
"Pagi sayang.
Pagi pagi sekali mas Adam sudah menelponku. Apa dia tidak punya kesibukan lain selain mengawasi handphoneku.
Padahal suamiku saja tidak pernah menanyakan kabar ku. Itu karena kami hidup bersama apa yang harus di tanyakan. Hampir dua puluh empat jam kami bersama.
Tidak ada hal yang perlu di khawatirkan mas Gilang karena dia selalu mengawasiku.
Beda dengan mas Adam seandainya terjadi sesuatu pada ku dia tidak bisa berbuat apa apa.
Pastinya mas Gilanglah yang menyelamatkan aku terlebih dahulu.
Ngak mungkin juga mas Adam langsung kesini karena dia berada jauh saat ini.
Meskipun kata kata cintanya yang membuat ku melayang setiap hari tidak dapat membantuku saat aku terjatuh. Mungkin hanya bisa bilang. "Kamu baik baik saja.
Aku tidak membalas ucapan mas Adam. Aku hanya saja sedang malas.
Karena yang aku ingin adalah dia berada di sini saat ini. Aku tidak butuh kata kata mutiaranya. Yang makin hari aku muak mendengarkan.
Seandainya bisa aku memilikinya. .....
Memang cinta itu harus berlaku bodoh. Padahal suamiku setia terus apa yang salah dengan nya hingga aku mengharapkan orang lain hadir dalam kehidupanku.
Seandainya bisa aku jelaskan sudah lama aku jelaskan.
Yaa di dunia ini banyak orang yang bodoh termasuk aku.
"Kenapa sayang"
"Nggak ada"
Aku masih bergelut dengan pikiranku. Mas Adam memberi barang barang yang aku butuhkan meski tidak mewah. Tapi nilai cukup di perhitungkan.
__ADS_1
Kemarin aku mengeluh handphone ku rusak besok paginya seorang kurir mengantarkan paketan berisi handphone.
Atau saat aku bilang lapar. Datang kurir antar makanan.
Saat ini aku menunggu kiriman sepeda matic meski tidak baru. Tapi mesinnya masih bagus.
Sementara mas Gilang saja sepeda motor nya masih nyicil kurang dua tahun lagi.
Suatu ketika saat aku mengeluhkan tentang keuangan. Tiba tiba rekeningku bertambah.
Jika seperti ini aku tidak jauh beda dengan seorang *******. Yang profesinya menjual diri dan memperoleh hasil dari itu.
Aaahhhhh aku hanya menghela nafas.
Entah apa nama nya hubunganku dengan mas Adam. Dia seperti suami ke dua ku. Dia memenuhi semua kebutuhanku.
Apa yang akan di pikirkan orang jika aku punya dua suami.
Terkadang pikiran orang sama dengan apa yang dilihat.
Walaupun terkadang sesak aku senang menjalaninya.
"Sibuk apa hari ini". Selidik mas Adam.
Dia selalu ingin tahu apa yang sedang aku lakukan. Dan aku ini seperti istrinya saja yang harus melaporkan kegiatanku.
"Nggak ada.
Aku memutuskan untuk istirahat di rumah. Masalah kerjaan aku bisa pantau dari rumah.
"Jaga kesehatan."
"Iya." Jawabku.
__ADS_1
Eeeee
"Kenapa?"
"Nggak ada. Kamu akhir akhir ini bertingkah laku seperti suami ku saja.
"Masa. Menurutku biasa biasa saja".
"Iya biasa mengajukan pertanyaan yang seharusnya di lakukan suamiku.
"Emang tidak boleh".
"Bukan itu maksudku". Jelasku.
"Ya udah kalo ngak boleh". Mas Adam ngambek.
"Nggak gitu juga. Maksudku".
Tuuut tuuttt
Belum sempat aku melanjutkan kata kata ke buru Mas Adam menutup telponnya.
"Yaa di matiin."
"Aku minta maaf sayang i love you".
Ku kirim pesan singkat kepada mas Adam.
Mas Adam tidak membalasnya dia hanya sekedar membaca.
Aku semakin gusar jika mas Adam tidak bisa membalas pesannya.
Apa yang salah dengan kata kata ku. Hingga dia harus marah padaku.
__ADS_1
"Yaa sudahlah.