Suami ke dua

Suami ke dua
Ulang tahun.


__ADS_3

Dinda berada di rumah bosnya saat ini. Dinda begitu asing disana.


Tidak ada satu orang pun yang dia kenal. Satu satunya yang dinda kenal adalah bos nya. Dinda terus membuntuti bosnya, seperti bebek yang membuntuti induknya.


Dinda melihat sekeliling rumah semua tampak elegan. Tidak banyak warna yang di pakai di rumah ini. Namun kemegahannya tetap menonjol.


"Siapa dia pa..."


Mungkin itu istri si bos. Dia cantik sekali , batin Dinda. Meski terlihat jelas perbedaan umur yang terpaut jauh di antara keduanya.


Si bos memang tampan dia layak mendapatkan siapa saja. Sayangnya dia sudah berumur. "Haa haa. " Dinda mulai bercanda dalam hati.


"Ini asisten baru di kantor."


"Ooo."


"Nama kamu siapa?".


"Dinda bu...."


"Oh yaa Dinda kamu makan dulu. Kamu pasti capek pulang dari kantor."


"Iya bu." Istri si bos lembut sekali, gaya bahasanya tersusun rapi. Ngak kaya' ibuk dirumah, Suaranya kaya' gledek. Meski begitu aku kangen ibuk, Biasanya dia bangunkan aku di pagi hari atau hanya sekedar menyuapiku.


Ahhh gimana kabar ibuk yaa. Batin Dinda.


Dinda menghampiri anak si bos dan memberikan kadonya langsung.


"Terima kasih kakak."


"Nama kamu siapa." Dinda mencoba mendekati anak si bos.

__ADS_1


"Devan kak."


Deg........


"Yakin Devan."


"Iya kak.


Andai saja dia adik Dinda yang hilang sepuluh tahun lalu. Sudah lama kejadian itu terjadi, tapi masih hangat dalam ingatan Dinda.


Sudah lama Dinda mengharapkan seorang adik, namun takdir berkata lain.


"Boleh kakak memelukmu." Dinda tahu meminta hal yang berlebihan kepada anak si bos. Yang baru di kenal nya semenit lalu.


Devan tanpa aba aba memeluk Dinda. Tangan kecil itu memeluk Dinda dengan hangat.


Keduanya seakan melepaskan rindu yang tidak terbendung lagi.


Tanpa di sadari dinda larut dalam suasana itu. Air matanya tiba tiba membasahi pipi. Entah apa yang terjadi kepada Dinda. Seakan dia mengenal aroma anak laki laki itu.


"Hee e."


"Nama kakak siapa."


"Dinda."


"Kakak Dinda kenapa."


"Ngak apa apa." Dinda hanya membalas beberapa kata saja. Dia takut tidak bisa mengontrol emosinya.


"Devan sudah makan."

__ADS_1


"Belum kak. Dari tadi mama sibuk."


"Kakak ambilkan makanan ya. Sekalian kakak mau makan."


"Boleh kak."


"Kakak karyawannya papa ya."


"Iya." Jawab Dinda.


"Jangan kerja sama papa,kak"


"Emang kenapa."


"Nanti sibuk kaya' papa lho."


Sampai hari ini Dinda belum menanyakan siapa nama bos nya itu. Bagaimana bisa Dinda bisa berlaku sama seperti bosnya.


Baru kerja beberapa hari saja harus membuat Dinda memutar otak. Dinda harus beradaptasi dari lingkungan di desa dan kota.


Anak desa yang terbiasa dengan suasana pegunungan harus membiasakan dirinya dengan orang orang baru.


Memang tidak mudah tapi Dinda menjalani dengan sebaik baiknya. Dinda hanya ingat pesan ibunya harus bersikap jujur.


Tapi perkataan itu lebih mudah di ucapkan dari pada di terapkan.


"Kakak Kenapa.?" Tanya Devan.


"Ngak kenapa kenapa,. Kakak suapin ya. Devan kalo makan lama. Lihat makanan kakak sudah habis."


Beberapa sendok sudah mendarat di mulut kecil laki laki itu. Devan tidak pernah menolak permintaan Dinda.

__ADS_1


Anak kecil itu selalu setuju dengan apa yang di katakan Dinda.


"Devan kecil itu jika sudah besar akan sama tampan dengan Papanya." Ucap Dinda dalam hati. Disaat seperti ini Dinda masih bisa membandingkan seseorang.


__ADS_2