Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 98


__ADS_3

"Terima kasih sudah datang kesini." Mahen melerai pelukan yang begitu sangat menghangatkan hatinya.


"Sama Erik kalian kesini?." Mahen menarik tangan Sarah untuk ikut duduk bersamanya di sofa. Dan Sarah pun seketika menjadi wanita yang begitu penurut.


"Iya bersama Erik kami datang kesini. Karena Sandra nangis terus yang dari Abang pulang itu. Ditambah lagi tadi Erik datang ke rumah, tambah-tambah lagi nangisnya." Adu Sarah sambil mengelap wajah Sandra yang kotor karena coklat.


"Sandra rindu ya sama Papi?. Papi juga rindu sama Sandra." Mahen mendaratkan kecupannya pada pipi Sandra sampai Sandra kegelian akibat mengenai bulu.


Tanpa merasa berat atau lelah Mahen melakukan aktifitasnya dengan Sandra yang selalu menempel pada tubuh nya. Bahkan Mahen harus mondar mandir dan Sandra pun tidak merasa takut untuk jatuh dari tubuh Papi nya.


"Sandra duduk sini sama Mama!." Sarah menepuk kedua pahanya dan sofa yang masih kosong, tapi Sandra menggeleng sembari mengeratkan pegangannya pada leher Mahen.


Merasakan hal seperti ini tidak bisa Mahen ungkapkan rasa bahagianya. Hal yang tadinya tidak terpikirkan, tidak sanggup dibayangkan malah datang dengan sendirinya dan memberikan harapan lagi untuk berjuang mendapatkan mereka yang begitu berharga tak ternilai dengan apa pun.


"Bagaimana dengan pekerjaan mu di sana kalau kamu ikut kesini?." Mahen baru menyadari status Sarah yang kini bekerja ikut orang dan Sarah merupakan orang yang sangat bertanggung jawab terhadap pekerjaannya.


"Mereka masih memberiku libur sampai hari Minggu. Jadi aku memiliki waktu luang dan baru kali ini aku libur." Jelas Sarah yang tidak merasa ada beban atau canggung atau ada yang perlu ditutupi. Semuanya mengalir begitu saja.


"Lalu Pak Arifin?." Mahen menatap Sarah dari kursi kebesarannya. Meski dengan jarak yang cukup jauh, tapi Mahen masih bisa melihat jelas wajah cantik Sarah. Yang tidak terpengaruh dengan pertanyaan Mahen sedikit pun. Ada kelegaan tersendiri bagi Mahen, tapi tetap merasa was-was kalau bibir yang ingin dilumatnya itu mengatakan yang dapat mematahkan penggarapannya.


"Pak Arifin sejuah ini sangat baik. Baik terhadap ku, Sandra dan kedua adik ku. Bukan cuma Pak Arifin saja yang baik tapi Umi Fitri juga yang sudah menganggap kami bagian dari keluarganya. Jadi kami tidak merasa sendiri, kami seperti merasa memiliki seorang Ibu dan seorang Kakak yang bisa menolong kami pada saat-saat kami dalam kesusahan." Jelas Sarah panjang lebar dan begitu saja terucap dari bibirnya. Fakta tentang mereka yang sudah baik terhadap istri dan anak nya itu.

__ADS_1


Tanpa ragu lagi Mahen mendekat pada Sarah. Setelah menidurkan Sandra yang tertidur pulas dalam pangkuannya. Di tempat tidur yang biasa dipakai Mahen selama tidur di kantor.


Sarah begitu gugup dengan kedekatan yang secara tiba-tiba ini. Detak jantung nya mungkin saat ini bisa terdengar jelas oleh Mahen.


" Kenapa Bang?." Sarah beringsut mundur kala Mahen terus menerus mengikis jarak diantara mereka. Sampai Sarah sudah terpojok tidak bisa berkutik lagi. Mau tidak mau membalas tatapan Mahen yang tetap sama sanggup menggetarkan seluruh tubuhnya, terlena dalam teduh mata nya, terhanyut dalam buaiannya.


Sarah perlahan menyambut bibir Mahen yang akan mendarat di bibir yang sudah lama tidak pernah mendapatkan sentuhan dari suami nya itu. Momen ini adalah salah satu momen yang paling ditunggunya, terlebih tentunya ada banyak momen yang sebenarnya sudah sangat dinanti oleh Sarah. Bibir nya boleh berkata tidak, tapi tidak dengan tubuh nya. Saat kedua mata mereka sudah terpejam untuk menyambut keintiman yang sebentar lagi akan terjadi. Namun sayang suara ketukan di pintu ruangan Mahen yang otomatis membuat kedua mata mereka kembali terbuka dengan sempurna. Keduanya tertawa dengan malu-malu.


Karena ketukan pada daun pintu tidak kunjung berhenti, makanya Mahen bangkit berdiri. Namun sebelum itu ia menyempatkan diri untuk mengecup pucuk kepala Sarah dengan sayang sambil berbisik."Nanti kita lanjutkan lagi."


"Masuk!"


Mahen kembali duduk di kursi kebesarannya begitu juga dengan Sarah yang membetulkan pakaian dan posisi duduknya.


"Iya Rendy, lima menit lagi aku datang. Erik dimana?." Tanya Mahen merapikan jasnya.


" Erik meeting diluar Bang, pulang nanti pas makan siang." Jawab Rendy yang terlebih dulu pamit.


Mahen pun berjalan mendekati pintu dan sekilas melirik Sarah yang menatapnya begitu intens."Abang akan kembali lagi. Untuk melanjutkan apa yang tertunda tadi."


Ucapan Mahen sanggup membuat wajah Sarah merah merona, setalah nya ia masuk ke dalam kamar menemani Syifa di tempat tidur.

__ADS_1


"Selamat siang Pak Arifin, Pak Robby." Sapa Mahen sambil menyalami keduanya.


" Selamat siang Pak Mahendra."


Mereka duduk kembali dengan posisi Mahen berhadapan langsung dengan Pak Arifin.


"Begini Pak Mahendra. Rencananya saya dan teman-teman seprofesi ingin membangun sebuah Showroom yang sama persis dengan milik Pak Mahendra yang ini. Tapi kami ingin kalau Pak Mahendra yang mengelola untuk satu sampai dua tahun ke depan sampai perusahan itu benar-benar berkembang ditangan Pak Mahendra." Pak Arifin menjelaskan secara gamblang maksud dan tujuan kedatangan mereka.


" Disini juga atau ditempat lain Pak Arifin, Pak Robby?." Tanya Mahen menatap keduanya secara bergantian, ia masih mencoba untuk berpikir positif tentang tujuan mereka saat ini. Walau dirasa Mahen seperti ada yang mengganjal.


"Tidak disini Pak Mahendra, melainkan di Batam. Karena para investor lebih banyak yang tinggal dan sudah membuka sebagian usahanya di sana jadi mereka sudah menemukan dan menentukan tempat yang begitu bagus dan sangat strategis untuk usaha otomotif ini." Jawab Pak Arifin dengan wajah yang tetap ramah dan bersahabat.


"Rencananya kapan untuk mulai membangun tempatnya atau memang sudah jadi dibangun?." Tanya Mahen. Ketakutan itu kini mulai memasuki hati nya. Mengingat kejadian dulu sebelum dirinya kehilangan Sarah dan Sandra.


"Baru mau dibangun Pak Mahendra. Dan itu kita akan bersama-sama datang ke Batam untuk meninjau lokasinya." Kini giliran Pak Robby yang berbicara.


"Kalau semua ok, kita bisa berangkat ke Batam Minggu depan. Tidak lama paling hanya satu-dua hari saja. Karena kebetulan saya sendiri punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggal." Ucap Pak Robby lebih lanjut lagi.


"Baik Pak Arifin, Pak Robby akan saya pikirkan dan pertimbangan. Untuk jadwal berikut nya nanti saya akan konfirmasi lagi." Pungkas Mahen menutup pertemuan mereka.


Usai dengan semuanya, hanya baru Pak Robby saja yang sudah keluar meninggalkan perusahan Mahen. Kini hanya ada Pak Arifin yang ingin berbicara lanjut dengan Mahen. Yang sudah bisa dipastikan Pak Arifin akan membicarakan masalah Sarah dan Sandra.

__ADS_1


"Bagaimana kabar Sarah dan Sandra?. Mereka tinggal dimana selama tinggal bersama Pak Mahendra?." Begitu gatal rasanya mulut Pak Arifin ingin segera mengetahui Sarah dan Sandra yang tadi pagi berpamitan untuk menemui Mahen bersama Erik.


__ADS_2