Suami ke dua

Suami ke dua
Hadiah dari Adam


__ADS_3

Terrrt terrrt


Suara handphoneku bergetar. Aku memang tidak suka membunyikan suara handphoneku. Terlebih aku tidak suka jika suamiku tahu percakapanku dengan mas Adam.


Kejadian kemarin membuat aku takut menghubungi mas Adam. Aku hanya berusaha menghindar.


"Sayang." Pesan singkat itu dari mas Adam.


Mas Adam memang tidak pernah memanggil namaku. Entah dia lupa dengan namaku. Namaku adalah Rosa.


"Kamu baik baik aja sayang."


"Baik." Jawab ku pendek.


"Suamimu ada di rumah gak." Tanya mas Adam.


"Nggak ada."


"Sipp kalo gitu."


"Emang kenapa? Aku nggak mau ketemu kamu lagi. Belum cukup ulah yang kamu buat kemarin."


"Kita ketemu yuk."


Mas Adam memang bikin aku kesal. Aku di kelilingi dua laki laki. yang mudah melupakan sesuatu. Belum cukup apa mereka sudah membuatku ketakutan.


"Nggak Ahh. Aku Sibuk." Tolakku.


"Tapi aku sudah di depan rumahmu."


"Haaa." Aku terkejut.


Bisa bisanya mas Adam mengambil keputusan tanpa kabari aku dulu.


"Aku masih belom mandi."


Tiba tiba mas Adam turun dari mobilnya. Dengan melempar senyum padaku dia berjalan menghampiriku.


"Dasar muka mesum." Batinku. Semua lelaki memang muka mesum. Nggak mas Gilang atau mas Adam sama saja.

__ADS_1


"Ayo." Ajak mas Adam


"Tapi aku belum mandi." Aku masih memakai daster. Apalagi di usia kandungaku yang sudah tujuh bulan. Semua bajuku sudah tidak muat lagi.


"Kamu mandi atau tidak sama saja tidak ada bedanya." Ejeknya.


Mas Adam memang selalu mengomentari penampilanku. Tidak seperti mas Gilang yang bisa menerima aku apa adanya.


"Ayo cepat. Aku banyak urusan. Keburu siang."


"Tapi."


Aku Terpaksa masuk kedalam mobil. Aku tidak nyaman dengan bau ku sendiri. Setelah masak aku belum sempat sarapan.


Setengah jam kemudian kami tiba di sebuah villa di daerah pegunungan. Villa itu tidak besar tapi mewah.


Tiba tiba mas Adam mengangkat telponnya. Selalu saja telpon genggam mas Adam berbunyi dari tadi. Memang banyak proyek yang di urusinnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Jawab mas Adam lembut.


"Yaa kerja." Mas Adam bohong.


"Kenapa tadi malam tidak pulang."


"Ada urusan yang harus di selesaikan. Nanti siang aku pulang."


Mas Adam menutup telpon nya. Aku baru sadar kalo mas Adam tidak pulang dari semalam. Jangan jangan yang telpon tadi istrinya.


"Siapa tadi." Aku berusaha mencari informasi.


"Ayu."


"Ooo."


Harusnya mas Adam berbohong saja kenapa dia jujur sekali kepadaku.


"Ayo masuk."

__ADS_1


Kami memasuki villa itu di halaman depan tidak ada apa apa. Yang ada cuma rumput yang rapi.


"Rumah siapa ini mas."


"Jangan banyak tanya. Masuk saja."


Mas Adam membuka pintu itu seakan rumahnya sendiri.


"Koq sepi. Mana yang punya rumah." Aku masih kebingungan.


"Itu." Mas Adam menunjuk kepadaku.


Aku masih tidak faham dengan maksud mas Adam.


Kemudian mas Adam memberi kunci itu dan sertifikat rumah itu.


"Apa maksudnya ini?"


"Yaa ini sekarang menjadi milikmu. Aku berfikir jika kita punya rumah sendiri kejadian kemarin tidak akan terjadi. Dan aku bisa bebas menemui mu."


"Tapi Ayu."


"Ya bilang aja kerja."


"Kerja apaan." Batinku.


"Kalo gitu aku mau mandi dulu." Aku menuju kamar mandi. Aku memang sudah gerah dari tadi.


"Terserah ini sudah milikmu. Eh aku semalam ngak tidur hanya untuk mencari villa ini." Teriak mas Adam.


Aku tidak menjawab perkataan mas Adam. Aku Sibuk mendengar suara air di kamar mandi.


Karena aku tidak menjawab tiba tiba mas Adam membuka pintu dan masuk ke kamar mandi.


"Eh apa yang kamu lakukan. cepat keluar." Usir ku.


Mas Adam melihat perutku yang tambah besar.


......................

__ADS_1


Apa yang terjadi?????


__ADS_2