
Usai sarapan bersama, Mahen dan Sarah segera bertolak ke kampung halaman Sarah. Berziarah ke makam kedua orang tua Sarah dan menemui kedua adiknya yang masih tinggal bersama Ibu Riska dan Dokter Rudy.
Sandra tidak ada mengeluh sekali pun, ia malah begitu menikmati perjalanan pertama mereka. Begitu juga dengan Sarah yang jauh lebih siap untuk menghadapi apa pun nantinya bersama Mahen.
Pulang dari berziarah makam, Mahen bertemu dengan anak-anak yang suka mengatai dirinya gila. Tapi itu dulu tidak dengan sekarang.
"Bapak sudah sembuh?. Benarkan Bapak itu orang yang suka tidur di makam sebelah?. Mengambil makanan sisa dari beberapa tong sampah disini?." Tanya Salah satu dari mereka sambil menarik kemeja Mahen.
"Kalian masih mengingatku?." Mahen mengedarkan pandangannya menatap pada kelima anak kecil tersebut.
Mereka serempak mengangguk dengan wajah yang begitu serius.
"Benar Bapak sudah sembuh?." Tanyanya lagi karena ingin memastikan.
Mahen mengulum senyum sambil mengusap pucuk kepala anak itu. "Iya Alhamdulillah aku sudah sembuh. Dan kedua wanita ini yang meminta ku untuk sembuh." Mahen merangkul Sarah dan mengecup pipi Sandra.
"Oh, jadi benar Bapak sudah sembuh?." Balas nya lagi sambil mengulurkan tangan sebagai permintaan maaf. Dan Mahen pun begitu terharu dengan tingkah laku terpuji mereka.
Meninggalkan mereka kelima anak itu dengan senyum bahagia yang terlihat dari wajahnya. Ia juga memberikan mereka beberapa lembar uang untuk diberikan pada Ibu/Bapak mereka.
"Kenapa sayang?, ada apa?." Mahen melihat Sarah sedang sembunyi-sembunyi menyeka air matanya saat dalam perjalanan ke rumah Ibu Riska.
Sarah begitu sedih mendengar dan mengetahui jika suami tampan dan gagahnya itu pernah hidup begitu menderita karena kehilangan mereka.
"Maafkan aku sudah membuat hidup Abang begitu menderita." Ucap Sarah disela isak tangisnya. Sampai Mahen harus mencari tempat untuk menepi.
"Ma-ma" Sandra yang sedang tidur pun terganggu dengan tangisan Sarah yang begitu menyesakkan.
Mahen mengambil alih Sandra dan menenangkannya dan ia kembali tidur dalam pelukan Mahen.
__ADS_1
"Semuanya sudah berlalu, Abang kini kembali sehat dan bisa berkumpul dengan kalian. Mungkin itu sudah harus jalannya sepertinya itu, jadi semuanya bukan salah mu." Mahen mengelus punggung Sarah, marapikan rambut dan menyelipkkannya dibelakang daun telinga.
"Abang malah bersyukur dengan semua kejadian demi kejadian yang begitu berat menghampiri hidup Abang. Abang jadi bertemu dengan mu dan Sandra bahkan kita sudah kembali mesra, Abang juga bertemu dengan seorang Dokter yang masih muda, baik...."
"Apa Dokter itu cantik?." Potong Sarah sambil menghapus air matanya, membuat Mahen cukup terkejut dengan apa yang diucapkannya sampai harus membuat mulut Mahen terbuka lebar karena tidak percaya.
"Em... "Ledek Mahen menggantung kalimatnya dengan sengaja ingin melihat respon Sarah selanjutnya.
"Pasti Dokter itu sangat cantik sampai mampu mengobati Abang dengan baik. Dokter itu pasti sangat telaten selama merawat Abang." Lanjut Sarah tidak ingin mendengar pujian sang suami untuk wanita lain. Terlalu menyakitkan.
Mahen sengaja tidak meluruskan kesalahpaham ini, karena baginya Sarah begitu cantik dan menggemaskan saat sedang dilanda api cemburu.
Mahen msnyerahkan kembali Sandra pada pangkuan Sarah dan Mahen kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah hampir empat puluh menit, Mereka sudah sampai di depan rumah Ibu Riska. Berbarengan dengan Doni dan Ratih yang baru pulang sekolah sekitar pukul setengah empat sore.
"Kak Sarah..Sandra..." Doni begitu senang melihat Kakak dan keponakannya mengunjungi mereka.
"Bang Mahen!" Doni dan Ratih cukup kaget dengan kedatangan Kakak iparnya itu. Ternyata Ibu Riska pun yang berada di dalam rumah melihat apa yang terjadi di luar sana.
Keduanya menyalami Mahen kala melihat Sandra yang begitu menempel pada Mahen. "Pa-pi"
"Wow Sandra sudah bisa bicara!" Mereka begitu senang walau hanya baru kata Papi dan Mama yang dikuasai Sandra.
"Jodoh mu memang Pak Mahendra." Gumam Ibu Riska tersenyum.
Ibu Riska berdiri diteras dan meminta mereka untuk segera masuk.
"Mau samapi kapan kalian di sana?. Ayo masuk!."
__ADS_1
Sarah memeluk Ibu Riska begitu erat sambil membisikan sesuatu pada telinga Ibu Riska. "Maafkan aku, aku tidak bisa berpisah dengan suami dan Ayah dari anak ku."
"Kamu sudah mengambil keputusan yang paling benar. Dan aku akan tetap mendukung semua keputusan mu." Balas Ibu Riska. Meski ia tahu sampai detik ini Rudy masih mengharapkan Sarah.
Usai Mahen beramah tamah dengan Ibu Riska, tidak lupa mengucapkan banyak terima kasih karena sudah sangat membantu Sarah dan Sandra. Dan untuk sementara waktu ia menitipkan Doni dan Ratih tinggal di sana sebelum ia dan Sarah menemukan rumah yang layak untuk mereka tempati. Sekaligus Mahen berpamitan karena rencananya mereka akan menginap di Hotel yang tidak jauh dari rumah Ibu Riska. Namun Ibu Riska meminta mereka untuk menginap di sana terlebih ia masih rindu dengan Sandra.
"Aku terserah Bang Mahen aja. Mau tidur disini atau tetap di Hotel." Sarah menyerahkan semua keputusannya pada Mahen.
Mahen begitu gemas melihat Sarah yang seperti ini, malu-malu di depan Ibu Riska.
"Kalau tidak keberatan dan tidak merepotkan kami tidur disini." Jawab Mahen yang mengerti keinginan istrinya yang masih ingin melepas kangen dengan mereka.
Ibu Riska menyambut baik Mahen dan Sarah yang akan bermalam disini. Tanpa diminta Ibu Riska pun, Doni dan Ratih bekerja sama untuk segera merapikan kamar yang akan ditempati Sarah dan Mahen.
"Sarah" Dokter Rudy begitu senang saat masuk ke dalam rumah melihat wanita yang dicintainya. Bahkan Dokter Rudy tidak segan memeluk Sarah karena begitu sangat merindukannya. Sarah cukup kaget dan langsung berontak dengan keberanian yang ditunjukkan Dokter Rudy terlebih ada Mahen yang saat ini bisa dipastikan sedang menatap kearah mereka. Namun Sarah tidak bisa berbuat banyak kala pelukan Dokter Rudy begitu kuat.
Mahen begitu terpaku melihat pemandangan yang ada dihadapannya. "Itu kan Dokter Rudy?."
Mahen tahu arti dari tatapan yang Dokter Rudy perlihatkan pada Sarah. Tatapan cinta, kerinduan dan ingin memiliki. "Apa mereka ada hubungan yang begitu dekat sebelum Sarah kembali pada ku?."
"Bang Mahen!" Teriak Sarah frustasi, karena pelukan Dokter Rudy yang tidak kunjung lepas daru tubuhnya. Sarah memanggil Mahen guna meminta pertolongan.
Mahen segera bangkit dan mendekati keduanya dengan langkah santai dan wajah yang terlihat biasa saja.
"Dokter Rudy apa kabar?." Suara Mahen cukup ampuh untuk melerai pelukan Dokter Rudy pada istri nya. Sehingga Sarah berdiri di samping Mahen dengan perasaan yang sangat lega.
"Pak Mahendra, anda disini?." Dokter Rudy begitu terkejut melihat mantan pasiennya berada di rumah nya saat ini. Bisa dibilang ia merasa ada yang aneh saat Sarah lebih memilih berdiri di samping pria itu ketimbang dirinya yang sudah dikenal Sarah.
"Iya saya lagi disini, apa kabar?. Senang bisa bertemu dengan Dokter Rudy?." Mahen saling bersalaman dengan Dokter Rudy yang memperlihatkan wajah penuh tanya dan bingung.
__ADS_1
Ibu Riska datang diantara mereka dan menengahi kedua belah pihak dan memperkenalkan Mahen pada adik kesayangannya.
"Kakak yang meminta Sarah dan suaminya untuk menginap disini. Pak Mahendra itu suami dari Sarah dan Ayahnya Sandra."