
Saat semuanya sudah pergi dari ruangan meeting. Tinggal Dinda yang masih tersisa, Dia membereskan dokumen dokumen yang nanti akan di serahkan ke pak Adam.
Dinda hanya terkejut saat Dimas masih duduk di situ. Dinda pikir sudah tidak ada orang lagi selain dirinya.
"Pak Dimas." Sapa Dinda.
"Mau kamu sebenarnya apa sih." Tanya Dimas.
"Maksud pak Dimas apa, Dinda ngak ngerti."
"Kamu itu orang baru di perusahaan ini. Seakan akan kamu itu cari perhatian ke semua orang. Dari om Adam, tante Ayu, Devan, sekarang seisi
kantor. Awalnya pura pura lugu, terus pura pura apa lagi. Kehidupanmu itu penuh drama."
Dinda masih tidak faham dari pertanyaan Dimas.
"Ohh saya mengerti sekarang maksud pak Dimas. Pak Dimas terancam dengan saya."
"Haaa saya terancam. Dinda ngaca dong, saya siapa kamu siapa."
Dinda masih merapikan meja.
"Kalo pak Dimas tidak merasa terancam, kenapa harus takut." Jawab Dinda.
"Saya itu tidak level bersaing dengan kamu." Dimas bersikap ketus.
Dimas menghampiri Dinda, Dia melangkahkan kakinya.
"Dinda kamu itu punya otak seperti batu, Dari awal kamu di sini tidak ada yang suka dengan kamu, Terus kenapa kamu masih bertahan di sini."
__ADS_1
"Terima kasih atas perhatian Pak Dimas kepada Dinda. Maaf Dinda mau pergi, saya sedang di tunggu pak Adam."
Dinda tidak memperdulikan perkataan orang lain, selama dia tidak mencuri dan berbuat jujur. Buat apa Dinda harus merasa takut.
Dimas semakin mendekati Dinda hingga jarak meraka satu sentimeter. Langkah kaki Dimas sedikit ragu, tapi kaki itu terus mendekati Dinda.
Deg ......
Dimas tidak kuat menatap bola mata Dinda. Dinda terlalu cantik untuk di beri perlakuan kasar.
Dimas ingin sekali memberi pelajaran kepada Dinda tapi hatinya berkata lain. Dinda terlalu sempurna untuk jadi seorang wanita.
Dimas tidak bisa menggendalikan detak jantungnya. Deg .... Deg ..... jantungnya berdenyut semakin kencang.
"Kenapa dengan pak Dimas." Tanya Dinda.
Dimas hanya tidak bisa melepaskan tatapan itu.
Saat tangan Dimas menyentuh Dinda seakan ada setrum yang menjalar ke tubuhnya. Suhu tubuh Dimas langsung naik beberapa derajat.
"Percakapan kita kan sudah selesai. Biarkan saya pergi."
Dimas Ingin mengatakan jangan pergi Dinda, tapi seakan mulutnya terkunci.
Dimas mencium rambut Dinda dari belakang.
seeeerrrrt
Dimas masih terusik dengan hatinya yang tidak bisa di komando.
__ADS_1
"Tuhan kenapa dengan diriku." Batin Adam.
Dinda tidak menghiraukan perlakuan Dimas. Dia hanya ingin segara menemui Pak Adam. Karena hari ini pekerjaannya cukup banyak. Tidak ada bagi Dinda untuk bersantai santai. Atau sekedar basa basi dengan Dimas yang tidak ada hasil.
Dinda melaju ke pak Adam. Lantas Dimas mengikuti dari belakang.
Dinda sudah masuk ke ruangan terlebih dahulu.
Dimas membuka pintu ke ruangan Adam. Seperti biasanya Dimas bisa masuk kemanapun yang dia kehendaki.
"Om ini benar benar tidak adil, Kenapa Om bisa mengambil keputusan sepihak. Padahal Dinda tidak punya pengalaman apa apa." Dimas datang tanpa permisi.
"Terus pengalaman mu lebih bagus gitu." Jawab Adam.
Dimas tidak bisa menjawabnya.
"Apa yang aku putuskan tidak akan aku tarik kembali. Sekarang kamu boleh keluar." Perintah Adam.
"Yang sebenarnya keponakan om itu siapa sih. Padahal dulu om tidak pernah bersikap seperti ini kepada Dimas. Hanya gara gara Dinda, om bisa berubah. Apa jangan jangan???"
"Jangan jangan apa maksud kamu." Adam balik tanya.
"Seperti rumor yang beredar di sini, Dinda itu simpanan om Adam kan."
"Kamu meragukan om mu ini. Pernahkah aku mengambil keputusan yang terburu buru. Dim om ini tidak akan merugikan perusahaan kita."
Dimas hanya diam. Karena dia tidak tahu berkata apalagi. Jawaban Adam membuatnya tidak berkutik lagi.
.........
__ADS_1
.......
.....