Suami ke dua

Suami ke dua
Kopi hitam


__ADS_3

Pagi


Sebelum jam tujuh Dinda sudah sampai di kantor.


Dinda menoleh ke kanan dan kiri. Tidak ada satu orang pun yang dia kenal.


Dinda berusaha bersikap sewajarnya agar tidak tampak gugup di depan orang orang.


Ini pertama kalinya Dinda harus menunggu seseorang yang penting. Biasanya dia yang mengawasi pegawainya meski satu atau dua orang. Jika kita bikin usaha sendiri, di situlah kita akan jadi bos. Meski uangnya tidak seberapa.


"Ahhh lama sekali si bos." Padahal Dinda sudah menunggu satu jam lebih.


"Jadi atasan memang enak, seenaknya buat janji. Dan membiarkan orang menunggu." Dinda terus menggerutu.


"Dinda di tunggu di ruangan bapak." Seorang wanita mengabariku.


Dinda memasuki ruangan bosnya. Kreeek ....


"Pagi pak." Si bos hanya mengangguk kan kepala. Sikapnya hanya datar.


Si bos sibuk dengan pekerjaannya. Dia tidak mempersilahkan duduk, Dinda hanya berdiri seperti patung.


Sudah sejam lebih Dinda berdiri, tidak ada satu katapun yang di sampaikan bosnya.


"Di perusahaan yang sebesar ini, masa' tidak ada pekerjaan selain berdiri. " Batin Dinda.


Kepala dinda mulai berat, dan badannya mulai lemas.


Gubraakk ........


Dinda seketika itu juga pingsan. Si bos langsung panik. Dia memanggil karyawannya untuk membawakan minyak angin.


Setelah beberapa kali menepuk nepuk pipi Dinda. Ahkirnya Dinda bangun juga.


"Akhirnya kamu bangun juga."


"Ngapain bapak dekat dekat saya." Desak Dinda.


"Hey kamu tahu siapa aku."


"Iya pak."


"Kamu belum sarapan."

__ADS_1


"Belum pak."


"Hemmm."


"Kamu itu bisa bisanya merepotkan saja."


Beberapa menit kemudian seorang kurir datang dia membawa makanan ke arahku.


"Cepat makan."


"Tapi pak."


"Makan saja, jangan banyak bicara."


"Bapak tidak makan."


"Saya sudah makan di rumah. Makanya kalo mau kerja sarapan dulu.


"Itu gara gara bapak suruh berangkat pagi, jadi saya ngak sempat sarapan. Terus bapak suruh saya berdiri." Ucap Dinda sambil menghabiskan makanannya.


"Yang suruh kamu berdiri itu siapa!!."


"Bapak sih sibuk sendiri sampai sampai tidak memperhatikan saya."


"Pak kira kira saya kerja di bagian apa ya !!!".


"Tugas kamu jadi asisten saya."


"Maksudnya asisten itu apa ya." Dinda terus bertanya. Katanya malu bertanya sesat di jalan.


"Emang kamu mau jadi direktur atau manager. Sekolah aja lulusan SMA pengalaman tidak punya".


"Iya sih." Batin Dinda. Masa' jadi asisten, jauh jauh Dinda dari desa ke kota hanya untuk jadi asisten. Bagaimana jika Ayah tau, bisa bisa aku di suruh pulang. Aku harus bertahan di sini. Mungkin saja kalo aku rajin bekerja aku akan naik jabatan.


"Tugas kamu yang pertama adalah buatkan saya minuman."


"Iya pak."


Dinda keluar dengan langkah serapi mungkin. Tapi akhirnya sikap pecicilan itu tidak dapat di sembunyikan lagi.


"Ya Tuhan.... Aku kan belum kenal dengan ruangan di perusahaan ini. Aku takut kesasar dan tidak bisa balik lagi."


Beberapa mata mengawasi Dinda. Dinda merasa tidak nyaman, Apakah ada yang salah dengan penampilannya. Dinda mulai merapikan rambut kemudian bajunya. Semua tampak baik baik saja.

__ADS_1


Apalagi bajunya masih baru , di belikan ayahnya kemarin.


"Kenapa ya orang orang pada melihati ku." Batin Dinda.


Kadang kadang mereka juga berbisik. "Ahhh berpikir positif aja. Mungkin saja bukan aku orang yang mereka bicarakan."


Dinda memasuki ruangan bosnya dan membawa secangkir kopi. Dinda meletakkan di meja.


"Ini pak."


Si bos mencicipi kopi tersebut.


"Buatkan lagi."


"Emang kenapa pak ngak enak kopinya."


"Saya punya diabetes, kamu ingin saya cepat mati."


"Terus kopi ini di apain pak."


"Buat kamu aja."


"Tapi saya ngak suka kopi hitam."


Si bos melotot lagi ke arah Dinda. Benar benar kelakuan bosnya membuat Dinda geram. Harus dia bilang dari tadi kalo minta sesuatu.


Setelah selang setengah jam Dinda kembali lagi. Membawa secangkir kopi. Kebetulan dapur cukup jauh dari ruangan bosnya.


"Ini pak kopinya."


"Mmm." Si bos hanya mengangguk kan kepala.


"Kenapa tidak di minum kopinya." Tanya Dinda.


"Saya kalo pagi ngak minum kopi, Tapi teh panas."


Haaa


....


.....


....

__ADS_1


__ADS_2