Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Bunga Pinjaman 10%


__ADS_3

Malam ini Manda, Bu Ningsih, Rio, dan juga Alex sudah bersiap siap untuk pergi ke rumah Bude Tatik untuk menggadaikan sertifikat rumah mereka, kebetulan Manda sendiri sudah menghubungi Bude Tatik dan mereka sudah janjian malam ini.


Mereka berempat akhir nya menaiki mobil yang di bawa oleh Rio, Manda pun menunjukan jalan yang harus mereka lewati untuk sampai pada rumah sang renteiner itu. Karena Manda sendiri juga sudah tahu di mana rumah Bude Tatik, maka nya dia begitu mudah mengarahkan Rio untuk melewati jalanan yang mana.


Di dalam hati ketiga orang yang berada di mobil itu dengan kompak berdoa, agar pinjaman mereka kali ini di setujui dan cair dalam waktu yang dekat. Kalau bisa mereka berharap hari ini juga cair, karena apa? Besok Rio sudah harus menyetorkan uang hantaran itu kepada keluarga Mawar


Mobil yang di tumpangi Manda, Rio, Bu Ningsih dan juga Alex itu memasuki rumah yang terlihat begitu besar, rumah itu berpagar tinggi dan terletak di pinggir jalan raya, yang mereka tahu harga tanah nya saja tentu tidak murah.


Sekali lihat saja siapapun pasti tahu kalau yang mempunyai rumah ini adalah orang kaya, Bu Ningsih saja sampai terkagum kagum dan memukul punggung Manda secara refleks karena merasa sangat takjub melihat rumah yang megah ini.


"Gila ya Mand, rumah nya ini loh bagus banget". Ujar Bu Ningsih deng ekspresi yang mengagumi bangunan megah di depan nya.


"Ya iya lah Bu, nama nya juga dia orang kaya. Dia mau bikin rumah sebagus ini mah gampang buat dia, uang nya gk berseri". Jawab Manda


Setelah berbicara dengan salah satu penjaga yang berdiri di sana, Manda sekeluarga akhir nya di perbolehkan masuk. Lagi lagi ke empat orang itu terkagum kagum melihat interior yang ada di dalam rumah itu, rumah itu bernuansa modern, dengan hiasan hiasan yang juga modern sehingga memperindah ruangan itu.


Setelah mereka masuk dan mendudukkan diri di kursi sofa yang terlihat sangat mahal itu, seorsng wanita bertubuh kurus keluar dari dalam. Kulit nya yang sawo matang dengan roll rambut yang masih berada di kepala nya dan raut wajah yang datar menambah kesan jika wanita itu terlihat sedikit menyeramkan.


"Yang mana yang nama nya Manda? Yang tadi sore menghubungi saya di telpon?". Tanya Bude Tatik memulai obrolan


"Saya Bu yang bernama Manda". Sahut Manda


"Langsung saja apa yang kamu ingin kan?". Ujar Bude Tatik dengan tatapan tegas


"Begini Bu, niat kami semua ke sini untuk meminjam uang dengan jaminan nya adalah sertifikat rumah kami". Ujar Manda seraya menyerahkan sertifikat yang memang sudah mereka bawa tadi


Bude Tatik kemudian mengambil sertifikat itu dan membaca nya secara teliti dan sedetail mugkin dengan tatapan yang tajam, tak lama kemudian dia mengangkat wajah nya dan menatap ke empat orang yang ada di sana dengan pandangan menilai.


"Sertifikat ini atas nama Bu Ningsih, yang mana nama nya Bu Ningsih? Karena saya tidak akan meminjamkan uang jika yang mempunyai sertifikat ini tidak datang langsung ke sini!". Ujar Bude Tatik dengan nada tegas

__ADS_1


"Oh, Saya Bu. Saya nama nya Ningsih". Ujar Bu Ningsih seraya mengangkat tangan nya dan tersenyum canggung ke arah Bude Tatik


"Saya mengizinkan anak saya untuk meminjam uang kepada Ibu, karena uang ini akan kami gunakan untuk membangun usaha bersama". Ujar Bu Ningsih lagi


Bude Tatik hanya mengangguk anggukan kepala nya, dia belum mengeluarkan sepatah katapun karena dia masih menimbang dan juga menilai. Setelah itu dia kembali menatap Manda dengan pandangan yang lebih bersahabat.


"Berapa yang kalian ingin pinjam dengan menggadaikan sertifikat ini?". Ujar Bude Tatik bertanya dengan nada ingin tahu


Bu Ningsih dan juga Manda saling berpandangan, mereka berdua langsung menatap ke arah Rio. Lelaki itu hanya bisa mengangkat bahu nya, karena dia memang menyerahkan semua nya kepada Ibu dan Kakak nya.


Karena yang ada di fikiran Rio saat ini yang terpenting bisa menikahi Mawar, dan dia tidak mau ambil pusing dengan jumlah pinjaman yang sedang di pertanyakan


"Kami mau pinjam dua ratus juta saja Bu, Bisa?". Ucap Manda dengan penuh hati hati


Bude Tatik terlihat berfikir, namun tak lama kemudian dia memanggil seseorang dengan nada tinggi


"Don, Doni". Teriak Bude Tatik


"Ada Apa Mbak, kenapa Manggil aku gitu?". Tanya Doni


Bude Tatik langsung memberikan sertifikat yang berada di tangan nya kepada Doni, dengan sigap lelaki itu segera mengambil nya dan membaca sertifikat itu dengan seksama.


Manda , dan juga Bu Ningsih diam diam menelan ludah karena gugup, takut kalau kalau Bude Tatik tidak mau meminjam kan nya uang. Karena bagaimana pun juga Bude Tatik lah harapan mereka satu satu nya


Sedangkan Rio sendiri juga tengah harap harap cemas, dia menatap Bude Tatik dengan tatapan permohonan. Namun tetap saja Renteiner kelas kakap seperti Bude Tatik ini tidak bisa di rayu dengan tatapan memelas seperti itu


Sudsh sangat banyak Bude Tatik menghadapi orang orang yang membutuhkan uang seperti keluarga Rio saat ini, dan selama ini Bude Tatik tidak pernah terpengaruh dengan bisnis yang di geluti berurusan dengan uang. Jadi dia harus selektif dan pintar dalam memilih peminjam.


"Berapa harga yang kita berikan?". Tanya Bude Tatik kepada Doni

__ADS_1


"Hemmm dua ratus juta seperti nya bisa". Ujar Doni


Mereka berempat pun langsung mengembangkan senyum nya karena akan berhasil mendapatkan uang itu, mereka menatap ke Bude Tatik dengan wajah sumringah.


"Lalu kapan kami akan mendapatkan uang nya?". Ujar Manda dengan cepat


"Hem Seperti nya besok siang kalian sudah bisa mengambil uang nya". Jawab Bude Tatik


"Tapi kalian semua ini sudah tahu kan, kalau pinjaman ini bukanlah pinjaman biasa?". Tanya Bude Tatik kemudian


"Tahu Bu, Kami tahu kok". Ujar Manda mengangguk dengan cepat


"Bagus kalau sudah tahu, tetapi walaupun begitu tetap saja harus saya jelaskan". Sahut Bude Tatik sengaja menjeda perkataan nya


" Pinjaman saya ini di kenai bunga 10% setiap bulan nya, jadi semisal nya kalian meminjam dua ratus juta kalian wajib membayar saya dengan nominal sebanyak dua puluh juta. Tentu nya itu hanya bunga nya saja, tidak di potong dari pinjaman pokok nya. Jadi pinjaman pokok kalian tetap utuh sebanyak dua ratus juta, jika kalian meminjam uang dua ratus juta selama enam bulan, maka selama enam bulan itu kalian akan membayar dua puluh juta kepada saya perbulan nya. Dan di bulan ke enam, kalian wajib mengembalikan uang saya utuh sebanyak dua ratus juta!". Ujar Bude Tatik menjelaskan dengan tegas


Ke empat orang yang berada di sana kompak langsung menelan ludah dengan susah payah, saat mendengar pinjaman itu berbunya sebanyak 10% perbulan nya, jujur nyali mereka langsung menciut padahal tadi wajah mereka sudah sumringah karena akan mendapatkan uang itu


Bagaimana tidak? Jika mereka meminjam uang sebanyak dua ratus juta, maka itu artinya setiap bulan mereka harus membayar bunga sebanyak dua puluh juta kepada Bude Tatik. Sedangkan pinjaman yang mereka ambil tetap utuh nominal nya.


Jika tidak terdesak, Maka Bu Ningsih bersumpah tidak akan pernah berurusan dengan renteiner seperti ini.


Melihat lihat wajah keraguan dari ke empat orang yang berada di depan nya saat ini, Bude Tatik kemudian menyungginggkan seringai kecil seraya menyilangkan kedua tangan nya di depan dada dengan menetap mereka dengan tatapan tajam.


"Saya memang sudah mematok bunga sebanyak 10%, jadi kalau kalian tidak mau dan akan membatalkan pinjaman ini maka saya tidak masalah". Ujar Bude Tatik dengan santai


Tentu saja Bu Ningsih dan juga Manda tidak berani menyahut, karena walaupun mereka berdua keberatanbdengan banyak nya bunga yang di patok oleh renteiner itu, tetapi tetap saja mereka memang sangat membutuhkan uang itu saat ini.


"Ya sudah, begini saja. Kalian fikirkan dulu malam ini, kalau memang kalian berniat untuk meminjam dan tekad kalian sudah bulat kalian bisa menyampaikan hal ini langsung kepada saya, dan saya akan segera memyediakan uang nya". Ujar Bude Tatik memberi solusi

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu Bu, kami fikirkan terlebih dahulu malam ini". Ujar Manda dengan cepat


Mereka berempat pun kemudian berpamitan, di jalan tak ada obrolan yang terjadi, mereka semua sedang larut dengan pemikiran mereka masing masing.


__ADS_2