Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 104


__ADS_3

Saat hari masih sore, Mahen dan Sarah berpamitan pulang kembali ke Jakarta. Menyelesaikan masalah satu persatu untuk kedamaian dan ketenangan hidup mereka nantinya. Terlepas dari Dokter Rudy mau menerima atau tidak kenyataan Sarah dan Mahen saat ini. Hidup harus tetap terus berjalan dan maju ke depan.


"Kita langsung saja ke rumah Umi Fitri. Umi Fitri meminta kita menginap juga di rumah nya. Abang tidak keberatan kan?. Tanya Sarah menoleh kearah suaminya.


"Tidak masalah sayang, tapi kita malam sampai sana. Apa tidak masalah bagi mereka?." Tanya balik Mahen karena tidak enak juga kalau bertamu malam-malam.


"Tidak Bang, Umi Fitri memang sudah menunggu kita." Jelas Sarah begitu meyakinkan. Mendengar hal itu pun Mahen ikut saja apa kata Sarah.


Cukup melelahkan perjalanan mereka kali ini, sampai harus beberapa kali Mahen masuk rest area untuk mengistirahatkan tubuh yang tidak muda lagi. Namun tetap perkasa dengan stamina yang masih terjaga.


Kini mereka sampai juga di tempat tujuan yaitu rumah Umi Fitria dan Pak Arifin. Mereka sampai di sana sekitar pukul sebelas malam, tapi Umi Fitri masih terjaga sesuai dengan janjinya pada Sarah.


"Maafkan aku, Umi. Karena harus merepotkan Umi malam-malam begini." Sarah begitu terenyuh melihat wanita yang duduk di kursi roda itu senyum tulus pada nya dan Mahen.


"Tidurkan dulu Sandra di kamar tamu, kasihan pasti tidurnya sangat tidak nyaman." Titah Umi Fitri begitu perhatian pada putri kecil mereka.


"Terima kasih Umi." Balas Sarah dan Mahen bersaman dan mereka menidurkan Sarah di kamar yang sudah dipersiapkan.


"Kira-kira apa yang akan Umi Fitri bicarakan dengan kita ya, Bang?." Sarah mulai cemas dan takut dengan apa yang akan mereka bicarakan tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.


"Aku yakin jika melihat dari pembawaan Umi Fitri, ia cukup bijak dalam menyikapi setiap masalah. Buktinya pada kamu dan Abang, beliau tidak ikut campur sama sekali. Malah putranya yang sangat ikut campur." Ucap Mahen kesal. Namun itu tidak lama, sebab Sarah sudah membuatnya tenang dan happy kembali dengan memberikan ciuman pada bibir Mahen untuk beberapa saat sampai keduanya memutuskan untuk keluar dari kamar.

__ADS_1


Mahen dan Sarah menghentikan langkah kaki mereka saat mendengar Pak Arifin mengatakan sesuatu yang cukup membuat telinga mereka panas


"Kalau Ifin boleh tahu untuk apa Umi meminta mereka datang kemari?. Umi tahu kan kalau Ifin sedang memperjuangkan Sarah untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak Ifin nantinya. Cucu untuk Umi juga." Ifin masih ingin berjuang sebelum akhirnya ia benar-benar menyerah. Tidak seperti sekarang ini yang sudah menyerah padahal perjuangan dirinya baru saja akan dimulai.


"Umi tahu niat Ifin baik. Tapi akan menjadi tidak baik kalau Ifin mau memisahkan istri dari suami, anak dari Ayah nya. Ifin tidak senekat itu untuk melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang diinginkan." Umi Fitri tidak ingin jika sang putra kesayangan salah dalam mengambil jalan dan keputusan hanya karena wanita dan pernikahan. Memang Umi Fitri sangat berharap kalau Ifin akan secepatnya mendapatkan istri dan berkeluarga tapi tidak dengan jalan dan cara seperti yang sekarang akan ditempuhnya.


Ifin menatap wajah lembut dan teduh sang Ibu. Ada sedikit kekecewaan dalam raut wajahnya yang cantik dengan sikap nya yang sekarang ini. Tapi kadang hidup harus penuh dengan perjuangan baru bisa mendapatkan apa yang kita inginkan untuk menjadi pelengkap kehidupan.


"Apa iya Ifin harus melepaskan Sarah dan Sandra begitu saja pada Mahendra?." Ada begitu banyak perasaan tidak rela yang sedang berusaha ditepisnya demi sang Ibu tercinta.


"Melepaskan kadang lebih baik untuk kita dan orang lain. Dari pada harus memilikinya tapi kita tetap merasa terluka. Sebelum semuanya terlalu jauh, berikan restu mu pada Sarah dan suaminya untuk kembali bersama. Ifin juga belajar mencari wanita yang baik untuk Ifin dan semuanya." Umi Fitri tidak ingin melihat Ifin bersikap egois dengan melukai banyak orang.


"Iya Umi, akan Ifin penuhi apa yang menjadi permintaan Umi malam ini." Akhirnya rasa sayang pada Umi lebih besar dari pada rasa ingin memiliki Sarah dan Sandra sekaligus.


Mahen dan Sarah setelah mendengarkan panjang kali lebar percakapan antara Ibu dan anak itu. Keduanya menarik nafas dan menghembuskan perlahan sebelum akhirnya mereka ikut duduk bergabung dengan Umi dan Pak Arifin.


.


.


Sudah hampir jam sepuluh pagi saat Sarah, Sandra dan Mahen sampai di kantor. Yang rencananya mereka akan beristirahat sebentar dan nanti malam akan menemui Papa Darwin di rumah sakit.

__ADS_1


"Bagaimana perasaan mu sekarang, sayang?." Mahen meluruskan kedua kakinya dengan tubuh yang bersandar pada sofa. Mendekap Sarah sambil memperhatikan Sandra yang asyik bermain dengan beberapa boneka yang baru dibelinya dan ada hadiah juga dari Umi Fitri dan Pak Arifin.


"Sudah merasa tenang karena sudah mulai berkurang beban-beban ku, Bang. Namun masih ada yang cukup berat untuk aku hadapi yaitu Mama Kemala." Jujur Sarah sembari menatap manik mata Mahen. Ia tahu yang sekarang sedang bicarakan adalah kedua orang tua mereka.


"Semoga saja Papa bisa merubah watak Mama yang seperti itu. Supaya kita bisa tengah dalam menjalani rumah tangga ini kedepannya. Ada Syifa dan Sandra juga yang begitu sangat menginginkan keluarga yang utuh dan berlimpah kasih sayang." Mahen mengecup kening Sarah dengan penuh kasih sayang.


"Iya semoga saja Bang Mahen." Harap Sarah pada kedua orang tua Mahen yang menjadi orang tua juga. Dan Sarah harus mau berbesar hati untuk menerima semuanya.


Malam mulai menjelang, perjalanan Mahen dan Sarah pun sudah dimulai lebih awal. Karena Mahen sudah mempertimbangkan semuanya guna mempertemukan Sandra dan Sarah pada Papa Darwin terlebih dahulu setelahnya baru pada Mama Kemala dan yang lainnya.


Sarah menghentikan langkah kakinya saat sudah sampai di depan ruangan Papa Darwin.


"Kenapa?." Mahen mengelus punggung Sarah dan membawanya duduk pada kursi yang ada di sana.


"Abang bisa pastikan kalau Papa tidak ada hubungannya dengan semua yang sudah Mama lakukan pada mu dan kedua orang tua mu." Mahen menegaskan kembali jika itu yang ditakutkan oleh Sarah. Namun nyatanya bukan karena Sarah menggelengkan kepalanya lemah.


"Lalu apa?." Tanya Mahen dengan begitu sabar, ia juga tidak ingin memaksakan Sarah jika belum siap untuk bertemu dengan salah satu dari mereka.


"Apa Papa akan masih mau menerima ku?. Kalau tidak mau menerima ku lebih dikatakan saja terus terang supaya aku bisa mundur." Rupanya ketahuan Sarah begitu besar atas penolakan mereka yang begitu halus terhadap dirinya. Pertama dengan Hafis dan setelahnya kini bersama Mahen. Sarah tidak ingin ada kesedihan yang lain dan yang lainnya yang akan mewarnai perjalanan rumah tangganya nanti.


Mahen tampak berpikir sebelum ia membawa Sarah dan mempertemukan mereka kembali.

__ADS_1


"Bang Mahen..."


"Sarah?."


__ADS_2