Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 108


__ADS_3

Satu bulan sudah mereka menempati rumah baru. Seperti biasa Mahen sudah bekerja setelah satu Minggu kepindahan mereka. Sebab sudah banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya setelah beberapa lama ia absen.


Doni dan Ratih bersekolah yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka, hingga bisa dijangkau dengan jalan kaki saja kurang lebih dua puluh menit. Hanya sesekali saja mereka diantarkan oleh Sarah, itu pun kalau hujan atau enggak kalau mereka sudah kesiangan. Padahal Mahen sudah memberikan mereka masing-masing satu sepeda motor, tapi untuk saat ini mereka belum terlalu membutuhkannya. Mengingat mereka sekolah di tempat yang sekarang semuanya dibiayai oleh Mahen. Jadi mereka harus pandai-pandai berhemat.


Syifa sudah masuk Play Group dan si kecil Sandra hanya ikut-ikut saja. Sarah yang setiap hari mengantarkan mereka, tidak lama Sarah berada di sekolah kedua anaknya yang masih kecil hanya tiga sampai empat saja setiap harinya.


Sekitar pukul sebelas siang Sarah sudah kembali ke rumah dengan kedua anaknya. Sarah langsung meminta si pintar Kakak Syifa untuk mengganti pakaiannya sendiri. Sedangkan si centil Sandra, Sarah yang masih harus menggantinya.


"Kakak sama Adik makan, habis makan langsung tidur." Sarah meletakkan dua piring di depan kedua anaknya.


Syifa dan Sandra diajarinya untuk makan sendiri walau masih sangat berantakan. Tapi Sarah cukup telaten mengajarinya.


"Iya Mama" Jawab keduanya serempak, Syifa mengacungkan ibu jarinya yang diikuti Sandra sambil tertawa geli karena belum bisa mengikuti ibu jari Kakak Ifa yang lentik.


Sarah tidak menyangka hari ini juga datang menghampiri kehidupannya. Setelah terpisah beberapa lama dari Syifa, kini penantiannya terbayar sudah. Melihat kedua putrinya tumbuh dengan sehat, berada dalam pengawasannya, bisa berkumpul setiap hari, melihatnya tertawa dan menangis bersama, sungguh harta yang tidak bisa dinilai dengan apa pun.


Syifa dan Sandra sudah tidur saat jam satu siang, karena ternyata Syifa memiliki PR yang harus dikerjakannya terlebih dulu. Kini Sarah sedang berkutat di dapur menyiapkan makanan untuk suami dan kedua adiknya. Kebahagiaan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Senyum itu tidak pernah hilang dari wajah cantik Sarah.


Sore ini Mahen yang sudah pulang lebah cepat sekitar pukul empat sore. Sarah menyambutnya dengan wajah yang sudah cantik, tubuh dan pakaian yang wangi, jangan lupakan senyum pepsodent nya.


"Sayang" Mahen melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang istri, mengendus ceruk leher yang begitu wangi.


"Bang Mahen" Sarah mencium takzim tangan suaminya.


"Kedua putri kecil ku mana?. Tumben tidak heboh menyambut Papinya pulang." Mahen mengedarkan pandangannya.


"Anak-anak masih tidur." Balas Sarah sambil mengajak Mahen untuk segera masuk ke dalam kamar.


"Doni dan Ratih belum terlihat?. Apa mereka belum pulang?." Tanya Mahen sebelum menutup pintu kamar dan menguncinya.


"Katanya mereka ada pelajaran tambahan paling sebentar lagi mereka pulang." Jawab Sarah membantu Mahen membuat semua pakaian yang melekat di tubuh Mahen.


"Abang mandi, setelah itu kita bangun kan anak-anak." Sarah mendorong tubuh Mahen yang sudah polos.

__ADS_1


"Sayang!" Mahen menunjuk miliknya yang sudah mengembang.


"Bisa, Abang tidur kan sendiri pakai air dingin." Sarah segera berlari keluar dari kamar. Tapi Sarah tidak tahu kalau Mahen sudah mengunci pintu kamarnya.


"Bang Mahen, aku aku sudah mandi, sudah cantik. Ah...." Mahen sudah memasukkan tangannya dan berhasil melepaskan pengait bra.


"Justru karena kamu sudah cantik, wangi aku jadi tambah ingin." Suara Mahen berubah dengan begitu cepat bersamaan dengan perubahan pada miliknya yang semakin mengembang dan berurat.


Bila sudah seperti ini Sarah tidak bisa menolaknya, ia membalas setiap sentuhan Mahen yang melenakan pada setiap inci tubuhnya.


Percintaan panas pun tidak bisa dihindari. Kala keduanya melebur diri menjadi satu. Gairah dan hasrat mereka tidak pernah surut apalagi padam. Justru semakin menggebu dan berkobar.


Usai dengan ritual setelah percintaan panas mereka, Mahen dan Sarah melihat Syifa dan Sandra yang sudah cantik ditangan Ratih.


"Papi" Teriak keduanya berhamburan pada Mahen.


"Wah Kakak Ifa dan Ade Sandra sudah cantik, wangi lagi." Mahen mengecup pucuk kepala Syifa dan Sandra bergantian.


"Udah bilang terima kasih belum sama Bibi Ratih?." Tanya Mahen pada keduanya. Dan mereka pun kompak menggelengkan kepala.


"Aacih"


Ucap keduanya dengan pengucapan yang berbeda, hingga Mahen, Sarah dan Ratih tersenyum.


"Sama-sama Kakak Ifa, Ade Sandra." Balas Ratih.


Semuanya berkumpul di teras depan sambil menikmati pemandangan sore hari. Mahen menerima secangkir teh panas dari tangan lentik milik Sarah.


Doni dan Ratih bermain puzzle bersama Sandra dan Syifa. Sedangkan Mahen dan Sarah berbincang santai. Membicarakan banyak hal tentang masa depan yang ingin dicapainya, pendidikan untuk kedua anak mereka, rencana untuk menambah momongan dan mempersiapkan Doni dan Ratih supaya bisa terjun ke dunia bisnis dan mulai belajar di perusahaan nya.


"Terima kasih untuk anak-anak yang lucu, cinta yang luar biasa, kesetiaan yang selalu terjaga dan semua yang pernah terjadi dalam rumah tangga kita, semuanya begitu berharga." Mahen mengecup pipi Sarah untuk beberapa saat kemudian menariknya supaya duduk di atas pangkuannya.


"Terima kasih untuk cinta yang luar biasa, pengorbanan yang tidak sedikit, perjuangan yang tidak ada lelahnya untuk aku dan anak-anak, untuk kesetiaan yang tetap terjaga walau kita sempat terpisah." Sarah pun mengecup pipi Mahen. Mengalungkan kedua tangan pada leher Mahen sambil berbisik.

__ADS_1


"Aku sangat mencintai mu, Bang Mahen"


Mahen menahan tengkuk Sarah dan menatap intens kedua matanya sambil berbisik tepat di bibir Sarah.


"Bang juga sangat mencintai mu, Sarah."


Melupakan keberadaan mereka berempat di dekatnya, Sarah dan Mahen saling berciuman untuk beberapa lama. Sampai mereka membuka mata, keempat orang tersebut sudah tidak ada sana.


Senyum penuh arti ditunjukkan keduanya dan Mahen segera menggendong tubuh ramping Sarah masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamar mereka.


"Jangan khawatirkan anak-anak, ada Doni dan Ratih yang menemani mereka." Mahen kembali membuka pakaian yang beberapa lalu dipakainya.


"Malam ini milik kita berdua!." Lanjut Mahen.


"Kita baru saja selesai mandi, Bang!." Sarah membuka pakaian terakhirnya.


"Kita akan selamanya seperti ini." Balas Mahen.


"Jangan pernah bosan pada Abang, walau nanti tubuh Abang tidak se-atletis ini lagi, banyak lipatan di sana sini, cintai Abang sampai selamanya." Mahen menyatukan tubuh yang sudah polos itu.


"Abang juga jangan pernah bosan pada ku, walau tubuh ku tidak indah lagi, banyak keriput dimana-mana, cintai aku juga selamanya." Sarah membisikan setiap kalimatnya tepat pada telinga Mahen.


Sarah dan Mahen menyatukan kembali tubuh mereka menjadi satu dengan cinta yang luar biasa yang ditunjukkan oleh keduanya.


.


.


*****TAMAT*****


Terima kasih untuk pembaca setia Suami ke dua (Sarah dan Mahen).


Terima kasih untuk support kawan-kawan selama ini berupa Like, Koment, Gift dan Vote.

__ADS_1


Terima kasih banyak 🙏🙏


__ADS_2