Suami ke dua

Suami ke dua
Makan Di Pinggir Jalan


__ADS_3

Pagi pagi sekali Dimas dan Dinda sudah berangkat ke kota. Semua tampak hening bukan karena hari yg masih gelap. Hanya semua orang tidak ingin saling sapa. Tapi mereka merasa seakan baik baik saja.


Dinda tidak mempertanyakan kabar ibunya atau


mempertanyakan mengapa dan kenapa ayahnya bisa begitu.


Hanya diam yang sedang di lakukan Dinda. Apalagi Dimas, Dia hanya sebuah tamu...


Setelah Dinda mencium tangan ibunya. Dia langsung membuka pintu mobil, berharap tidak ada drama lagi saat ini.


"Dinda..." Gilang memanggil putrinya.


Sedikit takut, Dinda kembali menuju ayahnya.


Dinda hanya diam dia tidak berani menatap ayahnya.


"Dinda tidak pamitan sama ayah." Gilang mengulurkan tangan kanannya.


Dinda hanya menurut saja apa yang di katakan ayahnya.


"Dinda berangkat dulu yah." Dinda sambil mencium tangan ayahnya.


Kemudian Gilang mencium putri cantik itu.


"Ayah sayang dulu nak." Lelaki temperamen itu kadang kadang bersikap lembut.


Putri mana yang tidak kegirangan di perlakukan seperti itu.


Dimas juga berpamitan dengan Gilang dan Rosa.


"Kita berangkat dulu om.. tante."


Dimas mengemudi dengan cepat. Karena hari masih esok, kendaraan masih sepi.

__ADS_1


Dinda tidak memulai pembicaraan, mungkin rasa ngantuk yang masih menemaninya saat ini.


"Din.."


"Iya pak."


Tentu saja dinda kaget, Dimas membuatnya tidak ngantuk lagi.


"Apa ayahmu memang seperti itu." Dimas memulai pembicaraan.


"Menurut pak Dimas." Dinda selalu bertanya balik, jika di beri pertanyaan.


Hari ini Dimas tidak ingin bertengkar dengan Dinda. Sudah kebiasaan Dinda untuk membuat orang lebih perpikir ulang jika bertanya. Dimas hanya ingin mengambil sedikit perhatian Dinda.


Sayangnya Dinda bukan orang yang suka basa basi. Atau orang yang akan bersedih setelah pertengkaran kedua orang tuanya. Drama mereka bagaikan tontonan yang biasa dia lihat.


Dinda tidak akan membantu ibunya untuk menyelesaikan masalah. Jika ibunya sendiri tidak meminta bantuan.


Terkadang kita tidak harus melewati batas. Jika


Karena setiap kubu mempunyai hal sensitif yang tidak perlu di sentuh.


Mmm


"Kenapa pak." Tanya Dinda.


Dimas mulai memahami keluarga Dinda. Semua akan terkejut jika melihat perdebatan di keluarga Dinda. Seperti perang dunia ke tiga yang mampir kesana. Tapi beberapa menit kemudian seakan tidak pernah terjadi sesuatu.


"Tidak ada Din."


"Kirain pak Dimas ingin menanyakan sesuatu." Sahut Dinda.


"Kalo iya, emang kamu mau jawab."

__ADS_1


"Ngak." Jawab Dinda pendek.


"Sudah aku duga."


Dimas melihat Dinda tersenyum. Hanya melihat senyuman Dinda saja. Dimas sudah merasa bahagia.


Apakah Dimas tidak hanya sekedar suka, mungkinkah rasa itu sudah dari itu.


"hiii hiii....


"Ada yang lucu." Tanya Dimas.


"Pak Dimas santai saja. Dinda dan ibuk baik baik saja. Pak Dimas tidak perlu khawatir. Ibuk orang yang kuat dia bisa mengatasi masalah sekecil ini." Urai Dinda.


"Kamu itu sok tahu Din. Aku hanya ingin ngajak kamu sarapan." Dimas mengalihkan pembicaraan, ternyata Dinda lebih dewasa dari pada umurnya.


Dimas semakin kagum, Dinda terlihat berbeda di bandingkan wanita wanita yang di kenal nya selama ini.


"Ayo pak."


"Kamu itu soal makan nomor satu."


"Saya belajar dari pak Dimas."


"Terserah kamu Din, kamu emang pintar ngeles."


"Haaa haaa... tuh pak Dimas tahu"


Dimas memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Setidaknya Dimas mengulur waktu agar bisa bersama Dinda.


"Asik makan gratis...


....

__ADS_1


....


...


__ADS_2