Suami ke dua

Suami ke dua
Benarkah mata batin ibunya kuat


__ADS_3

Beberapa pesan dari mas Adam aku terima.


Setiap pesan yang di kirim selalu membuatku tersenyum.


Apalagi kalau mas Adam sehari saja tidak mengirimkan pesan, Seharian aku akan murung. Padahal mas Adam hanya mengirimkan stiker, Namun aku bahagia bagaikan mendapatkan arisan yang di kocok ibu ibu.


"Pagi sayang."


Aku selalu bahagia jika mas Adam menghubungiku terlebih dahulu.


"Iya.."


"Gimana kabarmu?."


"Baik mas, Dinda gimana kabarnya?"


"Ada sedikit kecelakaan mengenai Dinda. Tapi dia baik baik saja. Jadi kamu ngak perlu khawatir."


"Terus apa dia baik baik saja."


"Iya."


"Sayang aku akan buat hotel di tempat kamu. Sepertinya di sana udaranya sejuk dan dekat pariwisata."


"Bagus mas." Aku selalu mendukung mas Adam. Tentu dia sudah memikirkannya dengan baik.


"Aku akan memberi nama "D&D" bagus ngak."


"Bagus tapi artinya." Rosa bertanya kepada kekasihnya.


"Dinda dan Devan."

__ADS_1


"Kalo itu artinya aku tidak suka, ganti aja yang lain mas."


"Emang kenapa." Tanya Adam.


"Kamu berlebihan mas, harusnya kamu kasih nama istri kamu." Aku menolaknya. Karena mas Adam sudah memberikan yang lebih untuk aku. Aku tidak bisa membalas kebaikannya sampai saat ini.


Mas Adam sudah mencintaiku saja, aku sudah bahagia. Yang lebih tidak aku sukai lagi adalah jika Ayu mengetahui. Mungkin dia akan pingsan melihat kelakuan suaminya.


"Itu artinya aku benar benar menyayangimu. Ini hanya apresiasiku karena kamu yang ada di sisiku hingga saat ini." Jelas Adam.


"Bukan kah yang berada disisimu saat ini adalah istrimu."


"Beda! kalo Ayu datang saat aku sudah punya uang. Dia tidak tahu perjuanganku dulu." Mas Adam mencoba membandingkan aku dengan istri nya.


"Sama saja mas. Kamu tidak boleh mengecilkan hati istrimu sendiri. Lihatlah yang sekarang dia begitu sabar menghadapimu."


"Tapi kamu yang mendukungku saat aku belum punya apa apa. Saat aku belum punya sepeda, aku naik angkutan umum kesana kemari. Saat aku masih tinggal di rumah kos, memompa air hanya untuk Ke kamar kecil. Atau saat aku tidak punya uang, aku menjadi buruh ketik." Mas Adam mengulik masa lalunya.


"Udahlah. Kamu itu di kasih tau malah begitu." Nada mas Adam ketus.


"Mas ... mas..."


Mas Adam menutup telepon nya tut... tut...


"Yaaach mas Adam marah." Ternyata orang yang aku pikir dewasa. Terkadang bersikap seperti anak kecil.


Aku tahu mas Adam tetap mengambil idenya sendiri. Entah aku setuju atau tidak. Aku larangpun tidak ada gunanya.


Padahal mas Adam adalah orang yang lembut. Tapi dia akan bersikap keras, jika menurut pendapatnya benar.


.......

__ADS_1


"Assalamualaikum iya buk. Ada apa." Dinda mengangkat telpon dari ibunya.


"Ada apa... ada apa."


"Dinda masih di kantor buk."


"Apa kamu baik baik saja." Tanya ibunya.


"Dinda baik baik saja koq. Tumben ibuk telpon di jam kerja seperti ini."


"Perasaan ibuk ngak enak sayang. Apa benar kamu baik baik saja." Jelas ibunya."


"Iya buk." Dinda hanya tidak ingin melihat ibunya khawatir. Dinda hanya heran kenapa ibunya bisa tahu keadaan Dinda saat ini. Apakah hanya kebetulan semata. Dan apakah mata batin ibunya sekuat itu.


"Kamu kalo kerja hati hati ya sayang. Jaga diri baik baik."


"Iya buk"


"Jangan lupa makan."


"Iya buk."


"Tidurnya jangan malam malam."


"Iya buk."


.....


....


....

__ADS_1


__ADS_2