Suami ke dua

Suami ke dua
Langkah Pertama


__ADS_3

Rosa sedang bersandar di bahu Adam. Udara terasa berbeda saat ini. Mungkin karena mereka sedang berbahagia.


Adam mengendarai mobil dengan pelan. Di umur yang tidak mudah lagi. Mereka masih merasa tetap muda. Karena kebahagiaan tidak mengenal usia.


Padahal anak anak mereka sudah beranjak dewasa. Tapi sepertinya mereka tidak mau kalah dengan mereka yang berjiwa muda.


Tiba tiba Dimas menghentikan mobilnya.


"Kenapa pak." Dinda takut terjadi kenapa kenapa.


"Din sepertinya aku melihat om Adam dengan seorang wanita." Tebak Dimas.


"Masa' sih pak." Dinda tidak percaya dengan penglihatan Dimas.


"Ngak mungkin aku salah."


"Ngak mungkin pak Adam ada di sini. Lagian ngapain pak Adam ke tempat seperti ini."


"Kamu ngak tau sih.. om Adam punya bisnis dimana mana. Tapi yang tidak aku percaya, Om Adam dengan seorang wanita. Ngak mungkin itu tante Ayu."


"Aku pikir..." Dinda tidak melanjutkan kata katanya.


"Kamu pikir apa?"


"Aku pikir ngak mungkin pak Adam berbuat seperti itu."


"Kamu pikir..... Tidak semua orang berpikir sama seperti kamu."


Dinda hanya ingin menutupi kenakalan Adam. Dinda hanya tidak ingin kejadian itu terjadi. Baginya Adam adalah orang yang paling sempurna yang pernah dia lihat. Padahal Ayahnya sendiri tidak pernah di kagumi. Karena Ayahnya banyak membuat kesalahan kesalahan yang tidak ikut nominasi.


"Ayo pak katanya kerumah. Kapan nyampe nya kalo kita berhenti terus."

__ADS_1


Dimas masih memikirkan apakah dia benar benar melihat om Adam atau hanya salah orang.


"Din aku masih ngak habis pikir. Kenapa Om Adam bisa selingkuh. Padahal tante Ayu orang yang baik."


"Baik saja ngak cukup pak, bisa membuat orang bahagia. Ayo pak ..... Lagian kita ngapain ngurusin pribadi seseorang. Pak Dimas jangan berburuk sangka. Kalo tidak ada bukti."


"Misalnya terjadi pada Ibu kamu gimana?"


"Ngak tau pak. Dinda belum pernah ngalami."


"Kan hanya misal Din."


"Saya ngak tau pak. Kita tidak tau masalah yang terjadi. Apalagi soal perasaan. Kita tidak bisa menghakimi perasaan seseorang."


"Tumben din kamu cerdas begitu."


"Pak Dimas Mulai lagi kannn".


.....


Wangi tubuh Adam masih melekat dalam tubuh Rosa. Yang tersisa hanya bekas pelukan Adam, rasa itu masih terasa hangat. Orang jatuh cinta itu tidak mengenal usia. Meski rasa itu sudah di hapus tapi kemudian muncul kembali.


Cinta itu memang seperti energi tidak dapat di musnahkan.


.....


"Ibukkk ........"


Dinda berlarian menuju rumahnya. Sementara Rosa membuyarkan lamunannya bersama Adam. Padahal Rosa tadi sedang membayangkan saat saat bersama Adam.


"Seperti aku mendengar suara Dinda.." Batin Rosa.

__ADS_1


"Ibukkk."


"Dinda sayang, anak ibuk. Ibuk kangen."


Dinda langsung memeluk ibunya. Seperti biasa sifat kekanak kanakan itu muncul saat bersama dengan ibuknya.


"Dinda juga kangen." Dinda sepertinya tidak ingin melepaskan ibuknya.


"Kamu baik baik saja kan" Ibunya memeriksa Dinda, memastikan kalo anaknya baik baik saja.


"Dinda baik baik saja."


"Terus koq bisa ada disini. Ini kan bukan hari libur."


"Ibuk ngak bahagia jika Dinda pulang ke rumah."


"Bukan gitu. Kamu itu anak baru, jangan sering bolos kerja."


"Ngak koq. Tadi itu kita lagi survei tempat sama pak Dimas. Terus pak Dimas ngajak je rumah Dinda."


"Terus pak Dimas dimana."


"Tuh diluar.""


"Kenapa ngak di suruh masuk."


"Sore tante." Dimas tiba tiba sudah berada diantara ibuk dan anak.


"Pak Dimas sudah ngak tahu malu. Tiba tiba masuk aja." Batin Dinda.


"Ini buat tante...." Dimas menyodorkan buah buahan dan martabak.

__ADS_1


"Terima kasih Dimas."


yesss Dimas merasa bahagia karena langkah pertamanya sudah berhasil.


__ADS_2