
Mahen keluar begitu saja dari kediaman Pak Arifin tanpa menyapa Sarah dan terkesan tidak mengenalinya. Kini Mahen duduk termenung dibalik kemudi, mengurai kembali ingatan beberapa menit lalu yang terjadi di dalam rumah Pak Arifin.
" Kenapa aku memiliki perasaan tak tega untuk mengambil kebahagiaan yang dimilki Sarah dan Sandra saat ini?. Bukannya aku harus bahagia setelah menemukan mereka kembali dan dalam keadaan baik-baik saja?. Apa iya aku hanya mampu menorehkan luka pada hidup nya tanpa bisa memberi rasa aman, nyaman dan bahagia?. Apa aku harus merelakan mereka pergi selamanya dari ku?."
" Sandra "
Bagaikan seorang wanita kini Mahen menangis sejadi-jadinya di dalam mobil dengan tangan menutup wajah nya. Mengingat nama yang sejak dulu ingin disematkan pada anak perempuan nya.
Kini keinginan itu sudah terwujud dengan hadir nya anak perempuan dari darah daging Mahen sendiri namun ia tidak bisa bersama dan memiliki anak itu.
Begitu juga dengan Sarah kini sedang menangis di sudut kamar dengan suara yang dibuat se-pelan mungkin karena Sandra yang tertidur pulas. Dikira akan mendapatkan pelukan hangat dari orang dan tubuh yang sangat dirindukannya. Malah ia melihat sikap datar Mahen dan seakan tidak mengenali dirinya dan Sandra. Itu hal yang membuatnya terisak sedemikian rupa.
" Apa Abang tidak pernah berharap bertemu lagi dengan kami?, hingga aku tidak melihat adanya kehilangan atau pun kerinduan dalam mata Bang Mahen?. Apa selamanya kita akan tetap terpisah seperti ini?."
.
.
Terhitung sudah satu minggu setelah pertemuan Mahen dan Sarah. Tidak sedikit pun Mahen berusaha untuk menemui Sarah dan Sandra atau pun sekadar mencari tahu kenapa Sarah dan Sandra bisa berada di rumah salah satu klien yang sangat berjasa untuk perusahaannya. Justru Mahen malah menyibukkan diri dan tenggelam dalam pekerjaan yang tidak berkesudahan. Dan belum ada yang mengetahui jika Mahen sudah bertemu dengan Sarah dan putri kecil nya.
" Bang Mahen " Sebenarnya Erik tahu tentang kemelut Bos nya itu. Tapi Erik tidak tahu jelas apa yang sedang terjadi pada Mahen.
" Hem " Sahut Mahen singkat.
" Pak Arifin meminta bertemu dengan Bang Mahen sore ini sekalian mengundang Bang Mahen untuk makan malam." Ucap Erik memberitahu.
" Disini?." Tanya Mahen tetap fokus pada layar yang sudah satu minggu ini menemani hari-harinya.
" Bukan Bang Mahen, di rumah nya Pak Arifin." Balas Erik.
Mahen menghentikan aktivitasnya sejenak sebelum bicara dengan Erik dengan tatapan yang kosong.
" Kau dan Rendy saja yang datang. Biar aku yang jaga di sini. Kalau Pak Arifin bertanya bilang saja ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan." Jawab Mahen kembali fokus pada pekerjaan.
" Rendy tidak bisa Bang Mahen, karena harus mengantar Sari ke Dokter kandungan." Terang Erik menjelaskan. Dan Mahen hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
" Ya sudah kau saja sendiri yang datang. Tolong sampaikan saja permohonan maaf dari ku." Pungkas Mahen.
Erik hanya mengerutkan keningnya dengan perintah Mahen, yang bukan seperti biasanya jika bekerja akan bersemangat untuk bertemu dengan setiap klien nya dimana dan kapan pun.
" Sedang ada masalah apa Bang?." Erik memberanikan diri untuk bertanya pada orang yang sudah dianggapnya Abang sendiri.
" Tidak ada, hanya saja aku tidak ingin diganggu. Lagi ingin menyendiri saja." Jawab Mahen datar sambil menutup layar didepannya.
" Kalau kau butuh sekali dengan ku, kau bisa datang ke ruang meeting. Kalau tidak ada jangan ganggu aku." Lanjut Mahen meninggalkan Erik dengan pertanyaan yang masih belum menemukan jawabannya.
.
.
" Kenapa wajah mu murung?, ada apa?." Umi menghampirinya di Gazebo dekat kolam renang.
Ifin menatap intens wajah Umi yang sudah terlihat segar dan cantik." Pak Mahendra tidak bisa ikut makan malam bersama kita umi, Pak Mahendra hanya mengutus Asistennya saja. Katanya ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan sudah deadline."
Umi Fitri menghela nafas panjang sambil menatap langit yang tiba-tiba saja menurunkan air dan membasahi tanaman milik nya.
" Mungkin Pak Mahendra memiliki alasan tersendiri kenapa menolak undangan kita dan lebih mementingkan pekerjaannya." Umi Fitri merasa alasannya karena Sarah. Namun ia simpan di dalam hati.
Sementara itu Sarah yang sudah berada di rumah belakang dan baru saja mendandani Sandra sehabis mandi. Menyuapi makan si kecil Sandra yang rupanya sudah sangat kelaparan sampai menghabiskan satu piring penuh nasi dengan lauknya ikan goreng dan sayur bayam.
" Anak Mama lapar banget ya?." Sarah merapikan perabotan makan Sandra dan diletakkan di dalam wastafel. Si kecil Sandra yang belum pandai bicara pun hanya tertawa seolah paham dengan apa yang dikatakan oleh Sarah dan menertawakan dirinya yang makan dengan begitu lahap nya.
Sarah begitu gelisah kala tahu malam ini Mahen akan makan malam di rumah Pak Arifin dan dirinya diminta untuk datang menemani Umi Fitri. Ingin rasa nya Sarah menolak, tapi rasa nya tidak mungkin juga mengecewakan Umi Fitri yang sudah banyak membantu dirinya. Yang bisa dilakukannya saat ini hanya datang, duduk manis, makan dan setelah selesai baru pulang.
" Simple kan hanya seperti itu?." Gumam Sarah menyemangati diri nya sendiri.
Sarah dan Sandra sudah diminta untuk hadir di rumah utama.
" Tamunya Pak Arifin sudah datang?." Tanya Sarah sambil menahan jantung nya supaya tidak copot dari tempat nya.
" Sudah Mbak Sarah, sudah ada sepuluh menit yang lalu." Jawab salah seorang pegawai di rumah utama.
__ADS_1
Ini pertemuan kedua bagi dirinya dan Mahen. Dan Sarah akan melihat reaksi nya Mahen nanti saat mereka berinteraksi secara langsung.
" Sandra " Sandra dengan riang berlari ke arah Pak Arifin sambil merentangkan tangannya minta di gendong.
Erik mengulas senyum melihat Pak Arifin begitu dekat dengan yang namanya anak kecil sebelum kedua matanya menangkap sosok wanita yang sangat dikenalnya.
Deg
" Sarah "
Tatapan Erik untuk beberapa saat melihat Sarah yang jauh lebih cantik dan dewasa lalu Erik beralih menatap Sandra yang berada dalam gendongan Pak Arifin.
" Jadi ini alasan Bang Mahen menolak untuk datang ke sini. Karena Sarah dan putri mereka." Batin Erik menggelengkan kepala untuk mengusir pertanyaan yang baru saja bermunculan di dalam kepalanya.
" Ayo Erik kita langsung ke meja makan, sayang Pak Mahendra tidak bisa datang."
" Iya Pak Mahen sedang berhalangan hadir karena pekerjaan." Jawab Erik menatap ke arah Sarah, ingin tahu reaksi Sarah namun Sarah bersikap biasa saja.
Entah kenapa Sarah merasa sedih dan kecewa kenapa Mahen tidak datang. Apa karena dirinya dan Sandra atau karena apa?. Tapi sebisa mungkin ia menutupi nya.
" Umi " Sarah membantu Umi untuk mengambil beberapa makanan ke dalam piring Umi Fitri.
" Sandra udah makan?." Pak Arifin menangkap gelagat Erik yang begitu fokus menatap Sarah.
" Udah tadi sebelum ke sini." Jawab Sarah yang mengambil posisi duduk dekat Umi Fitri.
Usai makan malam, Erik hanya sebentar saja berbincang dengan Pak Arifin karena undangan malam ini khusus untuk makan malam saja bukan untuk membicarakan bisnis. Setelahnya ia langsung pamit pulang dengan hujan yang masih deras.
Erik langsung melajukan mobil nya meninggalkan rumah Pak Arifin setelah melihat Sarah dan Sandra yang dipayungi oleh Pa Arifin menuju sebuah rumah yang berada tepat di belakang rumah besar milik Pak Arifin.
Tidak terlalu jauh dengan posisi Erik saat dari yang baru saja keluar dari rumah itu, Mahen sudah berada di dalam mobil dekat gerbang rumah Pak Arifin.
" Bang Mahen " Erik mengenali mobil yang entah sejak kapan terparkir di sana. Lalu ia mendekat dan keluar mobil menerobos hujan.
Erik mengetik kaca jendela mobil Mahen dan tidak menunggu lama kaca turun sedikit.
__ADS_1
" Temui saja Bang, Sarah dan Sandra. Mereka tinggal terpisah dengan Pak Arifin. Sandra dan Sarah menempati rumah yang belakang." Teriak Erik karena berisik dengan bunyi hujan yang deras menimpa mobil.
" Jangan banyak berpikir, aku yakin Sarah dan Sandra juga sangat merindukan Bang Mahen. Aku akan bantu Bang Mahen untuk masuk." Lanjut Erik dengan pakaian yang sudah basah kuyup.