Suami ke dua

Suami ke dua
Ada apa dengan Adam.


__ADS_3

Siang


.......


Mas Gilang menghampiriku dengan menggendong Devan. Bocah kecil itu sudah tidak sabar ingin memelukku.


Mas Gilang memang pandai merawat anak kecil. Jika di lihat dari paras wajah nya yang garang, tidak ada yang percaya kalau mas Gilang mahir mengganti popok.


Kami bergantian menjaga Deva


Setelah itu mas Gilang pergi untuk bekerja. Aku merangkai tangan suamiku untuk aku cium di punggung telapak tangannya.


Aku tidak akan membiarkan suamiku mengetahui perasaanku yang sedang tidak stabil. Aku masih bisa tersenyum manis di hadapannya.


Padahal selama satu tahun ini aku sudah berusaha mencintai suamiku dengan sepenuh hati. Tapi kenapa mas Adam muncul kembali.


Jika mas Adam hadir di hidup kembali aku tidak bisa memilih di antara keduanya.


"Ayah nanti pulang jangan malam malam ya."


Mas Gilang hanya tersenyum kemudian mencium Devan.


"Ayah ......." Mas Gilang mencoba menciumku . Aku menghindar dari candaan suamiku.


"Ayah malu di tempat umum. nanti di rumah ya."


Rayu ku seperti anak kecil.


"Janji ya." Tagih suamiku.


"Da da ... ayah. "Aku melambaikan tangan Devan.


"Maafkan aku ayah." Batinku.


.......


Sebuah mobil perak sedang parkir di depan kedai ku. Aku masih sibuk membereskan meja.


"Seperti mobilnya mas Adam . Tapi tidak mungkin dia disini. Mas Adam kan sudah balik ke kota bersama istrinya." Batinku.

__ADS_1


Deg .....


Mas Adam keluar dari mobilnya. "Untuk apa dia kesini. Bukankah sudah tidak urusan lagi."


"Ayo." Mas Adam menarik tanganku.


Sementara aku menggendong Devan dia kebingungan melihatku.


"Tapi mas.!!!"


Mas Adam tidak menghiraukan perkataanku. Dia masih menarikku ke mobilnya.


Aku memasuki mobil dan duduk di samping Mas Adam. Mas Adam mengemudi dengan cepat. Entah ada apa dengannya.


Aku hanya diam menunggu mas Adam memulai terlebih dahulu. Namun mas Adam juga masih diam.


Mas Adam kemudian memarkirkan mobil dan membuka kunci di villa kami.


"Kenapa kita kesini." Tanyaku.


"Bukankah kita sudah biasa kesini." Jawab mas Adam.


"Itu kan dulu."


Mas Adam sudah menghilang tanpa kabar. Padahal setiap sedetik aku selalu mengkhawatirkannya. Tahukah dia melupakannya adalah hal yang mustahil tapi ketika aku sudah mencoba untuk melupakan dia hadir kembali.


Mas Adam memelukku dan Devan dengan kuat. Berulang kali dia mencium bocah itu. Namun Devan menolaknya. Devan hanya merasa asing dengan mas Adam. Karena mas Gilang adalah ayahnya.


"Sayang aku merindukanmu."


"Bohong." Batinku.


Kalo kamu benar benar merindukan aku pastinya kamu tidak pernah menghilang.


"Sayang aku tidak bisa membohongi diri ku sendiri."


"Terus."


"Ayo kita pergi jauh. Jauh dari semuanya istriku suamimu. Kita hidup bertiga dengan anak kita."

__ADS_1


Ada apa dengan mas Adam? Kenapa dia begitu lemah. Orang yang menurutku sempurna tiba tiba harus seputus asa ini.


"Ngak ....... aku mau pulang. Suamiku menungguku di rumah." Ucapnya


"Kenapa kamu berubah."


"Tidak ada yang berubah mas. Dari dulu sekarang dan nanti. Tapi aku tidak bisa pergi denganmu."


"Bukankah ini yang kamu inginkan."


"Iya ..... TAPI aku tidak mau kehilangan Dinda dan Mas Gilang."


Aku tidak ingin menyakiti suamiku. Padahal aku sangat mencintai mas Adam. Tapi aku tidak ingin membuat suamiku terluka. Siapakah sebenarnya yang aku cintai????


Padahal jelas aku telah membuat mas Gilang terluka saat ini.


"Sayang bagaimana dengan aku. Sejak kemarin aku seperti orang gila. Aku tidak bisa bekerja, aku tidak berkonsentrasi."


"Aku sudah dari dulu seperti orang gila. lebih dulu dari mu." Batinku.


"Bagaimana dengan istrimu .... Aku tidak ingin menghancurkan dia. Dia mungkin akan lebih terluka."


Aku membiarkan Devan bermain sendiri di lantai sementara aku masih berdebat dengan mas Adam.


"Mas aku mau pulang. Mas Gilang akan pulang cepat hari ini." Aku tidak ingin jika suamiku sudah berada di rumah. Sementara aku masih keluyuran di luar.


Mas Adam menarikku hingga aku terpental ke pelukannya. Aku berusaha menolak pelukan itu. Tapi lagi lagi aku tidak berdaya. Tangan mas Adam begitu besar.


"Mas lepaskan aku suamiku pasti mencariku." Aku memohon kepada mas Adam.


"Sayang aku mencintaimu." Suaranya lirih.


Bohong batinku. Mas Adam hanya mengumbar cinta ke istrinya atau aku. Lelaki yang tidak pernah puas dengan satu wanita saja. Tapi apa bedanya dengan aku.


Mas Adam menciumi leherku dengan beringas. Bagai singa yang sedang kelaparan dan ingin melahap mangsanya.


"Lepaskan aku." Aku berusaha menangkis sentuhan sentuhan itu.


Mas Adam ada apa denganmu??? biasanya kamu tidak seperti ini. Biasanya kamu memperlakukan aku dengan lembut.

__ADS_1


.......


.......


__ADS_2