
Beberapa pesan dari mas Adam sudah aku baca.
Aku mencoba menghubungi mas Adam, tapi dia tidak menghiraukan pesan yang aku kirim.
"Mas angkat."
Mas Adam tetap saja tidak merespon.
"Mas angkat dong."
Mas... seandainya kamu tahu. Aku seperti orang gila, mencari tanpa henti. Entah sudah berapa lama perutku belum ke isi sesuatu.
Tubuh ku ini sudah lemas, Entah energi apa yang membuat aku tetap bertahan. Karena aku masih yakin anakku masih bisa kembali ke pelukanku.
Ibu mana yang tidak khawatir jika anaknya hilang begitu saja.
Aku menatap suamiku duduk bersandar di dinding menatap kopi yang sudah dingin. Beberapa kali dia menghisap rokok.
Aku memeluk suamiku dari belakang, namun dia melepaskan tubuhnya dari pelukanku.
Apakah mas Gilang marah.
"Ayah ." Suamiku hanya diam.
"Ayah." Aku merengek seperti anak kecil berharap dia membalas ucapanku.
"Ini semua gara gara kamu. Kamu ngak becus ngurus anak." Bentak mas Gilang.
__ADS_1
Mas Gilang sangat menyayangi anak anaknya. Bukan berarti dia menyalahkan aku. Tugas mengurus anak tidak hanya di limpahkan oleh wanita saja. Tapi tugas kedua orang tua.
"Dulu aja pengen punya anak. kalo kaya gini aku yang di salahkan." Batinku.
Memang karakter seseorang akan balik ke asalnya. Aku pikir mas Gilang akan berubah tidak tempramen lagi tapi kenyataannya dia mengulangi lagi seperti dulu.
Semenjak aku mengandung Devan mas Gilang lebih menyayangi ku dan dia bersikap lemah lembut.
Tapi kehilangan Devan adalah hal yang sangat menyakitkan baginya.
Seandainya dia tahu kalo Devan bukan anak kandungnya mungkin dia akan membunuh ku.
"Aku ini ibunya aku juga kehilangan. Kenapa sih harus marah marah." Balasku.
"Kamu itu ngurus kerjaan aja. Ngak bisa ngurus anak sendiri." Bentak mas Gilang.
"Kalo belanja ajak Devan kan bisa." Bentak mas Gilang lagi.
Hati ku sungguh sakit mendengar kata kata mas Gilang. Wanita mana yang masih kuat jika suaminya sendiri tidak mempercayainya.
Bukannya aku mau perhitungan, seandainya aku tidak ikut mencari nafkah mungkin mas Gilang tidak bisa seperti ini. Padahal dulu uang belanja yang di kasih mas Gilang hanya cukup di belikan beras saja.
Aku yang sudah berusaha keras tidak pernah terlihat di depan mas Gilang , apalagi di depan keluarganya, aku hanya menjadi buah bibir. Untuk bahan cibiran saja.
Aku menoleh ke arah Dinda. Aku lihat kedua matanya memerah. Aku tahu Dinda menangis tapi yang lebih menyedihkan dia menyimpan tangisan itu dalam hatinya
Mas Gilang yang kembali temperamen membuat dia takut. Mungkin dia trauma melihat ayahnya seperti itu. Karena dulu mas Gilang sering berbuat kasar padaku.
__ADS_1
"Ayah boleh marah padaku. Tapi jangan bentak bentak di depan anak kecil. " Bentakku. Aku berusaha melindungi anakku.
Dinda hanya diam menyaksikan pertengkaran kami.
Aku memeluk putriku. dan mengusap usap rambutnya.
"Dinda ngak boleh takut ya. Dinda ngak bersalah koq." Mungkin dinda merasa bersalah karena waktu itu aku menitipkan adiknya ke dinda.
Padahal justru aku lah yang bersalah karena dia masih kecil tidak mempunyai kewajiban menjaga adiknya.
Aku mencium putri ku dan menenangkan hatinya.
"Aku takut buk." Dinda langsung menangis waktu itu. Air mata yang di simpan akhirnya tumpah juga.
"Dinda ngak bersalah koq, adik Devan baik baik saja."
Aku memeluk putriku dia duduk di pangkuanku.
Dia masih gadisku yang dulu, mungkin sekarang sudah beranjak dewasa. Karena Dinda aku masih kuat sampai hari ini.
"Ya Tuhan jagalah anak anakku."....
.....
.....
.....
__ADS_1