
Pagi
"Ibunya Dinda kemana aja koq jarang ketemu." Ibu ibu tetangga sedang belanja di warung langganan kami.
Aku Memang jarang belanja kalaupun aku belanja memilih waktu yang sepi. Bukannya aku tidak ingin bergaul dengan tetangga tapi kalo sepi cepat belanja dan pulang. Menurutku waktuku sangat berharga apalagi aku punya anak kecil yang tidak bisa di tinggal lama lama. Mas Gilang pun belum bangun jika sepagi ini tidak ada orang untuk bergantian menjaga Devan.
"Ada bu .... setiap hari di rumah koq" Aku menyahutinya.
"Ibunya Dinda sekarang beda lho."
"Saya masih sama koq . Tuh kan masih pakai daster."
"Iya Ibunya Dinda bisnis apaan yah sekarang ini makin kaya raya." Salah satu ibu ibu menyahuti.
Begini kalo belanja lama lama. Selalu ibu ibu ada aja yang ingin tahu.
"Itu semua karena anakku berkerja keras. Iya kan." Mertuaku langsung menyerobot.
Entahlah apa maksud perkataan mertuaku yang penting aku tidak perlu menjawab pertanyaan mereka.
Aku hanya tersenyum menanggapi mereka. Bukannya aku tidak berani membalas pertanyaan pertanyaan itu tetapi bagiku hanya membuang energiku saja.
"Dasar ibu ibu kalo kita ngak punya duit di omongin dan giliran punya duit tambah di omongin." Batinku.
Setelah membayar belanjaan aku langsung pulang. "Ini gara gara kelamaan belanja." Aku mempercepat lajuku.
"Dinda .... dinda adek kemana?" Aku Mencari Dinda.
__ADS_1
"Ngak tahu buk!! Tadi sih di sini." Jawab Dinda.
Aku mengecek di kamar mas Adam mungkin saja Devan bermain bersama Ayahnya.
"Kemana anak itu. Anak umur satu tahun tidak mungkin pergi jauh." Aku Terus mengecek seisi rumah.
"Dinda tolong tanya di rumah nenek." Rumah mertuaku agak jauh tapi masih satu kampung denganku. Dinda mengambil sepedanya. dan mengayuh dengan cepat.
Setelah selang lima belas menit Dinda pun datang.
"Adek ngak ada buk."
Aku mulai panik. ..... Aku Kembali ke kamar mas Gilang.
"Ayah bangun. Devan ngak ada ." Mas Gilang membuka mata setelah melihatku kemudian kembali tidur lagi.
Mas Gilang hanya mengedip ngedipkan mata. Aku sudah tidak bisa bersabar dengan suamiku. Sudah dari tadi aku bangunkan, tidak juga bangun.
"Bruaakkk." Aku membanting pintu.
Mas Gilang langsung marah dengan kelakuanku. Karena dia merasa tidak di hargai.
Apalagi pagi ini aku belum menyiapkan kopi.
Aku tidak peduli entah dia marah atau tidak. Aku hanya takut jika anakku kenapa kenapa. Sudah satu jam aku mencarinya, tapi Devan tidak juga di temukan.
Aku langsung keluar rumah mencari informasi apakah tetanggaku ada yang mengetahuinya.
__ADS_1
Mas Gilang hanya kebingungan mencariku. Setelah aku membanting pintu tapi aku tidak berada di rumah.
"Dinda Ibuk kemana?" Tanya mas Gilang kepada Dinda.
"Ngak tahu yah."
"Terus adek kemana?"
"Adek hilang yah."
Mas Gilang langsung terkejut. Dan berlari mengejarku.
Aku berharap dia tidak benar benar hilang.
Aku masih berusaha mencarinya di setiap gang di setiap rumah tidak sedikitpun yang terlewatkan. Tapi dia tidak ada juga.
Aku Terus berlari .... mencari di setiap sudut tapi Devan tidak dapat aku temukan.
Hingga kakiku sudah lemas dan tidak kuat berlari lagi.
"Buk apa Devan sudah ketemu." Mas Gilang datang menghampiriku.
"Ayah." Aku langsung memeluk suamiku. Tangis ku pecah saat itu juga. Entah karena kelelahan berlari atau aku sudah terlalu lama mencari Devan.
Mas Gilang memelukku dan menenangkan aku.
Aku masih terus menangis di pelukan suamiku.
__ADS_1