Suami ke dua

Suami ke dua
Junior


__ADS_3

"Ada dimana."


Mas Adam tidak menjawab pertanyaan itu, dia sedikit diam.


"Iya Mas Ada urusan."


Mas Adam yang saat ini ada di pelukanku. Setiap seminggu sekali aku dan mas Adam bermesraan. Di villa baru kami.


Pertemuanku tidak pernah lama mungkin sekitar dua atau tiga jam. Tapi rutin setiap minggunya.


Padahal perjalanan dari kota ke tempatku sekitar dua jam. Aku hanya kesal pertemuanku tidak pernah lama.


"Siapa." Selidikiku.


"Kakakku."


"Ooo.


"Ayo kita balik." Ajak mas Adam.


"Aku masih kangen." Aku memeluk lelaki bertubuh besar itu.


"Iya kakakku sudah menunggu."


Aku selalu suka bermain main di antara dua laki laki yang aku cintai karena mereka memang mempunyai dua sisi yang berbeda.


Seperti ada tantangan untuk menaklukkan ke duanya


Jika tubuh mas Adam tinggi besar lain halnya dengan mas Gilang yang tinggi kurus. Namun keduanya selalu bisa membuatku bernafsu.


"Tanggung jawab." Seru mas Adam.


"Tanggung jawab apanya." Aku berlagak polos.


"Iya tanggung jawab karena kamu peluk peluk."

__ADS_1


"Bilang aja kalo mau nambah." Tudingku.


Mas Adam hanya cengar cengir. Setelah kami selesai bersih bersih. mas Adam mengantarkan ku pulang.


Ku lihat wajahnya yang sedikit pucat. Sambil ku letakkan telapak tangan di leher mas Adam. untuk mengetes suhu tubuhnya.


"Kamu baik baik aja kan." Selidikiku dengan sedikit cemas.


"Emang kenapa?"


"Badan kamu panas."


"Iya aku sedikit batuk dan pilek."


Di musim pancaroba seperti ini memang banyak orang yang mempunyai gejala sama seperti mas Adam.


"Kita periksa ke rumah sakit aja. Aku Takut penyakit berbahaya." Ajakku


"Iya."


"Mas perutku sakit sekali."


Sakit itu hilang kemudian datang lagi. Hingga berulang ulang terjadi.


"Jangan jangan aku kontraksi. Tapi belum genap sembilan bulan. Masa udah lahiran." Batinku.


Mas Adam tambah bingung melihat keadaanku. Disamping itu dia juga cemas.


"Padahal tujuannya mengobati mas Adam koq malah aku yang sakit." Gerutuku.


"Aku nggak apa apa mas. Mending kamu berobat dulu." Paksaku.


"Sepertinya yang sakit itu kamu. Jangan cerewet diam aja."


Mas Adam membawaku ke UGD. Setelah itu dokter memperiksaku dan di bantu beberapa perawat.

__ADS_1


"Ibunya harus di operasi pak. Karena udah kontraksi." Kata dokter terhadap mas Adam.


Mungkin dokter itu mengira mas Adam itu suamiku.


"Bapak lengkapi Administrasinya." Seru perawat itu.


Mas Adam begitu kebingungan. Jika dia mengisi formulir itu. Terus apa yang ada dalam pikiran Gilang.


Aku Terus menjerit kesakitan. " Mas sakit." Aku memegang tangan mas Adam."


"Ada apa mas kamu sepertinya bingung."


"Rumah sakit perlu tanda tangan suamimu untuk tindakan operasi."


Aku mencoba menghubungi suamiku. Mas Gilang pun langsung meluncur rumah sakit tempat aku di rawat kebetulan jarak dengan kerja mas Gilang cukup dekat.


Ku lihat mas Adam begitu gelisah. Mungkin ini pertama kalinya dia menghadapi orang yang mau melahirkan.


"Mas sakit."


Mas Adam masih menemaniku. Dia tidak bisa berbuat apa apa.


Setengah jam kemudian mas Gilang datang dia langsung menuju resepsionis. Dan menyelesaikan administrasinya.


Setelah semua lengkap Aku pun masuk ke ruangan operasi.


Menunggu dokter menyiapkan operasi. Aku berada di ruangan seorang diri. Aku masih juga memikirkan mas Adam. Karena dia juga sakit tapi tidak memikirkan keadaannya.


Hanya beberapa menit saja. Tindakan dokter sudah selesai. Begitu saja aku harus menunggu begitu lama.


Cuueeerrrrr ...... Aku mendengar tangisan bayi.


"Yaa Tuhan apa itu anakku. Apa dia baik baik saja." Aku hanya bisa mendengar tangisan itu. Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi. Karena efek bius yang membuat aku setengah sadar.


Tapi tubuh ku mati rasa. tidak bisa di gerakan.

__ADS_1


Aku hanya pasrah dengan apa yang terjadi.


__ADS_2