Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 101


__ADS_3

"Sarah sudah bersama Pak Mahen lagi ya?." Evi langsung saja menodong Erik dengan pertanyaan. Tapi walau pun begitu Evi tidak lupa sudah menyiapkan kopi dan makanan kalau misalkan Erik mau langsung makan. Bahkan tidak ada masalah jika Erik langsung ingin memakan dirinya juga. Itu maunya Evi supaya cepat bisa merasakan hamil dan memiliki anak.


"Aku enggak tahu sayang, apa mereka itu kembali bersama atau bagaimana?. Tapi yang jelas saat ini Sarah sedang bersama Bang Mahen dan Sandra tidur di kantor untuk dua hari ke depan." Jelas Erik seraya merapatkan bokongnya pada kursi, lalu menyeruput kopi panas yang sudah disiapkan istrinya.


"Mantap"


"Tahu dari mana kalau Sarah bersama lagi dengan Bang Mahen?." Tanya balik Erik.


Evi pun menceritakan Sarah yang mengiriminya pesan, mempertanyakan apa yang terjadi dengan Pak Darwin. Tadinya Evi pun tidak percaya kalau Sarah masih menyimpan nomor ponselnya. Padahal itu kan sudah lama, dikira Sarah sudah membuang semua yang berhubungan dengan Mahen. Lalu Evi memberanikan diri untuk menceritakan secara garis beras kehidupan Mahen setelah kepergian Sarah dan calon bayi mereka. Malah ia tidak sempet memberitahu kondisi Pak Darwin saat ini pada Sarah. Saking begitu bersemangatnya ingin mengembalikan kebahagian rumah tangga Sarah bersama Mahen.


"Ya udah biar Bang Mahen aja yang cerita soal Pak Darwin. Semoga saja apa yang kamu katakan pada Sarah bisa membuka hati Sarah lagi untuk Bang Mahen."


"Iya aku berharapnya seperti itu." Evi tidak ingin melihat Sarah gagal untuk yang kedua kalinya.


"Kamu enggak makan?." Evi menutup kembali makanannya kala Erik melepaskan pakaian Evi.


"Setelah ini aja makannya, biar banyak sekalian." Erik ingin juga seperti Rendy yang sudah membuat hamil Sari. Walau pun tidak harus secepatnya, ya kalau dikasih enggak ditolaknya.


.


.


"Sarah ada di kantor bersama Mas Mahen?." Sari mengelus perut kala calon anaknya bersama Rendy bergerak halus dalam perutnya.


"Iya seperti yang kamu dengar. Erik dan aku sudah menawarkan diri meminjami salah satu rumah kami. Tapi Bang Mahen tidak mau dan tepat memilih tinggal di kantor." Rendy ikut menempelkan tangannya pada perut sang istri.

__ADS_1


"Evi tahu?." Sari begitu ingin tahu cerita cinta Sarah dan Mahen yang begitu berliku. Berbeda dengan dirinya yang sekarang begitu tenang dan damai dalam menjalani kehidupan rumah tangga dan kehamilannya saat ini. Dan itu sangat di syukuri oleh Sari sudah bisa menikah dengan Rendy yang kembali begitu mencintainya bahkan sekarang semakin-semakin mencintainya dengan adanya kehadiran calon anak mereka.


"Mungkin Evi juga tahu. Sebab Erik sama seperti ku. Selalu bercerita pada pasangannya tentang Bang Mahen."Ucap Rendy yang diakhiri dengan tawa yang tertahan. Seolah mereka selalu menjadikan Mahen bahan ghibah kedua pasangan tersebut.


"Semoga aja Sarah dan Mas Mahen bisa kembali bersama apalagi sudah ada Sandra bersama mereka." Walau dulu Sari begitu mencintai Mahen, tapi tidak dengan sekarang saat ia sudah merasakan ketulusan dan kasih sayang yang diberikan dan ditunjukkan oleh Rendy pada dirinya dan keluarga dari Paman dan Bibi nya.


"Aamiin. Semoga saja mereka secepatnya menemukan kebahagian dan segera bisa menyelesaikan semua masalah yang menimpa mereka berdua." Rendy mengajak Sari untuk segera merebahkan tubuh, karena tidak ingin jika istrinya itu kelelahan.


.


"Bang jangan dilihat seperti itu, aku malu!." Sarah jadi serba salah sendiri sebab entah bagian mana dari tubuhnya yang bisa ditutupi dengan keduanya tangannya. Rasanya begitu malu tampil perdana dengan pakaian yang hampir tidak menutupi apa pun yang ada pada tubuhnya.


"Semuanya tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu." Mahen menanggalkan satu persatu pakaian yang melekat pada tubuhnya untuk mengimbangi Sarah yang masih salah tingkah dengan lingerie nya.


"Meski ini bukan hotel bintang lima atau kamar yang biasa kita pakai untuk tidur. Tapi percaya lah kita akan tetap menikmati dan bahkan sanggup mendapatkan sensasi yang sungguh luar biasa." Mahen mulai mengikis jarak keduanya. Kini posisi mereka sedang berada di dekat meja kerja Mahen. Sebab Sandra tidur di dalam kamar dalam ruangan itu.


Mahen mendorong lembut tubuh Sarah hingga terduduk di atas meja kerja. Keduanya saling berciuman dengan begitu lembut. Kedua tangan mereka tidak ada yang diam, sama-sama saling meraba, mengelus bagian tubuh yang sudah lama saling mereka rindukan.


Ciuman Mahen kini turun pada leher Sarah dan meninggalkan beberapa jejaknya di sana, turun lagi pada bagian tulang selangkanya. Berlama-lama di sana dan tidak lupa meninggalkan jejaknya juga sampai akhirnya mendaki salah satu gunung kembar milih Sarah dengan bibir dan mulutnya.


"Ughhh"


Tubuh Sarah begitu menggila dengan permainan Mahen yang silih berganti pada kedua gunung kembarnya. Terlebih lidah Mahen sudah bermain dengan bulatan kecil yang paling atas yang terlihat sudah menegang dengan sempurna.


"Berapa lama kamu menyusui Sandra?." Mahen menatap kedua ujung yang berwarna kecoklatan itu dan sesekali menggodanya dengan bibir dan lidah nya.

__ADS_1


"Satu tahun setangah Bang. Ahhh..." Sarah menarik kuat rambut Mahen hisapan Mahen begitu kuat pada dada nya.


"Ahhh...kamu sungguh luar biasa sayang." Mahen duduk pada kursi untuk mempermudah aksinya. Mahen mengelus kedua paha Sarah dengan bersamaan, Sarah sudah sangat terbakar gairah. Bahkan ia sudah tidak malu atau merasa canggung lagi pada suami nya itu. Tangan Mahen sudah mengelus inti tubuh Sarah yang sudah bahas.


"Abang juga sama sudah basah." Mahen menunjuk miliknya yang sudah mengeluarkan pelumas yang membasahi celana boxer nya.


Keduanya tertawa melihat milik dari mereka masing-masing yang sudah sangat menginginkan satu sama lain.


Sarah membantu Mahen melepaskan celana boxer Mahen saat Mahen berdiri. Terlihat milik Mahen yang sudah berdiri tegak sudah bersiap untuk memasuki inti tubuhnya.


"Ugghhhh...Ahhhh"


Suara desah keduanya saling bersautan seiring dengan penyatuan yang dilakukan oleh Mahen dan Sarah untuk pertama kalinya setelah perpisahan mereka dan kehadiran Sandra.


"Nikmat sekali sayang. Ah....."


Mahen menghentak, menghujam milik Sarah sangat begitu dalam sampai menyentuh titik terdalam dalam inti tubuhnya.


"Bang..Ah..."


Ini untuk pertama kalinya mereka bercinta di atas meja kerja Mahen dengan begitu liar dan buas.


Bukan hanya saja Mahen yang sangat liar dalam percintaan mereka kali ini akan tetapi Sarah juga. Ia begitu all out mengekspresikan semua nya pada Mahen.


Mahen tidak begitu saja memberikan pelepasan pada Sarah. Sebab ia ingin jika mereka merasakannya bersama-sama dan meledakkan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2