
Mas Gilang masih diam. Dia betah tidak memandangku berhari hari dalam keadaan marah seperti ini. Mas Gilang tidak minum kopi yang aku buat. Atau apapun yang aku sediakan.
"Ayah makan ya."
Aku takut suamiku sakit. Sejak kemarin dia tidak mau makan. Karena mas Gilang sering sakit lambung. Batinku." Kalo marah padaku, Marah aja, tapi jangan menyakiti dirimu sendiri."
Hanya dengan menghisap rokok jadi teman nya saat ini. Entah berapa bungkus yang sudah di habiskan.
Mas Gilang membawa maticnya. Dia berlaju dengan cepat. Sepagi ini dia meninggalkan rumah. Bagi mas Gilang ini bukan pagi lagi karena semalaman dia tidak tidur.
.....
Aku mencoba menelepon mas Adam. Setelah beberapa kali. Akhirnya dia mengangkat juga.
"Sayang Devan baik baik aja."
Aduh ... Mas Adam di saat sepanik ini dia masih bisa membuat aku melayang.
Batinku."Panggil namaku saja itu cukup bagiku. Kalo kamu seperti ini bagaimana bisa aku melupakanmu."
"Mas boleh aku lihat Devan." Pintaku.
Mas Adam mengarahkan handphonenya ke Devan.
"Halo sayang."
Devan kegirangan melihatku. Seandainya aku bisa melompat. sekarang juga aku ingin memeluk putra kecilku. Tanpanya sehari saja sudah membuatku gila. Setiap hari dia tidur di pelukanku. Tapi sekarang dia tidak lagi bersamaku. Seakan separuh diriku hilang.
"Mas harusnya kamu bilang jika ingin mengambil Devan."
"Maaf aku sayang .... tapi bukan aku."
"Terus siapa."
Mas Adam hanya diam harusnya kamu tunjuk saja siapa dia. Bukannya menutupi keburukan mereka.
__ADS_1
"Lalu bagaimana bisa Devan bisa bersamamu."
"Sayang kamu makin hari makin cantik." Mas Adam memujiku atau dia ingin mengalihkan pembicaraan.
"Ahhh bohong banget." Aku selalu sadar siapa aku. Aku hanya wanita desa.
"Bener."
"Mas aku serius."
Sudah lama aku dan mas Adam tidak saling ejek. Inilah mas Adam yang aku kenal. Dia yang selalu bisa menghiburku. Meski dalam masa sulit dia selalu mengkuatkanku.
Jika dibandingkan dengan mas Gilang yang selalu menyalahkan aku dalam setiap permasalahan.
"Aku juga serius sayang."
"Mas tolong kembalikan Devan padaku." Pintaku.
"Maaf sayang..... aku tidak bisa. Sebaiknya Devan bersamaku. Dia lebih aman bersamaku."
"Mungkin ini jalan terbaik untuk kita semua.."
"Maksud kamu !!!! untuk kita. Bukannya untuk kamu." Aku Mulai kesal.
"Kamu kan sudah punya Dinda. sedang istriku !!!! dia belum mengandung sampai saat ini."
"Jadi maksud kamu . Aku harus merelakan anakku demi istri kamu."
"Bukan begitu sayang."
Sayang .... sayang kalo kamu sayang aku. Kamu tidak akan menyakiti aku mas. "Gerutu dalam hatiku.
"Aku Ingin anak ku kembali." Aku mendesak mas Adam.
"Tidak sayang. Devan juga anakku " Mas Adam menolak.
__ADS_1
"Ooo itu artinya kamu yang mengambil Devan dariku."
"Ngak mungkin aku menyakiti anakku sendiri."
"Kalo bukan kamu terus siapa."
Mas Adam kembali diam. Mas memang tidak suka jika di disudutkan dengan beberapa pertanyaan.
"Sudah ya aku tutup telponnya."
Mas Adam memang sengaja menghindar.
"Atau mungkin mamanya Ayu." Tuding ku.
"Sudah ya aku tutup telponnya."
Tut. ... tut .....
"Mas....
"Mas .....
"Mas aku belum selesai bicara." Aku membanting handphoneku ke kasur.
Mas Adam selalu menghindar menyebalkan. Mungkinkah mamanya Ayu yang menculik anakku. Karena dulu dia pernah menemuiku.
Mengapa wanita terhormat seperti dia mampu melakukan hal yang tidak pantas dia lakukan.
Mas Adam kenapa kamu menutupi kejahatan mereka. Mas kenapa kamu jadi orang baik. yang akhirnya kamu sendiri yang menerima getahnya.
....
........
.....
__ADS_1