Suami ke dua

Suami ke dua
Kabari aku


__ADS_3

Sudah dua hari mas Adam tidak mengabari aku. Aku hampir gila tanpa kabar darinya.


"Sayang kabari aku". Pesan singkat itu ku kirimkan.


Namun tidak ada jawaban. "Mas Adam jika kamu marah. Maki saja aku, tapi jangan diamkan aku seperti ini. Diammu ini membuat aku sakit".


"Kabari aku.


"Kabari aku.


"Kabari aku.


Udah berapa pesan yang aku kirim namun mas Adam tidak juga merespon.


Tiba tiba air mata ini mulai sembab aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku ini. Aku tidak bisa mengendalikan diri ku.


Aku mulai menangis sejadi jadinya. Isak tangis ini terbata bata, karena dadaku ini semakin sesak.


Aku mencoba menelepon mas Adam tapi dia menutupnya dengan mudah.


"Sayang angkat dong". Ku kirim pesan singkat.


"Ada :apa". Jawab mas Adam jutek.


"Alhamdulillah... akhirnya kamu angkat juga. Sayang maafin aku".


"Sudah ya". Mas Adam mencoba menutup telponnya.


"Kamu maafin aku kan". Isak tangisku belum reda.


"Iya". Jawab mas Adam tidak membuatku lega.


" Kamu ngak marah kan".


Mas Adam tidak menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Sudah ya".


"Kamu di mana".


Ku dengar suaranya tidak nyaman berbincang denganku. Walau demikian aku masih menunggu jawaban.


"Di sini banyak orang".


Mas Adam sepertinya bersembunyi mencari tempat yang tidak di dengar orang.


"Sudah ya.


"Sayang.... Sayang". Mas Adam menutup telponnya.


tuuut tuuut aku masih memanggil mas Adam tapi suaranya sudah tidak terdengar lagi.


Saking kesalnya aku memaki maki telponku. Kemudian ku banting ke kasur.


Dalam keadaan marahpun aku masih bisa berpikir jika ku banting ke lantai handphoneku sudah pasti almarhum.


Apakah mas Adam disana bisa berlaku tenang. Aku yakin dia pun juga risau sama seperti aku. Hanya saja dia bisa menyimpan rapi perasaannya.


"Assalamualaikum". Suara Dinda pulang dari sekolah.


"Waalaikumsalam sayang".


Dinda mencium tangan kananku. Kemudian mencium pipi kanan dan kiri.


"Ganti baju dulu".


"Iya buk. Bentar lagi. Dinda kan masih capek".


Selesai mencopot sepatu dinda langsung makan. Kebetulan aku lagi masak kesukaannya. Perkedel kentang itu di makan hingga membuat noda di baju putih.


"Dinda". Teriak ku.

__ADS_1


"Maaf".


"Maaf maaf. Sudah di bilangin ganti baju dulu.


Dinda pun takut dengan teriakan ku. Aku memang jarang sekali marah. Entah ada apa dengan ku. Hanya masalah kecil saja aku bisa marah seperti ini.


Dinda memelukku dari belakang. Dia tidak tahu apa kesalahannya. Mungkin cara itu yang bisa dia lakukan untuk meminta maaf.


"Ya udah lanjutkan makannya". Aku masih ketus juga.


Padahal aku dulu sebelum menikah adalah gadis yang lemah lembut tapi sekarang menjadi banyak bicara seperti ini.


Jika sudah berteriak tetangga pada dengar semua. Entah volume ini susah untuk di kecilkan.


Selesai makan Dinda mengganti bajunya. Kemudian dia duduk di pangkuanku. Aku tau di merasa bersalah dan mencoba mengambil hatiku.


"Ohh anak sayang. Dinda sayang ngak sama ibuk". Tanyaku.


"Iya sayang". Dinda langsung menciumku.


"Kalo sayang kenapa ngak nurut kata ibuk".


"Lupa".


"Itu bukan lupa namanya. Dinda males berdiri untuk gantikan". Tegasku


"Iya".


"Kalo sayang sama ibuk harus nurut. Nanti kalo ibuk nya capek bagaimana? ibuk kan ngak boleh capek, nanti adek nya ikut capek. Apa ngak kasihan lihat ibuk". Aku memberi pengertian terhadap Dinda.


"Iya".


"Sudah ngerti kan".


"Iya. Maaf".

__ADS_1


Aku memeluk Dinda.. Dia memang gadis yang cerdas. Untuk membuatnya mengerti tidak harus dengan perkataan kasar. Cukup di beri penjelasan dia akan mengerti.


"Ibuk minta maaf ya sayang".


__ADS_2