Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 89


__ADS_3

Sudah tidak terasa sudah hampir memasuki bulan ke tiga Sarah bekerja pada Umi Fitri. Tidak meleset dengan gaji yang diberikan oleh Pak Arifin selaku yang memakai jasanya, bahkan Umi Fitri selalu memberikan bonus pada Sarah dan memberikan amplop tambahan untuk kebutuhan Sandra.


Kehadiran Sarah dan Sandra memberikan warna baru bagi Umi Fitri dan Ifin. Sandra juga sudah tidak segan-segan lagi untuk duduk di atas pangkuan Ifin. Pemandangan yang hampir setiap hari dilihat oleh Umi Fitri itu menjadi doa khusus untuk sang putra untuk segera membina rumah tangga di sisa umur yang tidak tahu sampai berapa lama. Jika mengingat penyakit yang selalu datang menghampirinya sepertinya tidak akan lama.


Seperti pagi ini, Sandra sudah duduk manis di atas pangkuan Ifin yang hendak memulai sarapannya.


" Sandra turun yuk, ikut Mama ke belakang. Pak Arifin mau sarapan dulu." Ajak Sarah membujuk sang buah hati. Namun bukan hanya saja Sandra yang menolak, Ifin pun tidak keberatan jika dirinya harus makan dengan memangku Sandra seperti ini.


" Biar kan saja Sarah, sepertinya Ifin dan Sandra sudah sangat dekat. Kalau kamu mau ada yang dikerjakan lagi, kerjakan lah. Biarkan Sandra bersama kami di sini." Sarah hanya tersenyum tipis mendapatkan perintah seperti ini. Dan segera pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.


Setelah kepergian Sarah, Umi Fitri meminta Ifin untuk menyuapi Sandra puding buah yang sudah di buat oleh pelayan. Dan ternyata Sandra begitu menyukainya bahkan sampai menghabiskan tiga potong berukuran besar.


" Wah Sandra lahap sekali ya makan puding ya." Ifin mengelap mulut Sandra yang dipenuhi sisa-sisa puding dengan selembar tissue.


" Rumah kita jadi ramai ya semenjak kehadiran Sandra, keceriaan, tawa dan tangis khas anak kecil." Umi Fitri menatap Sandra dan sang putra silih berganti.


" Sudah saat nya kamu harus memikirkan kebahagiaan mu sendiri Ifin. Membina rumah tangga dan melahirkan anak-anak yang akan menjadi penerus dan menemani masa tua mu nanti. Sekarang Umi sudah ada Sarah yang bisa Umi andalkan, jadi kamu memiliki waktu luang untuk bisa mengurus kehidupan pribadi mu." Umi Fitri memegang erat tangan Ifin kemudian beralih mengelus rambut kepala Sandra.


" Umi juga ingin melihat interaksi mu dan anak mu sendiri seperti ini. Sandra memang cantik seperti Sarah tapi kalau Umi perhatikan dengan seksama Sandra lebih dominan pada Ayah nya. Mirip Sarah hanya tiga atau empat puluh saja." Lanjut Umi Fitri.


Selama tiga bulan ini, Umi Fitri selalu memperhatikan sikap dan perhatian Ifin pada Sarah dan Sandra. Namun alangkah lebih baik nya jika Ifin mencari wanita yang belum pernah terikat pernikahan sebelumnya. Supaya sepadan dengan Ifin sendiri yang belum pernah menikah sama sekali. Bukan tanpa alasan juga Umi Fitri menginginkan hal itu, sebab dari cerita yang didapat Umi dari Sarah jika saat ini Sarah masih terikat dengan pernikahan sebelumnya. Jadi untuk menghindari keributan kedepannya.


" Iya Umi sayang, Ifin akan mempertimbangkan apa yang baru saja Umi katakan." Jawab Ifin tegas.


.


.

__ADS_1


Mahen langsung meninggalkan kantor untuk menemui Pak Agus yang merupakan Intel untuk mencari seseorang yang diyakini Mahen mengetahui tentang semua kejadian yang dialami Sarah dan kedua mertuanya.


Walau kekuatan uang Mahen tidak sekuat dulu lagi, namun nyatanya nama besar yang tetap dimiliki Mahen menjadikannya seorang pengusaha yang tetap disegani dan dihormati dengan menyusulnya pundi-pundi rupiah yang kembali mengalir deras pada perusahaannya.


" Pak Mahen "


" Aku kira Mang Mamat sudah lupa pada ku?."


" Kemana selama ini Mang Mamat pergi?."


" Ada Pak Mahen tidak kemana-kemana. Saya di kampung melanjutkan usaha kedua orang tua saya."


Ya tidak ada yang bohong mengenai pernyataan Mang Mamat sejauh ini, sebab anak buahnya Pak Agus menemukanya sedang menjemur padi yang baru dipanen nya satu Minggu yang lalu.


" Pasti Mang Mamat tahu kenapa aku membawa Mang Mamat ke sini?. Mang Mamat mau cerita sendiri atau harus aku yang memaksa Mang Mamat untuk bercerita."


" Baik kalau Mang Mamat memilih aku yang memaksa Mang Mamat untuk bercerita. Aku tidak akan bertanya sesuatu yang tidak bisa Mang Mamat jawab. Sebab aku yakin Mang Mamat sangat tahu atas jawabannya."


" Apa Mama ada hubungannya dengan semua yang terjadi pada keluarga Sarah?."


" Tidak tahu Pak Mahen "


Hening beberapa waktu sampai Mang Mamat masih kukuh pada pendiriannya untuk memberikan jawaban yang diyakininya akan membuat dirinya aman. Tapi itu tidak bertahan lama, saat Mahen mengatakan jika Mang Mamat menerima sejumlah uang yang sangat besar dari Mama Kemala. Makanya Mang Mamat meninggalkan pekerjaan Mang Mamat selama ini di keluarga Pradivya.


Mahen belum memutus tatapan nya dari pada Mang Mamat, Mahen melihat kalau Mang Mamat seperti ingin berbicara sesuatu.


" Tuan Darwin meminta saya untuk mengantarkan Ibu dan Bapak Nyonya Sarah. Dan Nyonya Sarah pun ikut. Lalu dalam perjalanan Nyonya Kemala meminta saya untuk menyabotase kendaraan untuk mencelakai Ibu Sarah nanti saat pulang dari mengantar kedua orang tua Nyonya Sarah. Tapi bukan untuk membuatnya meninggal melainkan untuk pergi dengan Pak Hafis."

__ADS_1


" Lalu kenapa kedua orang tua Sarah bisa meninggal dalam kecelakaan itu?."


" Untuk itu saya tidak tahu Pak Mahen. Tapi pada saat saya mengantar Ibu Sarah mencari toilet yang jaraknya lumayan jauh dari mobil kami. Saat saya kembali mobil sudah mengeluarkan asap dan api. Saya juga meminta tolong pada warga untuk membantu mengeluarkan Ibu dan Bapak dari dalam mobil sambil saya menunggu kedatangan Nyonya Sarah."


" Sampai terdengar ledekan dimana Ibu dan Bapak belum sempat dikeluarkan dari dalam mobil."


" Lalu dimana Sarah sekarang?."


.


.


" Kemana Pak Mahen?." Tanya Rendy pada Erik yang sedang mempersiapkan berkas untuk meeting bersama klien.


" Iya Pak Mahen juga enggak ada kabar apa pun pada ku. Coba kau telepon saja Pak Mahen nya?." Usul Erik.


" Tidak diangkat, sudah di telepon dari tadi." Sahut Rendy sambil duduk di samping Erik.


" Mungkin ada urusan penting kali?." Timpal Erik.


" Iya tapi kan biasanya ngasih kabar ke kita kalau Pak Mahen mau keluar tidak seperti ini." Jawab Rendy lagi.


Erik dan Rendy serempak melihat ponsel mereka dimana ada pesan yang masuk dari Mahen. Dan meminta untuk semua schedule hari ini di re-schedule. Karena Mahen ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.


" Jadi gimana sekarang?. Pak Arifin sudah menunggu di ruang meeting." Rendy meminta masukkan dari Erik, karena Erik yang bisa diandalkan untuk bertemu dengan para klien.


" Kita coba temui berdua, nanti kita bisa minta Pak Mahen untuk menemui langsung Pak Arifin." Usul Erik dan mereka berdua masuk masuk keruang meeting menemui Pak Arifin.

__ADS_1


__ADS_2