
Mahen menatap makanan yang kini sudah disuguhkan dihadapannya. Makanan yang sudah dua tahun ini tidak ditemuinya. Mana ada di tempat sampah makanan seenak hari ini?. Tapi tidak lantas membuatnya langsung melahap makanan tersebut.
Pendengaran Mahen dipasang dengan baik, ketika kunci gembok nya di buka. Paling seperti yang sudah-sudah kalau tidak seorang wanita tua, wanita matang atau pria dewasa yang mengajaknya berbicara. Tapi kali ini, perkiraannya meleset. Sebab bukan dari ketiganya yang datang. Melainkan seorang pria muda, tampan, berkharisma dengan pakaian rapi semi formal sudah berjongkok untuk mensejajarkan diri dengan dirinya.
" Saya Rudy. Saya akan membantu Anda selama di sini. Kalau Anda butuh teman untuk berbagi semua cerita Anda. Maka saya akan bersedia menjadi teman dan pendengar yang baik bagi Anda. Jangan menyimpannya sendiri, sebab bisa menggerogoti jiwa sehat Anda." Nasehat Dokter Rudy di awal perkenalan mereka.
Selama hampir dua Minggu ini Mahen berada di tempat ini, Dokter Rudy hanya memantaunya lewat monitor yang terdapat pada ruang kerjanya. Tanpa melakukan interaksi langsung seperti yang dilakukannya sekarang ini. Dokter Rudy mencoba mencari cara untuk pendekatan pada pasien nya kali. Sebab sebenarnya ia tidak terlalu yakin jika pasien nya benar-benar kena gangguan mental. Tapi itu hanya analisis nya saja bukan secara medis sebab belum dilakukan tes apa pun.
Mahen masih setia menatap gundukan yang seolah makan dalam pikiran dan penglihatannya. Tanpa menyahut apa pun yang sudah dikatakan oleh Dokter Rudy.
" Saya tidak dua puluh jam berada di sini, jadi saya harap waktu saja akan lebih berguna lagi dengan mulai dapat berbicara dengan Anda." Ucap Dokter Rudy sekalian berpamitan pada Mahen. Walau ucapannya tidak mendapat respon dari Mahen, namun entah kenapa dirinya sangat yakin jika Mahen mengerti dengan apa yang disampaikannya barusan.
Ruangan ini terkunci lagi. Sebab ditakutkan Mahen akan mencoba kabur seperti beberapa tahun silam sebelum akhirnya Mama Kemala membiarkannya berkeliaran di kampung Sarah.
" Sepi " Kalimat pertama yang keluar dari mulut Mahen setelah sekian lamanya, yang kemudian ia lanjutkan dengan tidur meringkuk di sebelah gundukan baju.
Buliran bening selalu menemani dirinya sebelum pada akhirnya bisa tidur dengan nyenyak walau hanya beberapa jam saja setiap hari nya.
.
.
Mama Kemala menugaskan Hafis untuk stand bye di sana menunggu perkembangan Mahen. Sedangkan Mama Kemala, Papa Darwin dan Lydia sudah pulang ke Jakarta dua hari yang lalu.
Mama Kemala yang sekarang memegang penuh atas kendali harta Mahen. Mama Kemala sanggup melakukan apa pun dan membayar siapa pun.
__ADS_1
Seperti hal nya sekarang ini, hampir dua tahun ini ia secara diam-diam mencari jejak-jejak Sarah melalui jasa seorang detektif.
Tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Mama Kemala, ia hanya bisa menunggu dan menunggu dari hasil sang detektif.
" Kenapa Ma?. Lydia bantu pijat Ma!." Lydia meletakkan teh herbal kesukaan Mama Kemala di atas meja. Ia mendekat pada Mama Kemala yang sedang mengurut sendiri tengkuknya.
" Iya Lydia, coba tolongin Mama." Mama Kemala memposisikan diri untuk di pijat oleh
Lydia.
Lydia mulai memijat pelan dengan tangan kosong. Tangan Lydia cukup memberikan rasa nyaman pada area leher Mama Kemala menjadi terasa lebih enteng.
" Berusaha lah lebih keras lagi kamu untuk mendapatkan Mahen kembali!. Kamu menantu yang sangat pas untuk Mama dan istri yang baik untuk Mahen." Seperti itu lah kalau Mama Kemala mempunyai keinginan.
Lydia bukannya tidak paham dengan sikap Mama Kemala yang seperti ini. Hanya saja jika berbicara tentang Mahen, seluruh hatinya masih dikuasai oleh sosok mantan suami nya tersebut.
Usaha Lydia selama ini belum mampu untuk menyentuh kembali hati terdalam Mahen walau ia pernah menggunakan Syifa untuk mendekat pada Mahen. Tapi Mahen sangat tegas menolaknya. Apalagi Mahfud dan Yanti sangat menyayangkan keputusan Lydia yang kembali ke rumah Pradivya.
" Besok kita akan kembali ke sana, nanti kamu minta waktu untuk bicara pada Mahen." Saran Mama Kemala yang kini sudah merasa jauh lebih enak dengan tubuhnya setalah meminum teh herbal yang sudah dibuatkan oleh Lydia.
" Iya Ma " Sahut Lydia.
.
.
__ADS_1
" Sudah pulang Rud?." Sebentar lagi kita makan malam. Mandi dulu sana!." Ucap Ibu Riska.
" Iya Kak, si kecil mana?." Dokter Rudy mencuci tangan dan melihat sekeliling namun si kecil yang di maksud tidak terlihat.
" Mungkin ada di dalam kamar, tadi ngambek sama Mama nya enggak mau beliin mainan baru." Jelas Ibu Riska.
" Ya udah nanti aku bujuk Sandra. Aku mandi dulu Kak." Dokter Rudy mengambil udang goreng dan segera menguyah nya sambil berjalan menuju kamar.
Ya si kecil yang di maksud Dokter Rudy memiliki nama Sandra, anak perempuan yang akan genap berusia tiga tahun bulan ini. Yang tadi di bilang sama Ibu Riska kalau Sandra ngambek karena tidak diberikan mainan oleh Mama nya.
Saat makan malam tiba, semua sudah berkumpul di meja makan termasuk si kecil yang sudah duduk anteng pada kursi nya sendiri. Setelah berhasil di bujuk oleh Rudy dengan coklat yang menjadi makanan favoritnya.
" Mas Rudy baru dapat kabar kalian masuk sekolah favorit ya?." Tanya Dokter Rudy pada Doni dan Ratih. Dua orang yang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri.
Doni baru masuk Sekolah Menengah Pertama sedangkan Ratih baru masuk Sekolah menengah Atas. Mereka berdua sangat bekerja keras untuk mendapatkan itu semua dan perjalanan mereka masih panjang dan tetap harus mempertahankan prestasi mereka selama tiga tahun ke depan.
" Alhamdulillah Mas Rudy, setelah berjuang panjang untuk bisa sekolah di sana dengan beasiswa penuh." Jawab Doni cukup berbangga diri. Karena sejauh ini dirinya dan sang adik untuk sekolah tidak harus membebani orang lain.
" Iya Mas Rudy ikut senang. Mas Rudy lihat perjuangan gigih kalian untuk mendapatkan beasiswa tersebut." Dokter ikut bangga dengan pencapaian kedua adik nya terbuat.
" Terima kasih Mas Rudy." Balas Doni.
Meski Ratih irit berbicara bukan berarti ia tidak tahu diri untuk mengucapkan terima kasih. Tapi semua anggota keluarga yang lain memang sudah mengetahui pembawaan diri Ratih.
Usai makan malam, Ratih yang membereskan semua nya sampai perlengkapan makan sudah bersih kembali dan masuk ke dalam lemari. Itu pekerjaan yang selalu Ratih kerjakan oleh selalu tuntas.
__ADS_1
Ratih dan Doni pamit pada semua. Mereka langsung belajar dan mempersiapkan diri mereka untuk mulai sekolah di tempat yang baru.
Di ruang tengah sudah menyisakan Dokter Rudy dan Ibu Riska bersama seorang wanita yang sedang mengganti baju si kecil Sandra.