
Setelah beberapa tahun....
Rambut panjang hitam bercampur putih yang dibiarkannya berantakan, bulu lebat memenuhi garis rahang dan sebagian menutupi area pipi. Tubuh kurus yang tidak terurus, tampang bengis yang selalu tergambar nyata dari wajah yang dulunya bersahaja. Pakaian lusuh yang selalu melekat dalam tubuh yang dibiarkannya seperti mayat hidup.
Ya itu penampakan sosok Mahen saat ini. Sosok pengusaha sukses kaya raya kini tidak disandangnya lagi. Bukan rumah Pradivya yang kini menjadi tempat peristirahatannya melainkan makam Sarah. Sekarang tempat nya makan bukan lagi restauran mahal dengan menu-menu enak nan lezat karena ia memungutnya dari satu tong sampah ke tong sampah lainnya untuk bisa mengisi rasa lapar nya. Setelah kematian Sarah dan calon bayi mereka yang menjadikan Mahen seperti orang linglung hilang arah. Namun Mahen masih berharap ada keajaiban dalam hidupnya untuk sekali saja bertemu dan melihat mereka yang selalu berada diujung pelupuk mata.
" Orang g*la... orang g*la... " Sebutan yang kini tersemat lekat pada diri Mahen sebab berkeliaran di jalanan dengan tidak tentu arah namun masih tahu jalan pulang ke makam Sarah.
Mahen tidak menggubris teriakan anak-anak yang selalu memanggilnya dengan gelar baru yang didapatnya beberapa tahun ini.
Sementara itu di rumah Pradivya. Mama Kemala sudah kehilangan kesabaran, akal dan kewarasan menghadapi sikap Mahen yang jauh dari Mahen yang sebelumnya.
Lydia menghidangkan teh panas herbal yang menjadi kesukaan Mama Lydia disaat-saat seperti ini.
" Terima kasih banyak Lydia, kamu memang menantu idaman." Puji Mama Kemala sambil minta Lydia duduk bersama mereka.
" Bagaimana Mahen sudah bisa kamu ajak bicara?. " Mama Kemala sudah sangat lelah dan menguras tenaga untuk masalah Mahen.
" Belum Ma, Bang Mahen belum bisa diajak bicara sedikit pun." Jawab Hafis termenung.
Apa yang harus dilakukannya untuk mengembalikan Mahen menjadi manusia waras yang seutuhnya?.
" Ringkus saja Mahen terus masukkan ke dalam rumah sakit j*wa supaya kita gampang untuk menjenguknya. Dan supaya lebih terurus." Ide muncul dengan tiba-tiba yang selama ini ingin dilakukannya namun selalu gagal karena tanpa adanya dukungan dari siapa pun.
__ADS_1
" Apa kata orang Ma?." Hafis kurang setuju dengan Ide Mama Kemala.
" Sekarang lebih malu lagi Hafis. Mahen berkeliaran di luar sana yang sewaktu-waktu bisa bertemu dengan klien dan keluarga kita yang tersebar dimana-mana. Untung saja belum ada yang pernah melihat Mahen dalam kondisi seperti sekarang. Tapi kita tidak akan terus selamanya beruntung seperti sekarang." Sorot mata Mama Kemala penuh dengan amarah kala Hafis membantah ide nya.
" Pergilah segera ke kampung itu dan bawa Mahen ke tempat rehabilitas setempat. Nanti kalau sudah ada di sana, Mama dan Papa serta Lydia akan segera menyusul." Perintah Mama Kemala sudah tidak dapat di bantah lagi oleh Hafis.
" Iya Ma " Hafis pun bangkit dan segera pergi dari rumah. Ia langsung menyalakan mobil dan meninggalkan halaman rumah Pradivya menuju ke kampung Sarah.
Sampai di kampung Sarah, Hafis menuju rumah dinas sosial untuk mengkoordinasi penangkapan Mahen karena sudah dianggap meresahkan warga. Itu yang menjadi alasan Hafis untuk segera meringkus Mahen.
Semua anggota sudah bergerak sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Hafis. Hafis memberitahukan dimana posisi Mahen saat ini. Yah benar saja, Mahen sedang termenung menatap batu nisan yang bertuliskan nama Sarah sang istri.
Hanya satu orang yang maju mendekat ke arah Mahen, sebab Mahen masih memiliki insting jika dirinya ada dalam bahaya. Tanpa Mahen ketahui posisi dan keberadaan orang tesebut, tiba-tiba saja jarum suntuk mendarat dengan sempurna pada lengan kanan Mahen tanpa pemberontakan atau penolakan.
Hafis segera meminta kedua orang tuanya untuk datang ke sana. Dan mereka langsung bergegas meninggalkan rumah setelah mendapat kabar baik dari Hafis. Dan kini ia sudah di ruangan Dokter untuk mengkonsultasikan lagi semuanya.
" Sudah berapa lama Abang Pak Hafis mengalami gangguan mental seperti ini?." Tanya Dokter Rudi yang nantinya akan membantu penyembuhan Mahen selama di rawat di tempat ini.
" Sudah hampir dua tahun ini Dokter." Jawab Hafis.
" Saya harap pihak keluarga nantinya akan bicara terbuka dengan saya sebab keterangan kalian semua akan sangat membantu saya untuk memberikan stimulasi pada Abang Pak Hafis." Dokter Rudi tidak ingin menebak perkiraan penyebab dari penyakit pasiennya, untuk ilmu yang sudah pasti di dapat dan dipelajarinya dengan biaya yang tidak sedikit.
" Iya Dokter saya mengerti." Balas Hafis.
__ADS_1
" Coba Anda ceritakan pada yang Anda ketahui yang melatarbelakangi Abang Anda seperti ini." Tanya Dokter Rudi dengan tegas.
" Kematian istri dan calon bayi nya yang sebentar lagi akan lahir. Awal mula Abang saya seperti ini. Berbagai usaha sudah kami lakukan untuk meyakinkannya kalau orang yang sudah meninggal tidak mungkin bisa hidup lagi. Semua jasad sudah bisa diidentifikasi dan Dokter pun sudah menyatakan kalau mereka sudah meninggal." Jelas Hafis panjang lebar.
" Saya turut berduka cita. Ok, terima kasih untuk kerja sama nya Pak Hafis." Balas Doker.
Dokter pun berpamitan untuk melihat Mahen yang sebentar lagi sadar. Dan Hafis memilih keluar untuk menunggu anggota keluarga yang lain.
Ternyata mereka masih lama sampainya, Hafis menyewa beberapa kamar Hotel yang nantinya akan digunakan oleh kedua orang tuanya jika sudah sampai di kampung Sarah.
" Aku tidak menyangka jika kita akan benar-benar berpisah seperti ini."
" Kalau aku tahu akhirnya seperti ini tidak akan aku meminta Mama untuk melakukan ini. Karena pada akhirnya aku tidak memiliki mu lagi."
" Uang banyak yang sudah aku dapatkan untuk memulai hidup kita yang baru seakan tidak ada gunakan sebab kamu sudah tiada."
" Tapi kamu percayalah sampai saat ini aku belum pernah membagi cinta dan tubuh ku pada orang lain Sarah. Karena hanya kamu yang aku cintai dan sayangi."
" Aku bersumpah pada mu, selamanya aku akan setia pada mu dan tidak akan menikah lagi. Aku akan membesarkan anak kita, buah cinta kita yang kita miliki. Setidaknya aku sangat beruntung memiliki sesuatu yang kamu tinggalkan dari pada Bang Mahen yang sangat menyedihkan sampai harus kena gangguan mental karena kehilangan calon anak nya."
" Maaf kan aku Sarah!."
Isak tangis penyesalan yang membuatnya bersalah atas penderitaan hidup Sarah selama ini. Tidak lepas akibat dari ulahnya sendiri. Perjanjian bodoh, keserakahan, ketamakan dan ambisi yang sudah mengambil alih hati dan pikirannya dari kewarasan.
__ADS_1
Kini hanya satu buah foto yang terpasang pada layar ponsel yang hampir dua tahun ini selalu ia tatap dan dipeluknya dengan permohonan maaf yang selalu diucapkannya.