
Besok mas Adam akan resmi menikahi Ayu. Sementara mas Adam masih sibuk video call denganku.
Entah apa yang kami ceritakan tiga puluh menit berlalu. Kami tidak juga kehabisan kata. Memang mas Adam paling pintar berbicara harusnya dia jadi juru bicara presiden saja. Dia cukup mahir disitu dari pada harus jadi pengusaha.
Bulan tampak indah hari ini sinarnya yang cukup terang menyinariku. Di tambah lagi langit yang biru meski sudah malam.
"Aduh....
" Ada apa. Mas Adam khawatir mendengar aku berteriak.
"Nggak ada cuma telapak kakiku gatal.
"Ooooh kirain ada apa?
" Biasanya kalo telapak kakiku gatal mau dapat rejeki. Aku sambil mengaruk garuk kakiku.
Aku paling ngak suka jika harus menggaruk telapak kaki , rasa gatal nya nggak kunjung hilang.
Emang sudah jadi kebiasaanku jika telapak kaki ku gatal atau bermimpi ikan sering dapet rejeki. Entah mitos atau tidak, tapi ini sering terjadi padaku.
" Kalo mau dapet rejeki itu yaa kerja, biar dapet uang yang banyak. Ceramah mas Adam.
"Iya. langsung saja ku jawab singkat dari pada mas Adam berdebat yang ujung ujungnya aku selalu kalah dengan pendapatnya.
Apakah mas Adam lupa kalo besok adalah hari yang penting baginya. Tapi seakan akan dia tidak peduli. Apakah pernikahan nya dengan Ayu bukan atas kemauannya sendiri atau kah hasil perjodohan. Entahlah...
"Malas kerja ahh. Aku kan lagi hamil. Harusnya kamu beri hadiah dong. Ini kan anak kita.
"Gampang, ntar aku transfer.
Aku tertawa dalam hati.😁😁😁😁
...Pagi...
__ADS_1
Sekitar jam sembilan mas Adam menelpon ku.
"Ada apa ya, bukankah hari ini pernikahan mas Adam. Apakah dia baik baik saja. Batinku bertanya.
Aku memang sengaja tidak datang ke acara itu, aku hanya malas melihat banyak orang.
Aku mengangkat telepon itu.
"Halo. Suara mas Adam tidak terdengar.
"Halo. Aku mengulangi lagi. Tetap saja mas Adam tidak berbicara.
"Kalau nggak mau ngomong aku tutup nih. Mas Adam masih diam.
Aku makin kesal apakah handphone mas Adam
lagi di buat mainan anak anak atau ada orang yang sengaja mengerjaiku.
Ingin ku tutup telponnya tapi ada suara asing yang ku dengar. Suara laki laki itu kemudian di ikuti mas Adam.
Aku lantas terdiam sejenak ku dengarkan suara dari handphoneku. Suaranya kurang jelas menurutku. Tapi aku berusaha mencernanya. Ternyata.......
Mas Adam sengaja menelpon ku untuk memberitahukan bahwa dia sedang ijab kabul.
Apakah aku harus marah dengan sikap mas Adam.
Tapi untuk apa aku marah. Kalo kenyataannya aku tidak peduli dengan acara itu.
Aku hanya kagum terhadap sikap mas Adam yang tidak menyembunyikan apa pun dari aku.
Seketika aku kaget dengan ulah dinda yang tiba tiba muncul di hadapanku. Padahal aku sudah berusaha sembunyi di balik pintu.
"Hayoo telponan sapa. Ejeknya.
__ADS_1
"Nggak ada.
"Masa. Dinda tidak percaya.
"Iya sama ayahlah emang sama siapa lagi.
"Coba liat. Dinda berusaha merebut handphoneku.
"Sana sana. Usir ku.
Dinda masih belum pergi. Dia ini bagaikan bodyguard yang selalu mengawasiku.
Aku langsung menghapus chating di whatsapp.
Aku mulai mengoda Dinda. Dengan mencium pipinya yang tembem. Dinda selalu manja jika ku goda seperti itu.
"Gendong. Dinda langsung naik di pangkuanku.
"Nggak Ahh kamu kan berat.
" Kan udah lama nggak gendong.
"Dinda kan udah gede.
"Gendong. Pintanya.
" Anak siapa sih ini.
"Anak ibuklah masa anak orang main kesini.
Aku Menggendong dinda di depan sampai ke ruang tamu.
"Ahhh capek.
__ADS_1