
Aku masih kesel dengan kelakuan mas Gilang. Tapi apa dayaku... Aku hanya seorang wanita yang harus tunduk terhadap suamiku.
Aku masih terkunci di dalam kamar. Mau keluarpun tidak bisa. Karena kunci kamar masih di sembunyikan mas Gilang.
Tangan mas Gilang terus menjelajahi tubuhku. Tapi aku tidak mau di sentuh olehnya. Setelah dia menyeretku. Aku sungguh kesal.
Mas Gilang tidak ingin minta maaf atas perbuatannya. Seakan dia telah lupa kalo menyeret istrinya yang sedang hamil.
Aku saja masih teringat jelas kejadian beberapa jam lalu.
Aku heran dengan lelaki ini setelah berbuat kasar terus meminta sesuatu padaku.
"Hello kalo meminta itu harus dengan baik baik." Batinku.
Mas Gilang mengenduskan hidungnya ke seluruh bagian tubuhku.
Tapi aku terus menolak. Aku menendang mas Gilang dengan sekuat tenaga.
Lantas kedua pergelangan tanganku di cengkeramannya kuat kuat. Tubuh mas Gilang menindih tubuhku hingga aku tidak bisa bergerak.
Aku masih berontak dan menolak kecupan kecupan itu. Namun mas Gilang tidak peduli.
Seakan dia ingin melampiaskan kemarahannya.
Aku masih di hajar dengan serangan serangan mas Gilang.
__ADS_1
Seorang wanita akan melakukannya dengan senang hati jika hatinya bener bener menginginkannya. Tapi tidak untuk saat ini...
Aku hanya muak melihat mas Gilang. Melihatnya saja aku sudah ingin mendorong dari hadapanku.
Tapi apa dayaku aku hanya wanita lemah yang tidak bisa menyaingi kekuatan lelaki.
Memang seharusnya begitu. wanita harus menuruti apa yang di mau lelakinya. Termasuk di atas ranjang.
Setelah capek untuk berontak. Akhirnya aku menyerah juga, dengan sisa sisa tenagaku.
Aku mengikuti permainan suamiku. Awalnya dengan malas aku terjun ke permainan ini.
Tapi mas Gilang selalu bisa membuatku bernafsu.
Sampai akhirnya aku lebih bersemangat di bandingkan mas Gilang.
Mungkin ini permintaan maaf mas Gilang yang ingin di sampaikan.
Kebencianku terhadap mas Gilang tiba tiba sirna dalam hitungan menit saja. Begitu juga dengan mas Gilang seakan aku tidak pernah membuat kesalahan.
Padahal aku sudah membuatnya sakit hati. Apakah dia sudah memaafkan aku dan melupakan semua yang terjadi. Entahlah hanya mas Gilang yang tau.
Meski aku sekarang ini tidur di pelukannya tapi aku tidak tau isi hatinya.
Tangan mas Gilang memelukku hingga aku tertidur di pelukannya.
__ADS_1
Suamiku tetap suamiku semarah apa pun dirinya, aku tidak bisa menolak apapun darinya.
Meski dengan berat hati aku menolak kemarahan tapi aku tidak bisa menolak cintanya.
Semarah apapun diriku. Tapi tetap saja menikmati kelembutan hatinya.
Malam ini terasa panjang karena hampir semalaman kami bergadang.
Begitu egokah lelaki di depanku ini. Mengucapkan kata maaf saja begitu sulit.
Meski aku wanita yang keras kepala tapi lebih keras watak mas Gilang.
Dan wanita yang harus sedikit menurunkan egonya. Terkadang aku juga ingin mengungkapkan perasaanku. Tapi selalu aku urungkan demi untuk menjaga perasaan suamiku.
Tanpa aku sadari perasaan yang aku jaga menjadi boomerang untuk diri ku sendiri.
Hari semakin siang...
Aku baru saja bangun karena tiga jam lalu aku baru memejamkan mata.
Perutku ini terasa lapar. Aku berusaha mencari kunci pintu. Aku sudah mencari di semua sisi kamar tapi belum juga ketemu.
Hingga aku punya inisiatif mencari di saku celana suamiku. "Ahkirnya ketemu juga."
Dengan pelan pelan aku mengambilnya takut dia terbangun.
__ADS_1
Aku kegirangan bisa keluar dari kamar dan membuat sarapan. Karena lapar ini sudah tidak bisa di tunda lagi.
Aku dan Dinda sarapan meski dengan lauk seadanya. Karena sudah siang aku tidak sempat belanja.