
Sekitar pukul satu siang ada seorang lelaki turun dari mobil. Dia sengaja melebarkan senyumnya.
Aku pun membalas senyuman itu. Ingin sekali aku memeluk lelaki itu. Tapi kenyataannya aku takut melakukannya.
Meskipun ini bukan pertama kali kita ketemu tapi ada perasaan yang aneh menyelimutiku.
Lima bulan aku dan mas Adam tidak pernah bertatap muka. Rasa rindu ini tidak bisa ku bendung lagi. Tapi ada rasa yang harus aku simpan seperti rindu ini.
Senyum mas Adam sudah cukup mengobatiku. Selama ini aku hanya bisa menatap wayahnya lewat layar handphone.
Aku menarik tangan kiri mas Adam untuk ku genggam.
"Sudah makan apa belum?
"Belum. Jawab mas Adam singkat.
Mas Adam memang tidak biasa sarapan pagi.
Aku masih memandanginya. Aku mengajak mas Adam masuk ke dalam kedai sotoku.
"Ayo ku buatkan soto. Ajakku.
Harusnya aku bilang. "Aku kangen banget. Aku malah membicarakan makanan.
Mas Adam menurut saja. Dan dia duduk di kursi menunggu soto yang ku siapkan.
Setelah beberapa menit soto itu sudah ada di atas meja mas Adam. Tidak butuh waktu lama untuk mempersiapkannya.
Aku duduk di samping mas Adam menemaninya makan. Tangan mas Adam menyentuh perut ku yang mulai membesar.
Sungguh hati ini melonjat kegirangan. Aku hanya memeluk tangan kirinya. Hanya ini yang bisa aku lakukan.
__ADS_1
Mas Adam merasakan denyut perutku. Ada nyawa yang hidup sana.
Aku tau mas Adam sangat bahagia. Ku lihat mata nya sedikit berkaca.
Sepertinya Ayu belum juga hamil saat ini. Hingga mas Adam bereaksi seperti ini.
"Lanjutkan makannya. Perintahku.
"Sebentar saja, aku ingin merasakan denyut anak kita.
"Nanti ada orang. Aku mulai gelisah melihat kanan dan kiri. Kebetulan siang hari tidak ada orang yang lalu lalang.
"Sayang aku kangen. Bisik mas Adam.
Aku tidak membalas ucapan mas Adam. Seandainya dia tau aku juga merasakan hal yang sama.
Ingin sekali aku memeluk lelaki itu dengan leluasa seperti yang aku lakukan pada mas Gilang. Tapi apa dayaku ....
"Lanjutkan makanmu nanti ku buatkan teh panas.
Dia memang seperti itu selalu bisa mencairkan suasana. Seperti hidupnya baik baik saja. Padahal yang aku tahu dia lebih pusing ngurusin usahanya yang mulai buka cabang.
Dari ubannya saja aku tau kalau dia seorang pemikir. Mas Adam sengaja mengecat rambut nya untuk menutupi banyak uban yang mulai tumbuh.
"Selalu gitu, lanjutkan makanmu. Aku mengalihkan pembicaraan.
"Sekarang uangnya banyak dong kalau jadi bos. Ledeknya lagi.
"Yang ada kamu itu.
Kami masih saja melempar guyonan kecil. Dalam tawa ini tersimpan banyak harapan yang ingin ku sampaikan. "Seandainya saja aku dan mas Adam bisa bersama dalam dua puluh empat jam. Sungguh hal yang sangat luar biasa.
__ADS_1
Tapi itu tidak mungkin karena kami di dua dunia yang berbeda. Aku dengan duniaku dan mas Adam dengan dunianya.
Sungguh jalan yang aku pilih membuat ku tak berdaya.
Mas Adam setelah menghabiskan makanannya. Dia berjalan jalan menuju toko souvenirku.
Berulang kali dia memutari jejeran souvenir ahkirnya dia berhenti di walldecor.
"Bisakah aku memesan ini sepuluh. Mas Adam menunjuk hiasan dinding itu. Hiasan itu kombinasi dari beberapa bahan alami. Yang ukurannya tujuh puluh kali empat puluh sentimeter.
"Tapi itu harganya delapan ratus ribu. Aku menjelaskan.
"Gampang nanti aku transfer.
"Hmmm.
"Aku mau yang sama persis. Pinta mas Adam.
"Ya. Jawabku pendek.
"Dan......
Belum selesai mas Adam melanjutkan aku lebih dulu menutup mulutnya dengan tangan. Aku tahu mas Adam sekali bicara soal bisnis akan menjadi panjang.
Kemudian mas Adam menggigit tanganku.
Terrrt terrrt
Suara handphone ku berbunyi ku lihat pesan menunjukkan transfer uang masuk ke rekeningku dengan jumlah uang dua kali lipat dari perjanjianku dengan mas Adam.
Mas Adam biasanya pura pura tidak tahu jika aku menanyakannya.
__ADS_1
"Terima kasih sayang. Bisikku.
Mas Adam hanya tersenyum.