Suami ke dua

Suami ke dua
Bab 93


__ADS_3

Sandra sudah tidur pulas di samping Sarah yang masih menunggu rasa kantuk nya datang. Dengan memikirkan Mahen yang tidak datang memenuhi undangan Pak Arifin. Namun bukan hanya itu saja yang dipikirkan oleh Sarah, ada masih banyak lagi dan semuanya tengang Mahen.


Tok...Tok...Tok...


Telinga Sarah begitu peka untuk menangkap suara pintu rumah yang diketuknya berulang kali. Kaki jenjang nya menapaki lantai dan berjalan keluar kamar guna melihat siapa yang berada di balik pintu. Sarah menatap sekilas jam yang masih menunjukkan pukul delapan malam, mengira mungkin salah satu pelayan di rumah utama yang sudah mengetuk pintu rumah yang ditinggalinya.


" Bang Mahen " Gumam Sarah menatap lekat pria yang berdiri di depan nya dengan pakaian yang sudah basah semuanya.


Mahen menatap wanita yang ingin dipeluknya tapi itu hanya sebatas angan saja. Kenyataannya mereka hanya berdiri ditempatnya masing-masing.


" Apa Abang boleh masuk?." Tanya Mahen berhasil memecah kesunyian.


Sarah mengangguk mengiyakan dan membuka lebar daun pintu nya untuk Mahen.


" Sandra sudah tidur." Ucap Sarah kala melihat Mahen yang sepertinya mencari sosok si kecil Sandra.


Sarah menyerahkan handuk miliknya untuk Mahen, sebab ia tidak memiliki pakaian untuk pria atau kaos yang kebesaran.


Naluri nya sebagai seorang istri dan wanita yang tidak tega melihat suami dan orang yang masih sangat teramat istimewa dalam hidup nya kedinginan seperti itu. Akhirnya Sarah ke dapur untuk membuatkan teh hangat supaya bisa menghangatkan tubuh Mahen.


Tidak membutuhkan waktu lama teh hangat dan air putih hangat sudah dibawa ke hadapan Mahen dan Sarah langsung memintanya untuk segera di minum.


" Aku tidak memiliki pakaian pria atau pakaian lain yang seukuran dengan Bang Mahen." Gerutu Sarah sembari merasa panik kala mendapati Mahen sudah menggigil kedinginan.


" Ambilkan Abang selimut!." Suara Mahen sudah bergetar dengan bibir yang warna kebiruan.


Dengan Cepat Sarah berlari mengambil selimut yang diminta Mahen dan membawanya keluar untuk diserahkan pada Mahen.


Wajah Sarah merona kala melihat Mahen mulai membuka kemeja nya di depa Sarah. Otak Sarah sangat bekerja dengan cepat kalau untuk urusan yang seperti ini. Memikirkan tubuh kekar yang selalu berhasil membawa dirinya terbang ke nirwana sampai berulang kali. Yang beberapa tahun ini sangat ia rindukan.


Sarah membalik tubuh jadi membelakangi Mahen saat pria itu menurunkan celana panjang nya. Walau sudah sangat terlambat karena pikirannya tidak bisa ia kontrol dengan baik tentang suami nya itu.


" Abang belum makan Sarah, bisa kamu masak kan mie rebut untuk Abang sekarang?." Tanpa menjawab dan melihat Mahen Sarah segera ke dapur untuk membuat apa yang diminta oleh Mahen.


Kurang dari lima belas menit Sarah sudah membawa nampan berisi satu mangkuk mie rebus paket komplit dengan satu piring nasi hangat. Siapa tahu Mahen kelaparan dan mau makan nasi jadi Sarah sudah berinisiatif sendiri.

__ADS_1


" Ini Abang makan dulu." Sarah meletakkan nampan tersebut di atas meja depan Mahen.


Sarah melihat tubuh Mahen yang sudah terbalut selimut tebal. Sarah pun mengambil pakaian Mahen yang basah dan menaruhnya pada keranjang pakaian kotor.


" Temani Abang makan Sarah!." Pinta Mahen dengan wajah yang memelas kala melihat Sarah hendak berlalu dari sana.


" Nanti aku kesini lagi, aku mau melihat Sandra." Sarah tetap meninggalkan Mahen di sana dengan makanan yang sudah disiapkan.


Sarah duduk dipinggiran tempat tidur, menatap Sandra yang begitu nyenyak dalam tidur nya. Ditambah lagi dengan hujan yang semakin deras dan tebalnya selimut untuk menghangatkan tubuh Sandra.


" Papi sudah datang menemui kita. Sandra mau tahu Papi kan?. Ayo sekarang bangun!. Papi ada di rumah ini bersama kita sekarang." Bisik Sarah di telinga Sandra. Ia tidak memikirkan besok akan seperti apa jika orang lain tahu kalau ada Mahen di rumah itu. Terlebih lagi Umi Fitri dan Pak Arifin.


Sarah menepati janji nya untuk keluar lagi setelah Sandra tidak berhasil ia bangun kan.


Mangkuk dan piring nya sudah kosong yang artinya itu Mahen sudah menghabiskan keduanya tanpa ditemani oleh Sarah. Berarti Sarah cukup lama berada di dalam kamar atau Mahen yang terlalu cepat untuk menghabiskan mie dan nasi nya.


" Abang mau nambah?." Sarah berdiri dengan tangan memegang nampan.


Mahen menggeleng menolaknya, " Tidak Sarah, terima kasih."


Hening untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap dalam diam. Menyampaikan rasa yang masih sama lewat tatapan mata keduanya.


" Bang Mahen "


" Sarah "


Panggil keduanya bersamaan, suasana terasa canggung dan kikuk. Lantas keduanya pun kembali diam tidak ada yang memulai pembicaraan.


Karena melihat Sarah yang sudah menguap beberapa kali, akhirnya Mahen meminta Sarah untuk tidur dan besok lagi mereka bicara. Mengingat hal itu Sarah akan menjelaskan semuanya besok pada Umi Fitri dan Pak Arifin.


Sarah memberikan bantal dan guling untuk Mahen pakai tidur di atas sofa yang sebenarnya tidak cukup untuk Mahen. Tapi hanya itu yang bisa Sarah lakukan saat ini pada suami nya itu.


Pikiran yang selalu tertuju pada Mahen hingga tidak bisa membuat Sarah tertidur dengan cepat walau keduanya sudah sangat mengantuk. Namun pada akhirnya bisa Sarah paksakan untuk tidur juga.


Sementara itu di luar kamar, Mahen juga tidak bisa tidur. Memikirkan banyak hal sampai ia bisa ditempat ini dimana ia satu atap dengan sang istri walau terpisah ruang.

__ADS_1


Perlahan Mahen bangun dan menuju pintu kamar Sarah yang ternyata tidak dikuncinya. Seperti mendapatkan angin segar, Mahen langsung saja masuk untuk melihat Sarah dan Sandra tanpa mengganggu nya.


Ada rasa bahagia yang menyeruak masuk ke dalam hatinya yang dingin setelah mereka harus terpisah lama. Tangan Mahen terulur membelai wajah yang sudah lama dicari, dirindukannya keberadaannya. Kini pandangan dan tangan nya berpindah pada si mungil Sandra yang sudah sangat dinanti kehadirannya. Air mata itu sudah tidak di bendung Mahen, menciumi wajah Sandra sampai Sandra merasa terganggu dengan kelakuan Mahen.


Kedua mata indah Sandra membulat sempurna mendapati seorang pria yang baru dilihat untuk pertama kali nya. Wajah nya yang menggemaskan dengan senyum lebar dari bibir mungilnya membuat Mahen tidak bisa untuk tidak menggendongnya.


" Sandra "


Mahen menciumi wajah Sandra berulang kali tanpa perlawanan. Seolah Sandra tahu yang sedang melakukan itu adalah Papi nya. Orang yang baru sekarang memeluk, menggendong dan mencium nya sayang seperti sekarang.


" Pa-pi "


" Pa-pi "


Panggil Sandra berulang kali mengusap wajah tampan Mahen. Baru kali pertama Sandra bisa bicara dengan jelas itu pun menyebut nama Papi nya


Sarah semakin terganggu dengan suara berisik antara Ayah dan Anak tesebut. Sampai ia terbangun dan memicingkan matanya.


" Bang Mahen "


" Sandra "


" Pa-pi "


Sarah begitu senang dengan Sandra yang sudah bisa memanggil Mahen Pa-pi. Padahal selama ini Sandra lebih cendrung malas untuk berbicara. Termasuk selama berinteraksi dengan Ibu Riska, Dokter Rudy, Pak Arifin dan Umi Fitri.


Tubuh kekar Mahen sudah tidak tertutup selimut lagi hingga Sarah kesulitan untuk menelan saliva nya sendiri.


" Sarah " Suara Mahen kembali menyadarkan pikiran Sarah yang mulai berkelana.


" Maaf kalau Abang ganggu waktu tidur kamu dan Sarah."


" Tidak apa-apa Bang Mahen."


Ketiga nya pun kini bermain di atas tempat tidur yang sama, senyum terlihat jelas pada wajah Mahen dan Sarah serta Sandra dengan diiringi suara gemericik hujan.

__ADS_1


__ADS_2