
Sekitar pukul setengah lima pagi Mama Kemala sudah membuat kehebohan. Entah setan atau jin apa yang sudi menempel pada beliau. Sungguh sangat tidak membuat nyaman bagi yang mendengarnya terutama Ibu, Bapak dan Sarah yang sudah bangun tapi masih di dalam kamar usai melaksanakan sholat subuh.
" Setiap orang yang datang bertamu di rumah ini tidak ada yang menjadi raja, ratu dan permaisuri. Mereka semua pandai membawa diri, pandai menjaga sikap, tahu diri saat di rumah orang lain meski besan sekali pun." Oceh Mama Kemala sambil wara-wiri tidak jelas dengan apa yang dikerjakannya.
" Mentang-mentang jadi istri kesayangan jadi bisa seenak saja di orang lain. Kalau mau jadi Nyonya besar ya di rumah sendiri. Pagi-pagi aku sudah dibuat kesal aja, saat aku bangun tidak satu pun yang sudah bangun apalagi tamu di rumah ini. Tuan rumah itu bukan pelayanan yang harus menyiapkan segala sesuatu nya untuk para tamu. Mengerti kalian?." Lanjutnya lagi dengan sedikit berteriak.
Di dalam kamar Ibu dan Bapak mengelus dada. Ingin rasanya mereka segera pergi di rumah itu kalau saja bukan Mahen yang memohon dan meminta langsung pada mereka.
" Apa sebaiknya kita pulang saja Bu?. Rasa-rasanya Bapak enggak tahan bila harus mendengar Nyonya Kemala berbicara seperti itu dan marah-marah."
" Kalau kita pulang lalu bagaimana dengan Sarah Pak?. Tambah kasihan Sarah bila di sini sendiri?, Ibu juga enggak tega dan takut sewaktu-waktu Sarah melahirkan walau pun mereka sudah berencana untuk sesar. Tapi jika mendengar dan melihat situasi ini tidak menutup kemungkinan Sarah akan lebih cepat untuk melahirkan." Begitu besar rasa sayang di miliki oleh Ibu pada putri sulung nya itu. Ia bahkan rela mengesampingkan rasa sakit hatinya demi sang anak dan calon cucu ke dua mereka.
Begitu juga yang terjadi di dalam kamar Sarah. Kalau ia punya kuasa untuk menolak Mahen biar saja dirinya tinggal di rumah nya saja, tidak masalah walau harus tinggal sendiri. Dari pada harus begini, ia malah ikut menyeret kedua orang tuanya untuk merasakan sakit hati atas apa yang baru saja di ucapkan oleh Ibu mertua nya.
" Apa yang harus aku lakukan sekarang, Bang Mahen?." Gumamnya lirih. Tidak mungkin juga ia memberitahu Mahen atas apa yang terjadi di rumah ini.
Pun dengan Papa Darwin yang sangat terganggu dengan ucapan Mama Kemala yang menusuk gendang telinganya. Papa Darwin menarik tangan Mama Kemala dan membawanya ke dalam kamar.
" Kamu ini kenapa Ma?. Senang sekali mencari ribut dengan orang lain?. Kalau Mama tidak suka dengan kehadiran besan, seharusnya Mama menolak saat Mahen mengatakan hal itu. Bukan dengan cara seperti ini Ma." Tegur Papa Darwin. Ia cukup malu dan enggak punya muka di hadapan besan atas sikap Mama Kemala.
" Ini masih pagi Ma, waktunya orang melaksanakan Sholat subuh. Tapi kenapa Mama sudah teriak-teriak?. Papa tahu arah pembicaraan Mama kemana?. Jangan lah Ma seperti ini terus. Mereka besan kita Ma. Kalau memang ada yang tidak Mama suka sebaiknya Mama bicarakan baik-baik dengan Mahen atau dengan mereka langsung." Lanjut Papa Darwin menasehati.
__ADS_1
Rupanya apa yang di sampaikan Papa Darwin membuat hati Mama Kemala semakin memanas hingga ia meluapkan semua kemarahan pada Papa Darwin.
" Kenapa, Papa enggak suka?. Marah?, tidak terima?. Papa belain aja mereka yang tidak tahu diri itu. Yang seenaknya saja tinggal di rumah kita tanpa melakukan apa pun. Seharusnya mereka itu sadar dan tahu diri Pa, jadi wajar saja Mama marah-marah karena Mama dijadikan pembantu di rumah Mama sendiri. Memang apa istimewa nya mereka yang dari kampung itu hingga harus membantu menjaga istri kesayangan itu?. Terlalu lebay Mahen jadi suami, apa-apa istrinya, apa-apa istrinya. Harusnya Mahen jadi suami yang tegas bukan lembek seperti ini. Mau aja di suruh ini itu sama istrinya, udah kaya kebo yang di cocok hidungnya. Manut aja, nurut aja." Teriak Mama Kemala histeris sambil melempar apa saja yang ada di meja riasnya.
Saat Sarah keluar dari dalam kamar, ia mendapati Ibu dan Bapak sudah tapi dengan tas yang berukuran sedang di tangan nya Bapak.
" Ibu, Bapak mau kemana?." Langkah gontai kedua kaki Sarah untuk mendekat pada mereka.
" Maaf kan Ibu dan Bapak yang tidak bisa menepati janji pada mu dan Mahen untuk tetap tinggal dan menjaga mu di sini. Ibu dan Bapak tidak ingin menjadi bahan pertengkaran bagi Nyonya Kemala dan Tuan Pradivya. Jadi kamu jaga diri baik-baik ya." Tutur Ibu sambil cepat mengelap sudut matanya. Karena ia juga tidak ingin membuat Sarah bersedih dengan kepergiannya.
" Jaga diri kalian baik-baik." Ucap Bapak singkat, padat namun sama memiliki arti yang sangat dalam bagi Sarah.
Sarah tidak bisa menahan atau pun melarang mereka untuk tidak pergi. Mungkin dengan ucapan Mama Kemala yang pertama tadi, Ibu dan Bapak masih bisa memakluminya. Tapi pertengkaran Mama Kemala dan Papa Darwin sudah membuat mereka harus segera pergi dari rumah ini. Kalau memungkinkan dirinya ingin ikut pergi bersama mereka.
" Saya minta maaf besan dengan apa yang sudah terjadi." Kepala Papa tertunduk karena malu yang luar biasa.
" Justru kami yang seharusnya minta maaf besan. Karena kami besan harus bertengkar. Jadi mohon izin kan kami untuk pamit kembali ke kampung." Ucap Bapak tenang dan tetap merendah.
Walau pun sudah di buat sekuat mungkin namun tetap saja air matanya lolos begitu saja dari kedua matanya.
" Sarah! " Panggil Ibu lalu memeluknya. Menghapus air matanya yang semakin deras.
__ADS_1
" Jangan menangis!, kasihan calon bayi mu." Ibu mengelus perut Sarah dan mencium nya.
" Yang kuat dan sehat-sehat kamu di dalam sana." Bisik Ibu pada perut Sarah.
Papa Darwin juga tidak bisa menahan besan yang hendak keluar dari rumah nya. Sebab ia pun paham dan akan melakukan yang sama bila hal itu terjadi pada dirinya.
" Kalian saya izin kan pulang. Tapi harus diantarkan oleh Mang Mamat, Supir kami." Pinta Papa Darwin dan segera memerintahkan Mang Mamat untuk segera mengeluarkan mobil dari bagasi dan menyalakannya.
" Pa, apa boleh Sarah mengantar Ibu dan Bapak sampai kampung bersama Mang Mamat?." Mohon Sarah sedikit mengiba.
" Iya tapi kamu harus hati-hati dan jangan lupa kabari Mahen." Jawab Papa Darwin.
" Iya Pa, terima kasih." Balas Sarah.
Tanpa berpamitan secara langsung pada Mama Kemala, namun Ibu dan Bapak sampaikan permohonan maaf lewat Papa Darwin. Akhirnya mereka pulang dengan diantarkan oleh Mang Mamat dan Sarah.
Belum ada yang berbicara satu orang pun diantara keempatnya dari mulai perjalanan sampai sekarang sudah di jalanan bersama pengguna jalan yang lain. Mang Mamat sudah mendapat lokasi dari Sarah sebelumnya. Jadi ia langsung bisa menggunakan Google Map.
Hingga sebuah insiden besar terjadi pada mobil yang dikendarai oleh Mang Mamat yang membawa Sarah, Ibu dan Bapak.
Setelah kepulan asap keluar dengan sangat pekat, kini perlahan api mulai keluar dan menjalar dari bagian depan, tengah dan belakang mobil.
__ADS_1
Duuuuaarrr
Sampai terjadilah ledakan yang maha dahsyat dan sudah dengan semburan Api yang sudah membumbung tinggi menutupi semua permukaan mobil tersebut.