
"Pa... kapan kak Dinda ke sini lagi." Tanya Devan. Pesan itu di kirim Devan lewat handphone.
"Kalo Devan mau. Devan bisa telpon kak Dinda." Jawab papanya.
"Beneran pa... Asikk." Devan kegirangan.
Terrt terttt.
"Kak Dinda ....." Devan melambaikan tangan.
"Devan."
"Kak main dong ke rumah Devan. Devan kangen nih."
"Tapi kakak masih kerja."
"Kalo Devan yang minta papa ngak bakalan marah."
"Iya kapan kapan kakak main ke rumah Devan. Kakak sekarang masih sibuk."
Dinda memberikan seribu alasan. Bukannya Dinda tidak mau menemani Devan. Tapi pekerjaannya sungguh menumpuk. Pak Adam bisa marah jika tidak selesai tepat waktu
"Dinda kamu sudah makan siang." Tanya pak Adam.
"Belum pak."
"Kalo belum pesankan makanan untuk aku juga."
"Iya pak."
__ADS_1
Pak Adam selalu memperhatikan makan Dinda. Apakah yang di katakan pak Dimas itu memang benar. Dinda juga merasa kalo pak Adam itu memberi perhatian lebih di bandingkan karyawan lain.
"Ya Tuhan... Ini ngak mungkin terjadi. Pak Adam
lebih pantas jadi bapak di bandingkan dengan sebuah pasangan." Batin Dinda.
Pikiran Dinda mulai tidak karuan."Apakah memang benar gosip yang sedang beredar."
"Kak Dinda........" Suara Devan memasuki ruangan pak Adam.
"Devan." Dinda kaget hingga lamunannya buyar.
"Ngapain kamu kesini." Tanya pak Adam.
"Devan pengen main sama kak Dinda. Katanya kak Dinda sibuk, jadi Devan kesini aja." Seru Devan.
Dinda pengen banget nepuk jidatnya, gara gara ulah Devan.
"Apa itu kak."
"Kamu mau." Dinda memperhatikan isi nya.
"Kakak suapin ya." Pinta Devan.
"Devan kamu belum makan ya." Tegor papanya.
"Sudah sih pa... Tapi Devan mau makan bareng kak Dinda." Jelas Devan.
"Iya pak, Dinda seneng koq."
__ADS_1
Adam hanya bisa geleng geleng melihat kelakuan Devan. Mereka memang saudara, meski sudah di pisahkan mereka akhirnya akan bersatu juga.
Adam mengirimkan foto kebersamaan Dinda dan Devan kepada Rosa.
Adam merasa bersalah telah memisahkan kedua saudara itu.
"Pa... hari ini kak Dinda nemenin Devan ya."
"Tapi Devan. Kakak lagi kerja."
"Iya baiklah." Jawab Adam."Dinda kamu temenin Devan.
Dinda takut kalo Devan akan menangis. Yang lebih di takuti lagi adalah pak Adam akan marah, bisa bisa nasibnya terancam.
Dinda hanya sedikit kesal, jauh jauh Dinda meninggalkan desanya dan kerja di kota, Setibanya di sini hanya jadi pengasuh anak bosnya."Ahhh
Demi sebuah pekerjaan Dinda harus rela melakukan apapun. Mungkin besok lebih ekstrim dari ini. Mungkin mengepel atau mengecat dinding. "Haaa haaa." Batin Dinda.
Sementara Rosa bahagia karena Dinda bisa ketemu dengan adiknya yang sudah lama hilang.
Rosa berharap kedua saudara itu akan rukun selamanya. Entah sampai kapan rahasia ini disimpannya. Mungkin Waktu yang akan menjawabnya. Ini hanya soal waktu saja.
Atas ijin pak Adam, Dinda bermain mengelilingi kantor. Semua karyawan melihat Dinda dengan mata uang sinis. Entah apakah mereka Iri terhadap Dinda. Karena Dinda sudah mengambil perhatian semua keluarga Adam. Padahal Dinda adalah orang yang baru bekerja di perusahaan ini.
Mulai dari pak Dimas. Pak Adam dan istrinya. Sekarang malah anaknya.
Entah Dinda mengunakan tipu muslihat apa, Hingga dia lebih terlihat menonjol di bandingkan karyawan yang lain.
Wajah ndeso Dinda menjadi modal utama. Untuk mengambil perhatian para petinggi di perusahaan
__ADS_1
Ini.
Dinda sekarang menjadi buah bibir. Setiap apa yang di lakukan menjadi sorotan. Dinda sekarang bagai artis karbitan. Yang karirnya langsung meroket.