Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 77


__ADS_3

Meski dengan sangat berat hati namun Mahen harus tetap pergi dari tengah-tengah keluarga besar yang sedang menyambut kepulangan Sarah dari rumah sakit.


Langkah kaki yang setengah diseret nyatanya tidak mampu membuat Mahen segera pergi dari rumah Pradivya. Terlebih dimana ada istri tercinta dan calon buah hati yang sudah sangat lama ia nantikan kehadirannya.


Mahen berbalik badan dan menghampiri Sarah yang senantiasa masih berdiri dengan setia di depan teras guna melepas kepergian suaminya itu.


" Jaga diri kalian baik-baik!. Minta lah pada Lydia untuk sering membawa Syifa datang ke rumah ini, supaya kamu tidak merasa sendiri dan kesepian. Terlebih Syifa sudah mulai bisa menerima keberadaan mu." Pesan Mahen mengalun indah terdengar di telinga Sarah bagaikan setetes air di gurun pasir.


" Iya Papi kami akan baik-baik. Papi jangan khawatir lagi karena banyak orang yang akan selalu menjaga dan menyayangi kami. Cepatlah Papi selesaikan masalah di sana dan segera pulang berkumpul bersama kami." Sarah memeluk erat tubuh Mahen dan memberikan kecupan-kecupan singkat pada dada bidang sang suami.


" Masuk lah ke dalam!. Temani Syifa dan yang lainnya supaya Abang bisa berangkat tanpa harus melihat mu terlebih dulu." Tanpa menunggu Sarah menjawab, Mahen sudah mencium bibir Sarah dengan dalam dan secara perlahan. Pun Sarah membalas setiap pagutan dan ******* bibir Mahen.


Setelahnya Mahen mendorong tubuh Sarah dan menutup pintu setelah Sarah masuk.


Brakk


Hening


Seolah waktu berhenti dengan perpisahan Mahen dan Sarah kali ini. Baik Sarah mau pun Mahen saling memegang dada masing-masing seperti ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa di isi atau di ganti oleh orang lain dalam hidup mereka. Sebab mereka adalah satu.


Beberapa jam setelah Mahen pergi dari rumah Pradivya, Ibu dan Bapak sudah pamitan terlebih dahulu pada anggota keluarga yang lain untuk beristirahat di lantai dua. Lydia dan Syifa pulang dengan di jemput oleh Mahfud, tapi ia berjanji besok akan datang lagi ke rumah ini. Saudara-saudara yang lain pun sudah mulai ada yang pulang dan terakhir adalah Mbak Tiwi bersama suami nya.


" Mbak pulang Sarah, kalau perlu bantuan kamu bisa telepon Mbak ya." Pamit Mbak Tiwi dengan menyempatkan memegang perut ku.


" Iya Mbak hati-hati." Balas Sarah ikut mengantar Mbak Tiwi sampai masuk mobil dan setelahnya ia kembali masuk langsung menuju kamar tamu yang sudah di persiapkan untuk dirinya selama tinggal di rumah Pradivya.


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 01.20. Sarah tidak bisa memejamkan matanya barang sejenak pun. Hati dan pikirannya selalu tertuju pada Mahen yang belum ada kabar sama sekali.


Berulang kali mengecek ponsel siapa tahu ada telepon ada pesan dari Mahen namun belum ada. Sampai akhirnya Sarah ketiduran di sofa berukuran besar yang ada di dalam kamar dengan ponsel yang tidak lepas dari tangannya.


Drt...Drt...

__ADS_1


" Selamat pagi kesayangan Papi. Maaf semalam tidak mengabari mu, Ponsel Abang lowbat di tambah Abang langsung bicara dengan Andre " Hati Sarah begitu tenang, lega sekaligus senang mendengar suara Mahen saat ini.


" Selamat pagi Bang Mahen. Iya enggak apa-apa Bang. Yang penting Abang udah sampai dengan selamat di sana." Balas Sarah sambil berjalan ke arah pintu sebab ada yang mengetuk nya.


" Mama " Panggil Sarah sembari menjauhkan ponselnya.


" Ada apa Ma?." Tanya Sarah kala Mama Kemala menatap ponsel nya juga.


" Sarapan sudah siap, Ayo kita makan!." Ucap Mama Kemala cukup kencang.


" Iya Ma, terima kasih. Sebentar lagi aku keluar." Balas Sarah menutup pintu kembali. Sebab Mama Kemala pergi tanpa kata lagi.


" Sayang!...sayang!...sayang!..." Mahen berulang kali memanggil Sarah namun yang di panggil malah bengong menatap pintu yang sudah tertutup.


Saat dirinya sadar akan suara Mahen yang terus berteriak panik memanggil namanya, Sarah buru-buru berbicara lagi.


" Maaf Bang Mahen. Tadi Mama meminta ku untuk sarapan." Ucap Sarah menyalakan spiker supaya ia bisa membasuh wajah dan menyikat gigi.


" Iya sudah kamu sarapan aja dulu. Kasihan calon bayi kita nanti kelaparan." Mahen hendak mengakhiri obrolannya.


Sarah segera langsung keluar menuju meja makan setelah selesai mengganti pakaian.


" Maaf Ma, Pa, Ibu, Bapak." Ucap Sarah. Ia langsung duduk di sebelah Ibu nya.


" Iya enggak apa-apa Sarah. Namanya juga kamu harus banyak istirahat dulu enggak boleh capek-capek." Sahut Mama Kemala mengambilkan. Ia menyodorkan semua makanan ke hadapan Sarah supaya Sarah bebas memilihnya.


" Iya Ma terima kasih " Ucap Sarah mengambil beberapa lauk dan meletakkannya di atas piring.


Semuanya makan tidak ada yang membuka suara hingga sarapan usai. Setelahnya Sarah membantu Ibu merapikan meja makan dan membawa piring, mangkuk, sendok dan juga garpu yang kotor ke atas wastafel.


" Udah Sarah enggak usah capek-capek, Bu. Sudah ada Mbak yang akan mengerjakan semuanya. Kamu kalau mau lanjut istirahat silakan, Ibu dan Bapak akan pergi ke rumah saudara sebentar." Ucap Mama Kemala kemudian mengeluarkan tas Mahal nya.

__ADS_1


" Iya Ma, hati-hati." Balas Sarah. Sarah dan Ibu hanya melihat Mama Kemala yang sedang bersiap pergi dengan diantarkan oleh supir.


" Mama sama Papa pergi dulu Sarah." Mama Kemala segera beranjak dari sana.


" Iya Ma, Pa hati-hati." Balas Sarah mengikuti langkah Papa Darwin dari belakang.


Kini di rumah besar itu hanya ada Sarah, Ibu dan Bapak. Sarah menatap wajah Ibu dan Bapak bergantian dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh keduanya. Tapi Ibu ya ibaratnya seorang Ibu yang memiliki insting sangat peka terhadap sang anak.


" Ada apa?." Ibu memberikan diri bertanya sambil melihat kanan kirinya, depan dan belakang. Takut ada yang menguping pembicaraan mereka sebab ini bukan di rumah nya.


Sarah menggeleng lemah tapi tetap tersenyum. " Tidak ada apa-apa."


" Memang ada apa Bu?." Bapak menoleh pada Ibu dan mempertanyakan dengan pertanyaan Ibu pada Sarah.


Ibu memegang tangan Sarah dan menggenggamnya kuat.


" Ya udah kalau enggak mau bicara pada Ibu. Tapi Ibu berharap kamu bisa terbuka dengan suami mu. Ibu lihat Mahen sangat menyayangi mu."


" Iya Bu."


Hingga sore hari Sarah habiskan waktunya dengan berdiam diri di kamar. Hari ini ternyata Lydia tidak jadi datang karena mobil nya mogok jadi harus di masuk bengkel. Dengan sangat menyesal aku tidak bisa bertemu dengan Syifa. Begitu juga dengan Mahen yang hanya mengabari Sarah lewat pesan, jika dirinya akan meeting guna menyelesaikan segera masalah.


Baru saat jam delapan malam, Mama Kemala dan Papa Darwin baru sampai di rumah dengan wajah dan tubuh yang lelah. Sebab bisa di bilang seharian mereka berada di luar.


" Sarah "


" Sarah "


Panggil Mama Kemala cepat kencang tapi tidak mampu membuat Sarah untuk segera datang kehadapannya.


" Ada Mama memanggil Sarah?. Mungkin Sarah sudah tidur Ma." Sahut Papa Darwin.

__ADS_1


" Masa sudah tidur Pa, ini masih sore. Ini akibat Mahen terlalu memanjakannya. Ibu dan Bapak nya pun tidak ada, emang orang kampung jam segini udah pada tidur." Ucap Mama Kemala ketus dan sudah tidak bisa menahan kekesalannya sambil masuk ke dalam kamar.


Yang mana ucapan Mama Kemala sempat terdengar oleh Ibu dan Bapak yang belum tidur dan hendak turun ke bawah untuk membangunkan Sarah jika memang tidur. Keduanya pun hanya mampu menggeleng kepala kemudian memilih untuk masuk ke dalam kamar lagi.


__ADS_2