
Mama Kemala hanya menatapi wajah Syifa yang menemaninya tidur malam ini. Wajah Syifa yang begitu mendominasi wajah Sarah, wanita yang dicintai oleh kedua putranya. Namun karena perasaan bersalahnya pada Hafis, makanya ia rela melakukan semuanya ini. Tapi kenyataannya sungguh berbeda, Sarah malah tidak bisa bersama Hafis karena perbuatannya.
"Maaf kan nenek sudah memisahkan mu dari Mama Sarah." Gumam Mama Kemala mencium kening Syifa untuk beberapa saat hingga akhirnya Mama Kemala merebahkan tubuhnya didekat Syifa dan mulai tertidur.
Keesokan paginya...
Mama Kemala dan Syifa sudah rapi dan bersiap untuk menjenguk Papa Darwin di rumah sakit yang sebentar lagi akan dijemput oleh Hafis.
"Ifa cepat habiskan makanannya!. Papa sebentar lagi akan sampai." Mama Kemala baru saja menghabiskan makanannya.
"Iya nenek, sebentar lagi ini habis." Syifa memperlihatkan sisa makanannya yang tinggal sedikit.
"Pintarnya cucu Nenek!." Puji Mama Kemala mengelus rambut kepala sekalian mengambil tas yang masih tertinggal di dalam kamar.
Baru saja Syifa menghabiskan makanannya, berbarengan dengan Hafis yang baru masuk dan langsung duduk di sebelah Syifa.
"Nenek, Papa sudah datang!." Syifa sedikit berteriak memanggil Mama Kemala yang masih ada di dalam kamar.
"Santai saja sayang, Papa mau makan dulu. Dari semalam Papa sangat kelaparan." Jelas Hafis yang langsung saja mengisi piring dengan nasi dan lauk.
Syifa hanya tersenyum melihat kelakuan Hafis yang mirip dengan dirinya kalau sedang lapar seperti ini. Makan dengan lahap, lauknya apa jadi, yang penting bisa dimakan dan perut kenyang.
"Syifa menertawakan Papa?." Sungut Hafis bersemangat ingin segera menghabiskan makanannya.
"Papa lucu!." Balas Syifa sambil menoleh kebelakang dimana Mama Kemala sudah berdiri dengan tentengan tasnya.
"Nenek sudah siap?." Mama Kemala mengangguk mengiyakan dan megambil beberapa tempat makanan yang disiapkannya untuk Papa Darwin.
__ADS_1
"Ayo Ifa kita tunggu Papa di dalam mobil aja. Tolong bantu Nenek bawakan ini." Mama Kemala menyodorkan dua tempat makan yang berisi potongan buah pepaya kekuasaan Papa Darwin, jadi tidak begitu berat jika dibawa oleh cucu nya itu.
"Iya Ma, hanya tinggal dua suap." Balas Hafis menatap punggung sang Mama dan sang putri kecil nya.
.
.
Sampai di rumah sakit, Bukanya Papa Darwin senang dengan kedatangan Mama Kemala. Ini malah sebaliknya Papa Darwin kurang begitu suka dengan keberadaan Mama Kemala disisinya. Bukanya ia kemarin sudah bilang pada Mahen untuk tetap membiarkan Mama Kemala di rumah menjaga Syifa?. Ini malah datang dengan membawa banyak makanan.
"Papa enggak suka Mama datang kesini?." Bisik Widi mendekati Papa Darwin. Tatapan keduanya tertuju pada Mama Kemala yang begitu repot menata makanan supaya Papa Darwin langsung bisa makan. Dan Papa Darwin pun hanya mengangguk saja karena tidak ingin terdengar oleh Syifa.
"Kalau enggak Papa bicara berdua sama Mama. Biar aku yang bawa Syifa keluar, supaya Papa lebih leluasa mengeluarkan uneg-uneg pada Mama." Usul Widi yang langsung saja mengajak Syifa untuk ikut dengannya pergi ke Mini Market terdekat.
"Widi kenapa pergi?. Ayo makan dulu sama Papa!." Mama Kemala menahan tangan Widi.
"Aku udah makan. Jadi Mama sama Papa aja ya, aku sama Syifa jalan dulu ya." Pamit Widi pada Mama Kemala dan Papa Darwin.
"Ayo Pa Makan!. Mama suapi ya?." Mama Kemala menawarkan diri sembari membawa piring sudah terisi makanan lengkap.
"Papa tidak lapar, Ma." Tolak Papa Darwin, ia menatap wanita yang sudah menemaninya sekian lama dan memberinya tujuh anak, enam anak laki-laki dan satu anak perempuan.
Papa Darwin menghela nafas sebelum ia akan melayangkan beberapa pertanyaan yang sudah lama ingin dikatakannya. Namun selama ini tidak ada cukup keberanian dengan alasan kalau Papa Darwin tidak ingin seorang diri menikmati hari-hari dalam masa tuanya. Tapi kini ia harus menghadapi apa pun itu untuk mengurangi rasa bersalah yang selama ini dirasakannya pada Sarah.
"Apa Mama tidak sedikit pun merasa bersalah pada Syifa, Hafis dan Mahen?." Kalimat yang sudah disusun Papa Darwin akhirnya bisa dengan lancar diucapkannya pada Mama Kemala.
Tanpa diduga oleh Papa Darwin, Mama Kemala menghampiri dan memegang erat tangan suaminya itu dengan menahan air matanya. "Sangat Pa, Mama sangat menyesal pada semuanya atas perbuatan Mama selama ini kepada mereka. terlebih pada Sarah. Dan Papa tenang saja, Mama akan mempertanggung jawabkan perbuatan Mama."
__ADS_1
"Tapi sekarang Papa harus sehat dulu. Jadi kalau waktunya Mama enggak ada, Papa dalam keadaan sehat dan bisa mengurus semuanya sendiri." Lanjut Mama Kemala berusaha tegar. Karena bagaimana pun ia wanita dewasa bahkan sudah tua dan sudah bau tanah jadi ia sangat tahu dengan semua perbuatannya yang menuntutnya untuk bertanggung jawab. Apalagi yang paling dibuatnya menderita adalah anak, cucu dan menantunya sendiri.
Papa Darwin hanya mampu diam dan berusaha menyiapkan semuanya sebelum apa yang dikatakan oleh Mama Kemala benar-benar terjadi.
.
.
"Kenapa Mbak Widi keluar?."
"Papa" Syifa begitu senang dengan kedua es krim ditangannya.
"Iya sayang, jangan terlalu banyak ya makan es krim ya nanti batuk." Hafis masih menatap Syifa kemudian beralih pada Widi yang masih belum menjawab pertanyaannya.
"Kamu merasa enggak Hafis, kalau Mama dan Papa sepertinya sedang ada masalah?. Bang Mahen kayanya tahu masalah ini, tapi disimpannya sendiri." Tanya Widi saat Syifa sudah berjalan terlebih dahulu meninggalkan mereka.
"Iya aku tahu, tapi aku rasa tidak terlalu serius. Jadi Mbak Widi jangan terlalu khawatir." Hafis memang tidak terlalu jauh mengetahui apa pun tentang kedua orang tuanya, yang ia tahu hanya Papa Darwin tidak ingin untuk menemui Mama Kemala.
"Tapi...."
"Sudah lah Mbak Wid, kita berpikir positif saja. Namanya juga orang tua sama seperti kita, nanti juga mereka bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri." Potong Hafis sambil mengajak Widi untuk berjalan cepat guna menyusul Syifa.
.
.
Seperti pengantin baru saja Mahen dan Sarah tidak ada hentinya melakukan penyatuan dengan beberapa gaya yang sudah lama tidak mereka praktekan. Semua ruangan kerja Mahen menjadi saksi percintaan mereka yang begitu panas, liar dan buas. Ingin saling memuaskan, memuja dan mendamba atas tubuh masing-masing.
__ADS_1
"Bang...Ah cepat keluarkan!. Sebentar lagi Sandra bangun." Sarah memperingati Mahen supaya bermain dengan cepat. Ia tidak ingin Sandra melihat mereka dalam posisi yang sedang di atas meja.
"Sebentar lagi sayang, Abang akan segera sempai!." Gumam Mahen. Menghentak semakin kuat inti Sarah sampai Sarah harus melenguh cukup kencang.