Suami ke dua

Suami ke dua
Rencana mama


__ADS_3

"Mas mama menyarankan untuk mengadopsi anak."


Mas Adam hanya diam tidak menyahuti istrinya.


"Setahun menikah belum juga hamil. Kata mama buat pancingan."


"Kasihan anak itu kalo hanya di buat pancingan. Setelah kamu punya anak sendiri nanti bagaimana nasib anak itu." Jelas Adam.


"Aku juga tidak setega itu mas."


"Yakin."


"Aku tidak setuju. Mungkin saja kamu bisa hamil tanpa adopsi."


Mas Adam dan istrinya masih berdebat . Sementara Ayu adalah wanita yang penurut dia tidak bisa membantah mamanya. Seperti perjodohkannya dengan Adam.


"Terserah kalo kamu ingin menuruti keinginan mama mu." Mas Adam kemudian memilih untuk diam. Dari pada harus berdebat dengan istrinya. Dia tahu istrinya sangat lemah mudah sekali untuk menangis.


Ayu semakin dilema antara menuruti mamanya atau harus menjaga perasaan suaminya. Bagi Ayu mereka berdua adalah orang yang penting.


"Tok tok tok tok.


"Mas sepertinya ada tamu." Ayu beranjak membuka pintu karena pintunya masih terkunci.


Kemudian Ayu mencium punggung tangan wanita itu.


"Mama." Adam juga mencium tangan mertuanya.


"Anak siapa ini ma?" Ayu mengawasi bocah laki laki itu.


Bocah itu terus menangis. Karena disini lingkungan yang berbeda menurutnya.


"Ini anak yang aku ceritakan kemarin."

__ADS_1


Ayu hanya bingung dengan tindakan mamanya. Perdebatan dengan mas Adam belum selesai tapi anak itu sudah ada disini.


Ayu hanya tidak ingin jika mas Adam tidak menerima anak ini. Karena semua keputusan ada di tangan suaminya.


Ayu mencoba menggendong anak itu. Seolah anak ini akan menjadi harapan besar untuk rumah tangganya. Dia tahu laki laki mana yang tidak ingin punya keturunan. Sementara dirinya belum juga membahagiakan suaminya.


"Mas lihat bocah ini. sangat tampan seperti dirimu."


Mas Adam tidak menghiraukan perkataan istrinya dia sibuk dengan dirinya sendiri.


Anak itu terus menangis entah dia lapar atau ingin susu. Ayu masih canggung menghadapi anak kecil. Karena dia belum pernah melakukannya.


Ayu masih menggendong, mengajak jalan jalan di depan rumah. Mungkin saja dia jenuh berada di dalam rumah.


"Mama dapat anak ini dari mana." Selidik Ayu.


"Ooo anak ini yatim piatu. Kasihan tidak ada yang mengurus. Mama dapat informasi dari teman mama. Katanya di desa ada anak yatim piatu."


"Mama sendiri yang langsung survei."


Ayu percaya saja dengan ucapan mamanya. tidak mungkin mamanya membohongi.


"Ma anak ini koq nangis terus ya. Aku kasih makan ngak mau. Susu ngak mau. Aku Bingung ma."


"Ntar juga berhenti sendiri kalo capek. Ngak mungkin dua puluh empat jam harus menangis terus."


"Mungkin anak ini kangen ibunya." Sahut ayu.


"Ibunya sudah meninggal. kalo dia harus menangis seharian ngak mungkin ibunya bakal kembali."


Ayu kemudian masuk ke dalam rumah dia mengarah ke Adam. Namun Adam tidak menoleh sedikitpun.


"Cup cup sayang jangan nangis lagi. Tuh lihat papa." Ayu mencoba mendekatkan anak itu kepada suaminya.

__ADS_1


"Ayo lah mas kan ngak enak sama mama. Mama sudah berusaha keras untuk kebahagiaan kita."


Mas Adam masih diam ......


"Tuh papa..... papa ganteng kan kaya kamu."


"Papa... papa ... papa." Bocah itu mengucapkan dengan cepat tapi sedikit pelan. Karena sisa sisa tangis yang belum selesai.


"Mas lihat dia memanggilmu."


Mas Adam menoleh sedikit dan kembali sibuk dengan pekerjaannya. Entah dia mengerjakan apa dengan laptop itu.


"Papa .... papa .... papa."


Mas Adam kembali menatapnya yang kedua kali. Mas Adam hanya terkejut sepertinya dia mengenal anak itu. Tapi dimana .....


"Papa ... papa.... papa."


"Ya Tuhan Itu Devan!!! anakku." Mas Adam langsung meninggalkan laptopnya dan menggendong Devan.


Lantas Ayu terkejut melihat suaminya yang tiba tiba mau menggendong anak itu.


Devan langsung diam dari tangisnya ketika di gendong mas Adam.


"Mas anak ini menyukaimu. Dia langsung berhenti, tidak menangis lagi. Padahal aku sudah capek membuatnya diam."


"Mama apa kamu yang di rencanakan. !! Itu artinya dia mengetahui semuanya." Batin Adam


.......


.......


......

__ADS_1


__ADS_2