Suami Pelit Istri Pamit

Suami Pelit Istri Pamit
Sebuah Berlian


__ADS_3

Di sebuah sudut restoran mewah tengah berkumpul delapan orang ibu ibu dari berbeda kalangan, hanya satu kesamaan yang mereka miliki saat ini yaitu berupa uang. Ibu ibu itu tengah melakukan Arisan, Kegiatan Rutin untuk kumpul kumpul mereka.


Dari salah satu Ibu ibu itu terdapat sosok Bu Ningsih yang ikut bergabung di sana, semenjak Rio bekerja sebagai manager Bu Ningsih memang seringkali mengikuti arisan geng sosialita yang memamerkan kekayaan nya. Padahal Bu Ningsih sendiri sekarang hidup nya serba terbatas dan kekurangan, namum demi menjaga gengsi nya dia tetap berpura pura seolah olah dia masih keluarga kaya.


Jika di dengar pada topik pembahasan perkumpulan ibu ibu ini tidak ada obrolan yang bermanfaat, apa yang keluar dari mulut ibu ibu ini hanyalah tengang ajang pamer menyombingkan diri masing masing.


"Bulan ini saya belum ada rencana sih buat ke luar negeri, cuma kan anak saya udah kasih saya perhiasan mahal, jadi saya gk apa apa di ganti itu jeng". Bu Ningsih menjawab teman arisan nya tentang rencana liburan ke luar negeri, padahal Bu Ningsih sendiri saja tidak pernah ke luar negeri dan perhiasan yang dia pamerkan itu dari hasil kemarin meminjam uang dari Renteiner


"Kalau saya sih rencana nya mau ke Paris jeng, itu hadiah dari suami saya. Kalau anak mah saya masih tetep di kasih perhiasan!" Ujar Ibu Ibu berbaju warna navy menimpali, Bu Rahmah istri dari pemilik showroom mobil besar


"Ya tapi kan perhiasan nya gk semahal punya saya ini jeng". Ujar Bu Ningsih tidak mau kalah


"Wah hebat sekali ya anak nya Jeng Ningsih, jabatan manager sampek bisa bahagiain orang tua. Boleh dong kapan kapan kita mampir ke rumah Jeng Ningsih". Ujar wanita berpakaian cokla bernama soraya, istri dari seorang direktur di perusahaan milik negara


Bu Ningsih yang mendengar itu langsung gelagapan, pasal nya sekarang Rio sudah di pecat dari kantor dan sekarang aktivitas nya hanya menganggur di rumah.


"Hemmm Boleh, kapan kapan ya jeng". Jawab Bu Ningsih


"Oh ya jeng, terus gimana menantu? Udah dapet yang oke belum? denger denger anak Jeng Ningsih mau nikah lagi ya, jangan sampai saya salip nih". Kali ini Ibu berpakaian pink menyahut, Ibu Rini, pemilik butik yang lumayan terkenal di kota


Bu Ningsih langsung mengibaskan tangan nya dan tersenyum ke arah Bu Rini


"Udah dong, dari pas sebelum cerai kan udah punya. Cantik, pinter, mandiri, meskipun bapak nya kaya seorang kepala desa, dia tetep bekerja, asal usul nya jelas. Nih saya kasih nasihat buat Jeng Rini, jangan sampai kejadian saya terjadi sama Bu Rini".


"Yang menantu pertama Jeng ningsih Ya?". Ujar Soraya


"Iya, jangan sampai bego nya anak saya di contoh, bertahun tahun menikah kepala saya mau pecah karena mikirin menantu yang gk jelas yg bisa nya cuma ngabisin uang anak saya aja apalagi Mandul gk bisa kasih saya cucu. Jangan sampai deh kejadian saya di rasain sama kalian semua jeng, gk akan kuat, bisa stress punya menantu seperti itu". Ujar Bu Ningsih panjang lebar menjelek jelekan sosok Tiara


"Tapi Jeng, saya lihat di TV dan Informasi nya sudah beredar kalau menantu jeng Ningsih ini Tiara dari keluarga Mahesa kan? Yang punya perusahaan terbesar di kota ini?". Ujar Soraya seraya tersenyum sinis kala melihat sikap Bu Ningsih saat ini, karena mereka semua tahu betapa sombong nya Bu Ningsih, bahkan wanita paruh baya itu sangat suka merendahkan orang

__ADS_1


Lagi dan lagi Bu Ningsih gelagapan, bagaimana bisa teman teman nya tahu? Ahh Bu Ningsih baru ingat jika waktu itu perusahaan Tiara kan di sorot kamera dan di tayangkan secara live di televisi


{Akkhh Sialan emang Tiara itu, bisa bisa turun harga diriku di depan Ibu ibu ini kalau tahu aku melepas menantu yang kaya. Padahal aku sendiri kan juga gk tahu kalau dia kaya, coba saja dia ngomong pasti aku akan baik baikin dia. Emang sialan Tiara itu} Batin Bu Ningsih


"Aduhh jeng, warisan orang tua mah gk ada apa apa nya sama calon menantu saya yang sekarang! Dia itu Mandiri gk ngandelin harta orang tua, Calon menantu saya sekarang bagaikan sebongkah emas jeng, sangat bernilai dan gk semua orang bisa punya". Ujar Bu Ningsih berkilah


Baru selesai Bu Ningsih berbicara, fokus orang orang di meja mereka teralihkan karena sosok yang baru saja lewat dan mengisi meja lain, terhalang dua meja saja dari meja mereka. Sosok itu terlihat begitu cantik dan anggun meskipun tidak muda lagi


"Ya ampun cantik banget, Ibu Ellisa kan? Dari keluarga Wijaya? Aduuhh ternyata cantik banget ya asli nya!". Ujar Ibu berpakaian hitam, Ibu Risma, yang sejak tadi hanya menjadi pendengar kini bersuara mengatakan ketakjuban nya


"Iya Ellisa Wijaya, duh suami saya pengen banget kerja sama dengan perusahan nya, tapi susah nya minta ampun loh jeng". Kali ini istri dari pengusaha bernama Sarah bersuara


"Duh, dari pakaian nya, tas, sepatu, sampe make up yang di pakai sempurna banget ya. Itu tuh tas nya milyaran jeng, duhh orang kok bisa kaya nya kebangetan!". Rini tidak ketinggalan memuji


Bu Ningsih masih meneliti sosok yang sedang mencuri perhatian para ibu ibu, Bu Ningsih juga tahu semua yang menempel di tubuh wanita yang mungkin seumuran dengan nya itu sangat mahal dan mewah. Memang terlihat sederhana, tapi harga nya berkelas.


"Duuh keren banget gk sih jeng kalau mbak Elisa bisa bergabung sama kita, bisa aja jadi pintu buat kita sama suami, biar bisa di kenal orang orang kaya yang uang nya gk akan ada habis habis nya!". Ujar Soraya berandai andai


Baru saja Bu Ningsih hendak bangkit dari tempat duduk nya, sosok lain muncul dan seketika langsung membuat nya emosi, sedangkan yang lain nya hanya menatap bingung kehadiran sosok itu.


"Jeng, itu mantan menantu Jeng Ningsih kan, ada janji ketemu ya?". Tanya Rini


"Dih ngapain saya janjian ketemu sama dia, gak penting!". Kesal Bu Ningsih bangkit dengan cepat dari kursi duduk nya, seraya berjalan untuk menghadang Tiara


Tiara sendiri nampak terkejut dengan aksi Bu Ningsih yang menghadang nya saat ini, bahkan wanita itu sampai memundurkan langkah nya. Saat Tiara melangkahkan kaki nya ke dalam resto, dia tidak sadar jika di dalam resto tersebut ada mantan Ibu Mertua nya.


"Mau ngapain kamu ke sini hah? Kamu ngikutin saya ya? Bisa gk kamu jangan ngikutin saya, kita sudah tidak ada urusan lagi Tiara!. Oh saya tahu..". Ujar Bu Ningsih sengaja menjeda kalimat nya seraya tersenyum remeh ke arah Tiara


"Kamu mau balikan lagi kan sama Rio? Kamu datang ke sini, mau mohon mohon kepada saya supaya bantuin kamu? Cihh, jangan mimpi!". Lanjut Bu Ningsih dengan geram, beruntung resto cukup sepi jadi tidak menarik banyak perhatian

__ADS_1


"Dengar ya kamu..".


"Ada apa ini?".


Ucapan Bu Ningsih terpotong, fokus nya dan yang lain langsung teralihkan kepada sosok Ellisa Wijaya yang menghampiri mereka.


"Bunda". Sapa Tiara


"Jangan panggil saya Bunda!". Teriak Bu Ningsih membentak Tiara


"Siapa kamu berani membentak Calon Menantu Saya!". Geram Bunda Ellisa yang membuat suasana yang hening menjadi keterkejutan dari wajah Ibu Ibu bermunculan


"Calon Menantu?". Ujar Bu Ningsih tidak percaya


"Iya Tiara Putti Mahesa, calon menantu Keluarga Wijaya! Lancang sekali kamu bentak dan marahin Tiara! Memang nya kamu siapa?". Ujar Bunda Ellisa yang tidak terima dengan apa yang di lakukan Bu Ningsih


Tapi yang nama nya Bu Ningsih, sikap Bebal dan tak tahu malu nya keluar. Wanita paruh baya itu malah menatap dengan tatapan seolah olah sedang mengejek Tiara


"Ohh, jadi karena ini alasan mu mau bersedia cerai dari anak ku karena sudah mendapatkan mangsa yang empuk untuk kau kuras harta nya wanita sialan, hati hati nyonya wanita ini ular yang sangat berbisa dia bisa mematuk anda lalu mengeruk semua harta keluarga anda!". Ujar Bu Ningsih berupaya mengompori Bunda Ellisa, agar wanita paruh baya itu tak suka dan mengurungkan niat nya menjadikan Tiara menantu keluarga Wijaya


"Bunda, tenang ya Bun". Ujar Tiara seraya mengusap usap punggung Bunda dari Alvian itu agar lebih tenang


"Sudah ya Bun, sebaik nya kita pergi saja dari sini". Ujar Tiara seraya merangkul Bunda Ellisa untuk pergi dari sana.


Bahkan manager restoran tersebut langsung memghampiri dan memohon maaf kepada Bunda Ellisa dan juga Tiara atas apa yang terjadi, dan berharap mereka berdua tidak kapok untuk datang lagi.


Di sisi lain, di meja yang sebelum nya ramai dengan pembicaraan banyak topik, kini terasa sunyi karena terkejut.


"Jeng!". Ujar Soraya memecah keheningan, Bu Ningsih dengan perasaan kesal langsung menolehkan kepala nya

__ADS_1


"Maaf Loh ya jeng, memang Jeng sebut calon menantu Jeng yang baru adalah sebongkah emas. Tapi mantan menantu Jeng Ningsih adalah Berlian, bahkan ukuran nya jauh lebih besar di banding calon menantu Jeng Ningsih". Celetuk Rini yang dalam hati merasa senang karena bisa menyentil ego Bu Ningsih. Tapi sebenar nya, jika di bandingkan dengan anak keluarga Mahesa, calon menantu Bu Ningsih sekarang hanyalah sebuah batu kali. Hanya saja saat ini Bu Ningsih masih bisa menahan mulut nya untuk tidak emosi dan mengeluarkan kata yang sangat tidak pantas


__ADS_2