
" Bagaimana pekerjaan mu hari ini?." Ibu Siska menuang teh panas ke dalam gelas milik nya.
" Masih jalan di tempat Kak, pasien ku kali ini tidak mau aku ajak bicara. Aku pasti akan kesulitan jika pasien ku seperti ini terus." Dokter Rudy sedikit berkeluh kesah pada sang Kakak yang sudah lama pindah ke rumah milik nya. Kerena pekerjaan dan karena ingin membantu temannya.
" Iya itu lah tantangan yang harus kamu taklukan. Namun tidak ada yang tidak mungkin jika kamu sudah bertekad untuk mengerjakannya. Dan Kakak sangat percaya dengan kemampuan yang kamu miliki sebagai seorang Dokter." Ucap Ibu Riska menepuk pundak Dokter Rudy sambil meninggalkannya masuk ke dalam kamar karena ada yang ingin diambilnya.
" Sandra sudah tidur?." Dokter Rudy menoleh ke belakang dimana seorang wanita sedang berjalan kearahnya dan duduk di hadapannya.
" Mana Ibu Riska?." Wanita itu melihat gelas yang masih penuh dengan teh panas yang sudah mulai dingin.
" Ke dalam kamar, mungkin ada yang diambilnya." Dokter Rudy melihat ke arah kamar Kakak nya itu.
" Bagaimana kursus mu, Sarah?."
" Alhamdulilah lancar, mungkin dua bulan lagi aku akan bisa bekerja." Jawab Sarah.
" Kalau begitu kamu bisa bekerja bersama ku, kalau kamu nya mau?." Dokter Rudy begitu berantusias mengajak Sarah bekerja.
" Boleh juga tuh Sarah ide nya Rudy?. Jadi kamu enggak usah cari rumah sakit lain." Ibu Riska menimpali dan ikut gabung dengan mereka sembari meminum habis teh yang sudah dingin itu.
" Iya nanti aku pikirkan dulu Bu Riska. Takutnya ditentukan dari sana nya." Kilah Sarah.
Sebenarnya bukan tanpa alasan Sarah menolak ikut bekerja dengan Dokter Rudy. Cuma sejauh ini Dokter Rudy sudah menunjukkan ketertarikan pada dirinya. Sementara dirinya masih ingin menata hati dan kehidupannya bersama Sandra dan kedua adik nya, Doni dan Ratih.
__ADS_1
.
.
Mama Kemala, dan Lydia sudah sampai di kampung Sarah dan sedang menemui Mahen. Namun masih menunggu di ruang tunggu. Sebab Dokter Rudy belum datang visit siang ini. Yang akan di susul oleh Hafis yang berangkat langsung dari Hotel.
" Jangan lupa kamu bicara pada Mahen, pancing Mahen dengan menyebut nama Sarah atau calon bayi mereka jika nama Syifa sudah tidak berpengaruh pada Mahen." Mama Kemala kembali mengingatkan percakapan mereka sebelumnya.
" Iya Ma, aku tidak lupa dan akan aku mencobanya." Jawab Lydia, ia sudah harus menyiapkan mental untuk penolakan Mahen.
" Selamat siang Nyonya Kemala, Nyonya Lydia. Bapak Hafis." Sapa Dokter Rudy pada kedua wanita yang sudah menunggu dirinya dari tadi.
" Iya selamat siang Dokter Rudy. Baru sempat visit ya Dokter?" Balas Mama Kemala.
" Iya Nyonya Kemala, baru sempat visit. Pasien di rumah sakit lagi meningkat. Seperti nya akhir-akhir ini banyak yang mengabaikan kesehatannya." Balas Dokter Rudy.
" Lydia ingin bicara dengan suami nya. Apa bisa Dokter?." Mama Kemala memegang lengan Lydia dan memintanya bersiap.
" Baik Nyonya Kemala. Hanya Nyonya Lydia yang masuk ya?. Ucap Dokter Rudy memposisikan layar monitor menghadap dirinya.
" Iya Dokter hanya istri nya saja." Jawab Mama Kemala memastikan.
Mereka mengikuti Dokter Rudy yang sudah berjalan di depan mereka.
__ADS_1
" Hanya tiga puluh menit Nyonya Lydia waktu yang ada miliki untuk berbicara dengan Pak Mahen." Dokter Rudy memberitahukan pada Mahen terlebih dahulu sebelum meninggalkan Mahen dan Lydia di sana.
Dokter Rudy, Mama Kemala dan Hafis melihat interaksi keduanya dari balik kaca yang tembus pada jika dari luar. Namun mereka tidak bisa mendengar apa yang Lydia dan Mahen bicarakan.
" Bang Mahen " Panggil Lydia memposisikan duduk nya di sebelah Mahen.
" Bang bicaralah pada ku!. Sampai kapan Abang akan diam seperti ini?. Syifa sudah sangat merindukan Papi nya. Sudah banyak hal yang Abang janjikan pada Syifa. Jadi Abang harus menepatinya." Tatapan Lydia tidak lepas dari wajah Mahen yang tetap tampan walau penampilannya tidak terurus.
" Bukan hanya Abang saja yang merasa kehilangan. Kami juga Bang!, bahkan kami harus kehilangan banyak dari Abang. Ini Abang seperti sedang menghukum kami yang tidak tahu menahu dengan musibah yang sudah terjadi." Lanjut Lydia masih memperhatikan wajah datar Mahen yang belum ada perubahan sedikit pun.
" Bang sudah waktu nya Abang harus mengikhlaskan Sarah dan calon bayi Abang. Abang harus melanjutkan hidup, ada Mama Kemala, Papa Darwin, Syifa dan aku yang selalu berada di sisi Abang untuk melewati hal berat ini. Aku yakin perlahan Bang Mahen akan bisa melihat dan membuka hati lagi untuk ku. Sarah dan calon anak Abang pasti bahagia jika melihat Abang bahagia bersama ku dan Syifa. Dan aku akan selalu menunggu Abang untuk kembali pada ku." Respon yang baik cukup diberikan Mahen walau hanya dengan kepala yang menggeleng pelan. Seolah ia menolak apa yang dikatakan oleh Lydia.
Dan ternyata bukan hanya itu saja, Mahen menarik tubuh Lydia menjadi berdiri dan mendorongnya kearah pintu. Ia begitu tidak nyaman dengan keberadaan Lydia didekatnya terlebih dengan apa yang sudah dikatakannya.
Doktor Rudy langsung masuk dan meminta Lydia untuk segera keluar sebelum Mahen melakukan hal yang lebih mengerikan dari pada ini.
" Ayo Bang Mahen, terima kenyataan jika istri kedua Abang dan calon anak kalian sudah pergi untuk selamanya dari hidup Bang Mahen. Buka mata, hati dan pikiran Abang Mahen. Aku dan Syifa sangat mencintai mu Bang Mahen." Teriak Lydia saat dirinya dipaksa minta keluar oleh Dokter Rudy.
Hafis membantu mengeluarkan Lydia yang tiba-tiba saja mendekat pada Mahen dan menarik baju lusuh yang tidak pernah mau digantinya.
" Jangan siksa diri Bang Mahen seperti ini, Bang Mahen!." Teriak Lydia lagi. Tapi Mahen sudah tidak bisa mendengarnya sebab pintu nya sudah tertutup.
Lydia memeluk tubuh Mama Kemala. Ia mencurahkan kekecewaan atas penolakan Mahen yang kesekian kalinya.
__ADS_1
" Sampai kapan pun aku tidak akan bisa bersama Mahen lagi Ma. Mahen begitu mencintai Sarah dan calon bayi mereka. Itu dunia Mahen yang tidak bisa aku masuki Ma. Aku sudah sangat lelah, aku ingin menyerah Ma." Raungan Lydia begitu keras namun tidak menganggu siapa pun. Karena ruangan itu merupakan ruangan khusus yang di minta oleh Mama Kemala.
" Kamu harus kuat Lydia, hanya kamu yang mampu menggantikan Sarah dalam hidup Mahen. Hanya kamu wanita yang pantas untuk Mahen, hanya kamu wanita yang dijodohkan untuk Mahen. Sampai Tuhan saja mengambil Sarah dan calon bayi mereka. Itu kan kamu tahu artinya apa?. Karena memang mereka tidak berjodoh. Dan kamu lah jodoh nya Mahen yang sudah dikirimkan Tuhan untuk menemani hidup Mahen." Ucap Mama Kemala menyenangi Lydia dengan mengusap punggung dan kepala Lydia dengan sayang.