
"Sayang... maaf, maaf..". lirih Alfian
Lelaki itu tidak berbohong jika ia benar-benar khawatir, Alfian takut jika Tiara kecewa, Alfian tidak siap untuk kehilangan Tiara, tidak akan pernah siap.
Tiara masih terdiam dan Alfian masih terus menggenggam erat tangan nya
"Sayang maaf ya yang tadi". lirih Alfian lagi
Tiara nampak menghela nafas nya, lalu ia membalas genggaman erat Alfian dengan mulut yang masih terdiam, sejenak mereka berdua saling terdiam, sampai akhir nya Alfian lebih dulu melepaskan tangan nya, berganti untuk menangkup kedua pipi Tiara.
Alfian menatap tepat di kedua manik bola mata Tiara
"sayang kamu boleh marahin aku, kamu boleh ngelakuin apa-apa, tapi kamu gk boleh ninggalin aku, aku minta maaf atas kejadian tadi..". ujar Alfian tulus
Tiara hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Alfian, Tiara sendiri bingung, kenapa sebegitu benci nya Tante Wati terhadap diri nya.
"sayang...". Panggil Alfian lagi, Lelaki itu benar-benar khawatir karena kekasih nya itu hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun
"Tiara sayang, bilang sama aku, Aku takut kamu diam kayak gini terus".
tenggorokan Tiara merasa tercekat, lalu tanpa di duga ia memeluk Alfian dengan erat dan lama sampai akhir nya ia ketiduran.
perlahan Tiara membuka mata nya yang terasa berat, pandangan nya juga perlahan mulai jelas.
Tiara bangun dari ranjang dan melihat ke arah sekitar, dia berada di dalam kamar yang entah milik siapa.
Tiara baru ingat jika tadi dia terlelap ketiduran di pelukan Alfian.
menurut nya semua yang terjadi bukan salah Alfian, tapi pria itu merasa sangat bersalah karena orang yang mengenyakiti Tiara berasal dari keluarga nya, meski Tiara terlihat baik baik saja.
bisa saja Tiara melawan, tapi terlalu banyak hal yang ia pikirkan jika melakukan itu. bagaimanapun Tante Wati adalah kakak kandung dari Bunda Elisa, jika Tiara melawan dia khawatir pertengkaran itu malah akan semakin besar dan runyam.
Tiara menoleh ke arah pintu saat mendengar suara pintu perlahan terbuka, senyum nya terbit saat melihat seseprang yang muncul dari balik pintu adalah Bunda Elisa.
"Sayang udah bangun? ". Tanya Bunda Elisa berjalan menghampiri Tiara
"Maafin Tiara ya Bunda, Tiara jadi numpang tidur di sini". Sahut Tiara
"nggak apa-apa lebih baik Kalau kamu nginep sekalian di sini". Ucap Bunda Elisa duduk di sisi tempat tidur berhadapan dengan Tiara
" Alfian di mana Bunda? ". tanya Tiara
" ada, dia lagi ngobrol sama kakek nya". Ujar Bunda Elisa dengan senyum lembut
__ADS_1
perlahan wanita paruh baya itu mengambil tangan Tiara untuk di genggam erat, sorot mata nya tiba tiba berubah menjadi Sendu.
"Maafkan keluarga bunda ya sayang". ucap nya dengan suara bergetar
"ini bukan salah bunda". ujar Tiara membalas genggaman erat pada tangan Bunda Elisa
" enggak sayang, harus nya mereka nggak usah datang, Harus nya juga mereka nggak ngacau dan nyakitin hati kamu". ujar Bunda Elisa menggelengkan kepala dengan air mata yang jatuh dari kedua mata nya
"Bunda... Bunda nggak nyangka kalau Mbak Wati melewati batas kayak gini, Bunda malu sama keluarga Ayah Damar, Bunda juga malu sama kamu, maaf ya..".
"Bunda.. ini Bukan salah bunda". Ujar Tiara mencoba menenangkan
"sejak dulu Bunda udah sering makan hati, tapi nama nya kakak sendiri udah nggak boleh memutus tali persaudaraan, Tante Wati itu kakak paling tua di keluarga Bunda, dia yang paling di manja, paling di anak emaskan, paling enggak mau kalah sama adik-adik nya...". Bunda Elisa menghela nafas mencoba menguatkan diri nya sendiri meskipun air mata terus mengalir di pipi nya
Meski Bunda Elisa dari kalangan orang menengah ke atas, namun ada cerita pedih yang ia lalu di masa kecil nya. orang tua yang terlalu pilih kasih dan membeda bedakan, sehingga membentuk mental anak menjadi egois dan mau menang sendiri.
"sampai Bunda berjodoh sama ayah Damar, Tante Wati yang posisi nya udah nikah juga ngerasa keberatan. Alasan nya karena penghasilan suami nya yang jauh lebih kecil di bawah Ayah Damar, sampai akhir nya Tante Wati mau berdamai dengan Ayah Damar dengan syarat harus membantu bisnis Tante Wati. Bahkan sempat anak adik tante yang lain juga di larang hamil, karena Anggita anak nya belum hamil juga. terus hari ini Bunda nggak nyangka kalau Mbak Wati nyakitin kamu, Bunda minta maaf ya Sayang". ujar Bunda Elisa menjelaskan kepahitan hidup nya dulu
air mata mengalir dari kedua pipi Bunda Elisa, Tiara memilih memajukan tubuh nya dan memeluk Bunda Elisa.
...****************...
"Mas Al.. aku tahu kalau janda gatal itu yang godain Mas Al kan! aku tahu kalau Mas Al itu sebenar nya punya perasaan sama aku, jujur aja Mas! nggak mungkin Mas nggak punya perasaan sama aku. kita berdua kan udah kenal lama dan tiba tiba mas menikah begitu saja!!. Mas Al juga tahu sendiri, kalau aku suka sama Mas Al.. atau Janda gatal itu sudah hamil, terus dia minta mas Al untuk tanggung jawab, Mas jangan percaya begitu aja kalau dia....". Cerocos Nita panjang lebar tapi langsung di potong oleh Alfian
"nggak! pasti janda gatal itu sudah menjebak Mas, nggak mungkin Mas Al tiba-tiba menikah dan nggak mungkin juga Mas Al mau sama wanita janda rendahan kayak dia!!". Ucapan Nita tak kalah tinggi
" Pergi kamu dari rumah ini Nita!!!". suara Bunda Elisa terdengar begitu tinggi menghampiri Alfian dan juga wanita yang kini berada di dapur
"Saya bilang pergi kamu dari rumah ini!!!". tegas Bunda Elisa mengusir Nita sekali lagi
"tante...". ucap Niita kembali menggeleng, wanita itu tidak percaya, mata nya kini berkaca-kaca mendengar apa yang keluar dari mulut Bunda Elisa.
"kamu itu bukan Tamu saya, selama ini saya sudah cukup sabar menghadapi kamu, Saya hanya bersikap sopan, tapi kamu malah menanggap hal lain, Keluar kamu dari rumah ini!! sejak awal kehadiran kamu tidak pernah saya harapkan, keluar!!!!". Bentak Bunda Elisa
Bunda Elisa kini tidak peduli dengan amarah kakak nya, sudah cukup segala hal menyakitkan dia terima dari keegoisan kakak nya.
dengan air mata yang berjatuhan Nita melangkah pergi, nafas Bunda Elisa masih memburu.
Ia baru saja keluar dari kamar Tiara, rencana nya ia akan mengambil minum dan buah ke dapur untuk di berikan nya kepada Tiara, tapi ternyata saat di dapur dia mendengar hal yang menjadi biang masalah nya.
"Bunda?". Panggil Alfian memastikan keadaan Bunda nya itu
"Bunda..".
__ADS_1
"udah sayang, kamu temani Tiara ya, dia udah bangun". ucap Bunda Elisa menatap lembut Sang putra, seolah meyakinkan bahwa dia memang baik-baik saja.
Alfia pun menghela nafas nya, jelas dia tahu bagaimana kondisi sang Bunda, lalu Alfian melangkah pergi dari dapur menuju tempat di mana Tiara berada
...****************...
Kini Bunda Elisa Tengah di rangkul oleh ayah Damar, bukan hal baru Ayah Damar melihat pertengkaran sang istri dengan kakak kandung nya sendiri, sejak dulu Istri nya selalu berada di pihak yang selalu mengalah dan di salahkan.
" Elisa!!!!". dengan wajah penuh amarah Tante Wati menghampiri Bunda Elisa dan ayah Damar
"apa-apaan kamu, mengusir Nita, lihat Nita nangis, dia marah gara gara kamu!". bentak tante Wati
"Mbak, bisa nggak berhenti untuk nyalain istri saya". tegas Ayah Damar
"Heh!! Kamu itu cuma ipar, saya ini lagi bicara sama adik saya yang nggak punya otak ini!!".
"Mbak Wati!!". Geram Bunda Elisa
kini ditatap nya Tante Wati dengan tatapan penuh amarah, kesabaran nya sudah habis saat ini. setelah anak nya yang menjadi korban, kini suami nya turut di salahkan, dia tidak akan bisa terima.
"Apa?!! Mbak tanya kenapa kamu ngusir Nita begitu aja, kalau dia bilang sama orang tua nya gimana?? Terus orang tua nya marah gimana?!".
"itu urusan Mbak, Nita bukan tamu di sini, dia juga bukan tamu yang di undang! ". tegas Bunda Elisa
" Nita, dia calon nya Alfian! dari dulu begitu nggak pernah berubah! ".
" Enggak! cuma Tiara calon Alfian". Ujar Bunda Elisa tak kalah sengit
"b0doh kamu, Jadi ibu nggak mikir nikah sama janda bikin malu keluarga saja! ".
"Mbak yang bikin malu, dari dulu mbak yang bikin malu keluarga, Mbak itu beban keluarga". Ujar Bunda Elisa dengan air mata kembali mengalir di kedua pipi nya
" dari dulu, dari orang tua kita masih ada. Mbak selalu saja jadi beban buat keluarga, Mbak benar-benar manusia dengan hati yang paling kotor, Elisa udah nggak peduli lagi, meskipun Mbak itu Mbak kandung Elisa. Elisa sendiri udah nggak kuat punya saudara macam Mbak, jadi tolong jangan usik keluarga Elisa dan jangan ikut campur urusan Alfian, mbak yang punya urusan sama Nita, jadi jangan bawa-bawa Alfian! Elisa lebih tahu apa yang terbaik buat Alfian, Mbak urus aja Anggita!". ucap Bunda Elisa panjang lebar
"jangan ngajarin Mbak! Anggita baik-baik aja, hidup dia, rumah tangga dia, semua nya baik-baik aja". Sahut Tante Wati
"nggak! Mbak tahu kan kalau Anggita nggak baik-baik aja, Elisa tahu kalau Anggita Itu korban kekerasan, tapi sama Mbak di bungkam, Mbak maksa dia buat enggak cerai dari suami nya walau suami nya dari keluarga kaya, tapi sadar Mbak, Anggita itu anak mbak, jaga anak sendiri jangan ngurusin Alfian".
"kamu benar-benar kurang ajar Elisa, berani kamu lawan Mbak!!!". Geram Tante Wati
"kenapa enggak? Elisa sendiri sudah capek Mbak injak-injak terus, selama ini Elisa sabar tapi sekarang Mbak udah usik anak dan juga suami Elisa, Elisa gk Terima,Elisa yang bakal maju paling depan untuk lawan Mbak!! lagi pula Mbak harus nya sadar diri, Mbak sama keluarga Mbak bisa apa kalau bukan sokongan dana dari ayah nya Alfian!! jadi berhenti usik keluarga Elisa, sekalian Elisa minta Mbak susul Nita, Mbak pergi dari rumah ini karena Mbak bikin malu Elisa aja, pergi!!!". bentak Bunda Elisa membungkam Tante Wati
Kini bunda Elisa tidak akan bersabar dan tidak hanya diam saja jika keluarga nya di usik, ia akan siap melindungi keluarga nya. Siapa bilang sebagai ibu dan istri tidak bisa melindungi? kebahagiaan keluarga nya tidak boleh di usik oleh siapapun!
__ADS_1