudy melewati Sarah dan Ibu Riska di meja makan. Tanpa adanya obrolan atau say hai dari Dokter Rudy. Ibu Riska pun sangat mengerti kesedihan sang Adik, tapi saat ini ia ingin membiarkannya sendiri dan berpikir dengan kepala jernih.
__ADS_1
" Nanti aku bicara pada Rudy. Kamu jangan khawatir, sekarang kita makan." Ajak Ibu Riska.
.
.
Sudah setengah jam lebih Mama Kemala memeluk Mahen yang kini sudah kembali pada Mahen yang dulu tanpa sepengetahuannya. Mahen putra sulung yang sudah banyak memberinya kebahagiaan.
Papa Darwin dan Hafis pun bergabung di sana, hanya melihat interaksi Mama Kemala dan Mahen..Setelah dari tadi mereka mengobrol banyak hal tapi tidak ada yang menyinggung tentang Sarah.
" Mama tidur ya, ini sudah malam. Kasihan tubuh Mama butuh istirahat."
" Kamu tidur di sini ya, Mama masih ingin melihat mu di sini dan kita makan bersama lagi."
" Iya Ma aku akan menginap di sini. Sekarang Mama tidur ya!."
" Tapi kamu janji ya tidur di sini."
" Iya Ma aku janji."
Mama Kemalan di bantu oleh Papa Darwin masuk ke dalam kamar untuk beristirahat setelah memegang janji Mahen.
Kini hanya tertinggal Mahen dan Hafis di ruang tengah. Keduanya duduk saling berhadapan dan saling menatap dengan intens.
__ADS_1
" Abang sudah bisa menerima kematian Sarah dan calon anak kalain?." Tanya Hafis yang tidak tahu memiliki tujuan apa terhadap Mahen.