
Pagi
"Mas kita jalan jalan yuk. Rugi kalo kita hanya diam di dalam rumah." Pinta Ayu terhadap suaminya.
"Kemana."
"Ya pokoknya kita mencari udara segar."
Mas Adam memanasi mobil perak itu. Kemudian Ayu memasuki mobil. Dia duduk di depan di samping suaminya.
Setelah mengitari jalan di pegunungan Ayu tidak mendapat tempat tujuannya.
"Aku senang disini mas. Udaranya dingin ngak kaya di kota."
"Iya."
"Kita tinggal di sini saja. Gimana?????"
"Engak ahhh. Gimana kerjaan ku." Sambung Adam. Sebenernya Adam hanya tidak mau jika Nanti Ayu ketemu dengan Rosa.
"Kan kerjaan bisa di bawa."
"Itukan kerjaanmu. Tapi kerjaanku." Memang bisnis mas Adam terlalu banyak hingga dia harus berpindah pindah. Hari ini di Kota A besok di kota B dan lusa di kota C. Yang namanya rejeki di mana saja harus di terima.
Ayu hanya tersenyum.
"Mas kita berhenti di sini."
"Ada apa?"
Mas Adam memarkir kan mobilnya.
"Ayo mas."
__ADS_1
Mas Adam memperlambatkan langkahnya. Sementara Ayu begitu semangat memasuki sebuah kedai.
"Kita sarapan dulu ya."
Mas Adam tiba tiba tidak banyak bicara. Dia berharap tidak masuk ke kedai itu.
"Ayo mas." Ayu memesan dua porsi Soto.
"Mbak ... sotonya dua ya."
"Iya." Aku menjawabnya.
Mas Adam menyibukkan diri dengan bermain handphone.
"Mas sepertinya aku pernah bertemu dengan wanita itu. Tapi di mana ya ....." Ayu mencoba mengingat kembali memori nya.
"Mbak sama minumnya dua." Teriak Ayu.
Aku mengantarkan minuman terlebih dahulu. Aku menyiapkan teh panas kesukaan mas Adam.
Sementara Devan tidak ikut hari ini karena mas Gilang yang menjaganya. Nanti siang mas Gilang berencana mengantarkan Devan kesini.
"Mbak kita pernah ketemu di mana ya." Istri mas Adam mengajakku ngobrol.
Sementara salah satu tangan mas Adam menggenggam tanganku di balik meja.
Deg .......
Hati ku berdenyut tidak karuan. Perasaan yang sudah lama hilang kini hadir kembali.
"Maaf mungkin salah orang." Jawabku. Kemarin aku kebetulan hanya memakai daster kemungkinan istri mas Adam sedikit lupa.
Manusia itu hanya sebuah casing jika di beri pakaian yang bagus akan terlihat bagus. Sementara pertemuanku dengan Ayu kemarin , aku hanya memakai daster dan tidak bermake up.
__ADS_1
Gadis desa seperti aku pun akan terlihat cantik jika di make over.
Aku berusaha melepaskan tangan mas Adam. Tapi tangan besar mas Adam begitu kuat menggenggamku.
Aliran darah mas Adam seakan menyatu dalam tubuhku. Tangannya begitu halus tidak seperti mas Gilang yang kasar karena suamiku seorang montir.
Aku tidak bisa memberi kode kepada mas Adam, khawatir istrinya akan curiga.
"Mas teh nya gimana." Ayu mencicipi teh yang aku buat. Memang mas Adam itu terlalu pemilih jika soal makanan.
Memang hidup mas Adam terlalu berlebihan tentang semua hal ..... apalagi soal protokol kesehatan.
"Hemmm sesuai selera mu mas." Kata Ayu.
"Iya mungkin kebetulan." Jawabku
"Hebat kamu mbak." Puji Ayu.
"Kau belum tahu seberapa hebatnya aku. Jika aku mau suamimu bisa jadi milik ku saat ini." Batinku.
Jangan kan hanya selera mas Adam. Aku sudah lebih dulu memahami luar dalam mas Adam. Mas Adam memang tidak terlalu suka dengan masakan yang tajam misalnya terlalu asin atau terlalu manis. Dan Teh panas dengan sedikit gula dulu sering aku siap kan.
Aku menyajikan soto yang di pesan istri mas Adam. Kali ini mas Adam minta dengan nasi bukannya lontong. Karena rata rata penjual soto di sini memang menggunakan nasi.
Ketika Ayu sedang menoleh ke arah yang berlawanan dengan ku. Mas Adam menempelkan bibirnya ke pipiku. Aku yang mulai sadar langsung menarik tubuhku.
Untung saja Ayu tidak mengetahui kelakuan suaminya. Padahal sebenarnya aku ingin kejadian itu berlangsung lama tapi sayangnya hanya beberapa detik saja.
Ingin sekali aku memandang wajah itu. Tapi ......
.........
Disela sela mas Adam menyendok nasi dia mencoba memandangku dari kejauhan.
__ADS_1
.......